Hapus

delete-1727486_1280
copyright: pixabay

Beberapa bulan terakhir, saya sering menghapus (definisi KBBI: tidak terdapat atau tidak terlihat lagi; hilang; musnah; lenyap; diampuni). Lalu, kemarin, saya membaca pernyataan Onghokham ini:

“Sering pada saya ditanyakan sebagai sejarawan, apa orang dapat belajar dari sejarah? Jawaban saya selalu, ‘sayang rupanya tidak’, sebab kalau kita dapat belajar dari sejarah maka kita semua akan lebih bahagia dan sentosa” (halaman 93 dalam buku Migrasi Cina, Kapitalisme Cina dan Anti Cina).

Benar juga sih, menghapus tidak (serta-merta) bikin bahagia, apalagi sentosa. Ha-ha-ha *tertawa getir

Dalam dimensi yang lain, menengok beberapa kejadian belum lama ini, semisal elu-elu kepada kacang hijau yang hujan-hujanan, fitnah kepada ulama (ulama yang saya maksud di sini adalah M. Quraish Shihab), mudah diperdaya hoaks, malas membaca buku, hingga saya yang masih juga menonton “Transformers: The Last Knight”—padahal sudah tahu filmnya pasti jelek banget, maka maksud pernyataan Onghokham tersebut masih bergema.

Begitulah kira-kira.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s