Setelah dari Dunkirk

dunkirk-trailer

Pada Jumat malam ini di Dunkirk, saya membatin, Christopher Nolan memang menaruh perhatian besar pada (konsep) waktu. Setelah Memento, Inception, Interstellar, lalu kini di Dunkirk, dia kembali menekuk-nekuk waktu. Seolah dia tak rela memisahkan terlalu jauh antara yang lampau dengan yang sekarang.

Sebab, pada akhirnya, seperti ucap seorang penyair, jarak menghadirkan rasa, dan kombinasi keduanya membuat rindu.

Bicara soal waktu, dalam satu minggu terakhir ini, saya sendiri selalu berurusan dengan ‘waktu’. Minggu kemarin, misalnya, ada reuni dengan teman-teman dan guru-guru semasa SMA pasca 16 tahun kelulusan kami. Tentu saja banyak yang berubah. Walau begitu, banyak juga yang tidak berubah. Yang pasti, saya selalu merasa bahwa pertemuan kembali mampu memompa semangat dan menyambungkan lagi mimpi-mimpi yang sudah lewat.

Menyenangkan.

Juga pada Jumat siang tadi, setelah beberapa kali direncanakan tapi batal, saya akhirnya bisa bertemu lagi dengan Mba Mira di kantornya. Kami mengobrol panjang lebar.

Seperti biasa, Mba Mira selalu bicara dengan antusiasme tinggi, meski pita suaranya belum sembuh benar. Saya jadi khawatir. Dalam obrolan itu, saya menanyakan beberapa hal seputar sejarah, salah satunya tentang proyek Chairil. Dia sempat berujar satu hal dengan nada seperti setengah bercanda.

Tapi kemudian dia bilang, “Eh tapi itu off the record, ya?” Lalu cengar-cengir.

Sempat pula bersua dengan Mas Riri. “Angga Rulianto,” sapanya.

“Wah, baru potong rambut, mas,” saya membalas.

Selalu senang kalau bertemu dan mengobrol dengan dua orang kreator Kuldesak ini.

Oh ya, di kantor Miles, saya juga sejenak mengobrol dengan Aga alias Wregas. Kata Mba Mira, ia tengah disibukkan dengan pre-development. Entah pre-development apa. Selagi berbincang, Aga sempat menyelipkan pertanyaan, “Gimana, suka enggak lo sama Filkop 2?” Jawaban pendek saya bikin Aga heran.

Bertemu tiga orang ini, ada memori muncul. Tentang AADC 2 dan satu jam duduk di meja bundar bersama Dian, Asti dan Nico. Setahun yang lalu.

Pada Jumat malam yang makin melarut ini, dalam perjalanan pulang di bus kota yang dingin dan tak padat penumpang, duduklah saya di pojok kanan belakang. Persis di samping kaca.

Mulailah saya melakukan kebiasaan lama. Memperhatikan seisi bus yang banyak asyik dengan gawainya masing-masing. Saya bermenung-menung. Kalau saya hidup di tahun 1950-an, barangkali polah saya ini sudah mirip seniman senen yang ajaib-ajaib itu.

Saya seketika teringat seorang kawan lama yang entah sudah ke mana. Sudah lama juga tak berjumpa dengannya. Dahulu, dia suka mengomentari kebiasaan saya yang suka bermenung-menung di dalam bus. Rindu juga untuk berbincang ngalor-ngidul dengannya.

Mendadak, dalam kepala muncul satu larik dari sajak karangan penyair yang dipanuti banyak orang.

“Malam akan menganga dan kau menjadi gema.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s