Begini Eksperimen Financing di Restorasi Film Tiga Dara

tiga-dara_01_chitra-dewi
Image: SA Films

Perjalanan film klasik Tiga Dara untuk direstorasi dengan format resolusi 4K sampai bisa tayang pada awal Agustus lalu tidak mulus. Pita film seluloid karya Usmar Ismail ini sempat tertahan di Belanda. Mulanya, pemerintah Belanda ingin merestorasi Tiga Dara lewat EYE Museum Amsterdam pada 2011, tapi tertunda akibat krisis ekonomi yang melanda Eropa.

SA Films lalu berinisiatif mengambil alih proses restorasi ini dengan skema pembiayaan yang bergantung pada swasta. Skema ini dipilih setelah mempelajari plus-minus restorasi dua film klasik karya Usmar Ismail sebelumnya, Darah dan Doa (1950) dan Lewat Djam Malam (1954).

“Restorasi Tiga Dara ini eksperimen financing. Kita tahu, cari duit untuk beresin artefak-artefak kita nggak gampang. Dari restorasi Lewat Djam Malam yang full international grant, belajar masalahnya, kelemahan, impact-nya. Saat restorasi Darah dan Doa, yang pakai full APBN, punya impact dan masalah juga,” Alex Sihar selaku produser SA Films di Jakarta pada awal September ini.

Perlu diketahui, Lewat Djam Malam direstorasi dengan dana dari National Museum of Singapore (NMS) dan World Cinema Foundation (WCF). NMS kemudian memegang hak distribusi non-komersial untuk zona Asia, kecuali Indonesia. Sedangkan, hak distribusi komersial di dunia kecuali Indonesia dipegang WCF. Sementara film Darah dan Doa, lanjut Alex, direstorasi memakai anggaran negara atau APBN.

“Kerangka APBN tidak memungkinkan untuk bekerja lebih dari satu tahun. Restorasi Tiga Dara saja 17 bulan. Jadi ngerjain Darah dan Doa terburu-buru, nggak maksimal. Berdarah-darah, karena ngerjainnya dari film positif, negatifnya nggak ada. Begitu jadi, filmnya nggak bisa dikomersialisasikan, karena begitu aturan keuangan negara. Infrastruktur untuk distribusi non-komersial pun kita nggak punya,” papar Alex.

Maka, restorasi film Tiga Dara ingin menghindari kelemahan-kelemahan dari restorasi dua film sebelumnya tersebut. Lagi pula, Tiga Dara yang dibintangi Chitra Dewi, Mieke Wijaya, Indriati Iskak ini laris manis ditonton banyak orang baik di dalam maupun luar negeri, seperti Malaysia, kala dirilis pada 1956.

“Film Tiga Dara ini pop komersil box office di zamannya. Beda dengan Lewat Djam Malam dan Darah dan Doa yang lebih auteur. Karena itu, financing-nya kita coba full swasta karena materinya bisa dijual, dengan tetap menjaga etika restorasi,” ungkap Alex, yang juga menyebut angka 260 ribu euro untuk bujet restorasi film Tiga Dara dengan format 4K.

Karena bergantung pada pasar, lahirlah produk turunan Tiga Dara lainnya, seperti film remake-nya yang berjudul Ini Kisah Tiga Dara (disutradarai Nia Dinata serta dibintangi Shanty, Tara Basro dan Tatyana Akman). Lahir pula album soundtrack aransemen ulang film Tiga Dara.

“Di Ini Kisah 3 Dara, semua rumus komersil ada, karena untuk subsidi silang. Kalau sampai rumus ini terbukti, kita cukup confidence sehingga teman-teman lain yang melakukan restorasi bisa ngomong ke investor dan sponsor bahwa skema ini bisa, pernah dilakukan dan berhasil. Walau kita juga tahu nggak semua film bisa dilakukan dengan cara seperti ini,” kata Alex.

Sementara itu, film Tiga Dara tetap bisa menunjukkan kekuatannya walau sudah berusia sekitar 60 tahun. Sejak dirilis secara komersial pada 11 Agustus 2016 di belasan layar bioskop hingga awal September ini, Tiga Dara hasil restorasi sudah ditonton lebih dari 28.600 orang. Angka ini jauh melewati jumlah penonton film Lewat Djam Malam hasil restorasi yang mencapai 5 ribu orang pada Juni 2012.

“Sekarang tinggal tiga layar tapi stabil per layar bisa 400-500 orang. Senang hehe. Habis dari bioskop, Tiga Dara diputar di jaringan alternatif, seperti Kinosarus dan lain-lain, DVD. Ya, seperti umumnya kita jualan film,” kata Alex.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s