Tiga Dara Hasil Restorasi Belum Dicetak ke Film Seluloid Lagi

tiga-dara_03_indriati-iskak
Image: SA Films

Setelah memakan waktu 17 bulan sejak tahun lalu, film klasik Tiga Dara rampung direstorasi dengan format resolusi 4K dan tayang di bioskop-bioskop pada awal Agustus 2016. Berkat inisiatif SA Films, film negatif 35mm Tiga Dara menjalani restorasi fisik di laboratorium L’Immagine Ritrovata, Bologna, Italia dan restorasi digitalnya dikerjakan PT Render Digital Indonesia di Indonesia.

Namun, proses restorasi karya Usmar Ismail itu sejatinya belum sempurna. Sebab, film Tiga Dara hasil restorasi belum dicetak lagi ke format awalnya, yakni film seluloid 35 mm, melainkan format Digital Cinema Package (DCP).

“Di-hold sampai kita punya tempat penyimpanan yang baik dan cukup, baru di-print negatif dan positif yang baru. Jadi sebetulnya cita-cita untuk nonton Tiga Dara ini di pita seluloid belum terjadi,” jelas Alex Sihar, produser dari SA Films di Jakarta pada awal September ini.

Sebelum direstorasi, pita film seluloid 35 mm Tiga Dara disimpan di Sinematek Indonesia, yang sudah belasan tahun terakhir ini beroperasi dengan bujet minim dari Yayasan Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail (PPHUI) tanpa banyak disokong oleh pemerintah. Dampaknya, kondisi ruang penyimpanan dan perawatan film di Sinematek pun tidak optimal.

Ada alasan-alasan yang mendasari kenapa Tiga Dara hasil restorasi tetap akan dicetak ke film seluloid 35 mm, meski harus membutuhkan ruang penyimpanan dengan kondisi suhu dan kelembaban yang terkontrol dengan baik.

To restore adaleh mengembalikan sedekat mungkin ke barang aslinya. Yang ingin kami lakukan juga itu, karena aslinya 35 mm dan dia punya keistimewaan sendiri, ya kita berusaha balikin seperti itu, dengan kondisi zaman ini yang punya masalah sendiri-sendiri,” kata Alex.

Alasan lainnya, film seluloid 35 mm dinilai paling aman dari kemungkinan tuntutan hak cipta. Beda halnya dengan format digital, karena di dalamnya memiliki elemen-elemen software dan hardware yang memiliki hak kekayaan intelektual (intellectual property) banyak pihak.

Taufiq Marhaban, Managing Director PT Render Digital Indonesia, menjelaskan, “Misalnya format gambar .gif, kalau suatu saat .gif itu diproteksi atau (pembuatnya) minta bayaran, jadi kacau. Format digital itu juga dinamis, kapasitas penyimpanannya selalu bertambah. Jadi penyimpanannya bisa selalu pindah. Ini memang masalah format digital untuk long time archiving, itu sebabnya yang paling sure adalah seluloid.”

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s