Kucing

 

Dua puluh lima tahun lalu, di pinggiran selatan Jakarta, banyak ayam kampung yang bebas berkeliaran di kebun, pekarangan, bahkan masuk rumah. Tak lupa mereka meninggalkan tahi sebelum beranjak pergi. Kini, ayam-ayam kampung lenyap entah ke mana. Giliran kucing-kucing liar yang wara-wiri lalu buang air besar sesukanya.

Akibatnya, rumput hijau pekarangan rumah yang saya rawat susah payah jadi rusak kena tahi mereka. Rutinitas pagi pun bertambah: membuang tahi kucing yang kadang teksturnya lembek yang bercampur dengan sejumput rumput itu.

Ini situasi dilematik. Ke mana saya harus membuangnya? Ada rumah kosong di sebelah rumah saya. Pekarangannya bisa saya jadikan lahan pembuangan. Ah, tapi ini jelas tak sopan. Tetangga macam apa saya. Oh, atau, apa saya buang saja di tong sampah, ya? Toh nanti diangkut oleh petugas kebersihan. Ah, kok saya tak tega membuat mereka kebauan gara-gara tahi kucing ini.

Hal problematik ini terlalu remeh-temeh untuk diadukan ke Pak RT, apalagi Pak Gubernur. Tak elok juga saya mengadu kepada Tuhan perihal ini. Cemen sekali. Tak mungkin juga saya cuma berdoa untuk atasi masalah tahi kucing ini.

Tiba-tiba, ada bisikan gaib mampir ke telinga kiri saya: “Kau tulis saja persoalan tahi kucing ini di kertas suara besok.”

Bisikan gaib kedua sampai di telinga kanan saya. Bunyinya lebih sadis: “Kau lempar saja tahi-tahi kucing itu ke dua cagub-cawagub, terutama para pendukungnya yang suka meremehkan orang lain dan merasa paling benar dan paling saleh itu.”

Saya mengangguk-angguk. Bisikan gaib ketiga siap datang, tapi batal karena ada lantunan lagu-lagu pop tahun ’80an dari speaker angkot yang saya tumpangi. Lagu “Kemesraan”-nya Iwan Fals adalah salah satunya.

“Malem-malem begini enakan dengerin lagu-lagu eighties. Biar slow dikit, nikmatin hidup,” kata si supir angkot kepada temannya yang duduk di kursi depan. Senada dengan irama lagu, angkot juga ia kemudikan dengan kecepatan yang membuat klakson para pemotor di belakang jadi menyalak galak.

Ada benarnya si pak supir soal menikmati hidup. Mungkin saya harus bersikap ‘slow’ saja dalam menghadapi kenyataan bau dari tahi kucing itu, walau teramat sulit.

Setiba di rumah, saya cek rumput pekarangan. Belum ada tahi kucing lagi. Boleh jadi besok pagi ia baru muncul, seperti yang sudah-sudah.

Di dalam rumah, saya disambut dengan pertanyaan yang mengagetkan.

“Itu kenapa Dian Sastro, insta story-nya ada yang dihapus? Aku lihat di Lambe Turah.”

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s