Film Tiga Dara Sudah Sembuh dari Kanker

tiga-dara-restorasi_hlgh_
Image: SA Films

Film Tiga Dara (1956) menambah daftar pendek film-film klasik Indonesia yang berhasil direstorasi setelah Darah dan Doa (1950) dan Lewat Djam Malam (1954), yang ketiganya disutradarai Usmar Ismail. Pada 2015, proyek restorasi Tiga Dara diambil alih oleh SA Films setelah dipegang oleh pemerintah Belanda oleh EYE Museum Amsterdam sejak 2011.

Pada Agustus lalu, Tiga Dara hasil restorasi dengan format resolusi 4K (4096 x 3112 piksel per frame) dirilis ulang secara komersial di bioskop-bioskop Indonesia. Satu pencapaian perdana yang elok, namun proses merestorasi pita film seluloid Tiga Dara ini yang memakan waktu 17 bulan ini tidaklah mudah.

Sebab, pita film negatif 35mm-nya sudah alami kerusakan parah, baik secara fisik (perubahan ukuran dan bentuk, seperti sobek dan penyusutan lubang pinggiran pita atau peforasi), kimiawi (perubahan bahan dasar kimia dalam film seluloid), dan biologis (akibat makhluk hidup seperti jamur).

“Jadi misterius kenapa negatifnya serusak itu, karena film negatif seharusnya tidak diotak-atik lagi. Negatif itu sekali saja masuk mesin cetak untuk bikin film positif, terus masuk arsip,” jelas Lintang Gitomartoyo di Jakarta pada awal September ini.

Lintang bertanggung jawab untuk merestorasi fisik pita film Tiga Dara di laboratorium L’Immagine Ritrovata, Bologna, Italia. Ia seorang diri mereparasi fisik film seluloid Tiga Dara yang mencapai 38 reel dengan panjang masing-masing mencapai 100 meter. Reparasi fisik ini bertujuan agar pita film Tiga Dara kuat untuk diputar di mesin pemindai atau scanner.

Setelah dipindai ke dalam resolusi 4K, Taufiq Marhaban, Managing Director PT Render Digital Indonesia yang menangani restorasi digital film Tiga Dara, mengatakan bahwa proses menghilangkan jamur adalah bagian tersulit, karena ukurannya yang besar dan menyebar ke mana-mana.

“Pembersihan (jamur) secara digital ini sebetulnya mirip memakai aplikasi Photoshop. Tapi karena ini di format 4K dan jumlahnya mencapai 165 ribu frame, jadi yang dibutuhkan adalah ketekunan, stamina dan feel yang harus benar,” kata Taufiq.

Kendala lain dalan merestorasi digital Tiga Dara dengan format 4K adalah satu frame gambarnya yang membutuhkan kapasitas 53 megabit (MB), sementara jumlah frame-nya mencapai 165.000. “Jadi total butuh kapasitas penyimpanan sekitar 12 terabit (TB). Moving-nya jadi masalah sendiri di digital, butuh bandwith besar. Jadi kita menyiapkan infrastruktur,” ujar Taufiq.

Sementara restorasi pada audio film Tiga Dara, jenis masalahnya cukup bikin pusing Windra Benyamin sebagai teknisinya. Mulai dari muncul crackle dan noise hingga ada suara yang hilang dalam satu adegan.

“Tantangannya adalah mengubah audio Tiga Dara yang tadinya mono menjadi stereo, karena sistem audio di bioskop sekarang sudah stereo. Kalau audionya nggak diubah ke stereo, nanti penonton bisa capek nontonnya,” ujarnya.

DISERANG VINEGAR SYNDROME

Dalam proses pemeriksaan fisik di Bologna, gulungan pita film Tiga Dara, yang berbahan dasar acetyl cellulose atau biasa disebut asetat, ternyata sudah dijangkiti vinegar syndrome—kerap disebut penyakit kanker pada film. “Mungkin karena penyimpanan bertahun-tahun yang tidak ideal, ya. Kelembaban dan suhu tidak stabil,” ujar Lintang.

Selama ini, gulungan pita film seluloid Tiga Dara disimpan di Sinematek Indonesia, lembaga arsip film tertua di Asia Tenggara. Kini, Sinematek beroperasi secara tertatih-tatih dengan biaya sendiri dari Yayasan Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail (PPHUI). Padahal, seharusnya lembaga arsip film disokong pemerintah, sesuai perintah Undang-Undang Nomor 33 Tahun tentang Perfilman. Dengan kondisi keuangan yang tak baik, ruang penyimpanan dan perawatan film di Sinematek pun jadi tidak optimal.

Vinegar syndrome sendiri adalah kerusakan kimiawi pada film asetat akibat kondisi lingkungan (suhu dan kelembaban), sehingga pita film bisa alami pembusukan, penyusutan, muncul kristal, lengket, dan rapuh. Vinegar syndrome sangat rentan terjadi di kawasan tropis, seperti Asia Tenggara yang memiliki suhu dan kelembaban tinggi. Terlepas dari faktor lingkungan, kualitas film seluloid sendiri memang akan terus menurun.

“Dia senyawa kimia yang terus berproses sehingga akan menua secara alamiah dan akhirnya akan rusak. Di proses penuaan film Tiga Dara yang based-nya asetat, dia akan self destructive. Yang bisa kita lakukan adalah memperlambat proses penuaan itu selama mungkin,” papar Lisabona Rahman, lulusan program master Preservation and Presentation of the Moving Image di University of Amsterdam. Ia juga terlibat dalam restorasi film Tiga Dara dan Lewat Djam Malam.

Untuk memperlambat penuaan, lanjut Lisa, preservasi dan konservasi harus dilakukan. Caranya dengan mengatur suhu yang baik untuk film seluloid dalam ruang penyimpanan, yakni antara minus 5 hingga 18 derajat celsius dan pada kelembaban relatif antara 20 hingga 60.

“Indonesia itu panas dan lembab, sehingga kalau mau melestarikan atau mencegah percepatan penuaan film seluloid, kondisi ruang penyimpanannya yang harus dikontrol, dan itu yang kita nggak punya,” kata Lisa.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s