Melalui Do(s)a Kita Bisa Dewasa

Hilangkan huruf ‘s’ dalam kata ‘dosa’, samakah maknanya?

Si doppelgänger pernah berkata suatu kali, “Obat mujarab rindu, ya bertemu. Sesial-sialnya di dalam mimpi.” Dongkol mendengar itu, saya berceletuk, “Iya. Mimpi buruk.”

Si doppelgänger lalu menghilang lagi, seperti biasa. Saya tak mencarinya. Dia memang ibarat masa lalu yang tingkahnya suka seenak udelnya sendiri. Datang tak dijemput, pulang tak diantar. Si jelangkung.

Atau mirip ucapan Dave dalam Postcards from the Zoo: “Kalau yang hilang, dia perlu dicari untuk kembali. Tapi kalau yang pergi, dia akan datang dengan sendirinya.”

Apakah ‘yang hilang’ melahirkan rasa kehilangan? Bisa ya, bisa tidak. Namun yang pasti, di antara jawaban ‘ya’ dan ‘tidak’ itu, doa-doa terus mengalir. Tak terhitung jumlahnya.

Saking banyaknya doa untuk mengobati rasa kehilangan—yang tak semestinya dirasakan itu, mereka diam-diam menjelma menjadi dosa. Barangkali, itu sebabnya ada ‘doa’ dalam kata ‘dosa’—dua nomina yang hanya dipisahkan oleh satu huruf: ‘s’.

Apa maksud ‘s’ itu? Di dalam satu mimpi yang buruk di tengah malam, ada bisikan yang berkata, huruf ‘s’ itu adalah wakil dari ‘setan’.

Ada bisikan lain yang memprotes keras: di bulan Ramadan, setan-setan dikekang!

Mimpi saya jadi riuh. Mereka berdebat, lalu lama-kelamaan, bisikan-bisikan itu malah jadi berkelahi. Mimpi yang aneh.

Setan-setan barangkali tak sepenuhnya dikekang di bulan yang suci. Di dalam mimpi, mereka muncul dalam wujud yang lain: bisikan-bisikan yang kadang menyerupai godaan, kadang seperti terawang seorang cenayang.

Di luar alam mimpi, ketika kita sudah terbangun, akal kita menyebut terawang itu sebagai telepati. Bagi seorang penyair yang dipanggil ibu suri oleh para pengagumnya, telepati mempunyai sebutan populer: radar neptunus.

Sebuah terawang yang muncul dalam mimpi, yang berpangkal dari doa-doa sebelum tidur itu, memperlihatkan hal-hal yang mungkin atau belum tentu terjadi. Masa depan yang prematur, yang mungkin saja adalah bibitnya dosa. Dan bagi manusia, setiap dosa membutuhkan maaf.

Saya jadi teringat, seorang penyair-wartawan tua pernah menulis dalam surat terbukanya untuk Pram, “Maaf bukanlah penghapusan dosa. Maaf justru penegasan adanya dosa. Dan dari setiap penegasan dosa, hidup pun berangkat lagi, dengan luka, dengan trauma, tapi juga harapan.”

Maka bolehlah dibilang metamorfosa doa begini: Doa ->  dosa -> maaf -> harapan.

Selama bulan Ramadan sampai akhirnya bertemu 1 Syawal, metamorfosa doa itu pun selalu menemukan rutenya.

Buat saya, Ramadan kemarin adalah salah satu bulan terberat dan terpelik dalam bertahun-tahun terakhir, karena ada perpisahan-perpisahan di dalamnya. Baik perpisahan yang tak diinginkan tapi harus diikhlaskan, perpisahan sementara yang entah sampai kapan, hingga perpisahan selamanya yang harus dipaksakan.

Semua perpisahan itu terasa personal. Emosi jadi baur-membaur, meluap-luap. Sedih, namun lebih banyak amarahnya, sehingga satu perlawanan sekaligus pembelaan (semacam pledoi) panjang terpaksa saya lepaskan untuk terakhir kalinya.

Bagi yang stres, tersinggung, kecewa ataupun marah akibat pledoi itu, saya mohon maaf kalau itu berdosa. Tapi bagaimanapun saya tak menyesal. Karena menyesal bagian dari ketertundukan, rasa bersalah dan kekalahan. Tiga hal yang saya tolak mentah-mentah pada bulan lalu.

Walau begitu, dosa tak terhapus meski Ramadan telah dilewati dengan khusyuk. Dosa-dosa, pada 1 Syawal selepas sebulan penuh berpuasa, tidaklah bisa ditebus. Itu pemahaman yang salah terhadap sebuah hadis dan makna perkataan ‘id. Begitu kata seorang ulama pemimpin salah satu organisasi Islam terbesar di nusantara.

Beliau bilang, ’id al-fitri berarti: merayakan hari 1 Syawal dengan berbuka atau menghentikan puasa.

Penjelasan lebih lengkap darinya, yakni ‘id (hari perayaan) berasal dari bentuk kedua kata kerja bahasa Arab, ’ayyada, yang artinya merayakan, mengamati sebuah perayaan. Sedangkan, fitr dari kata kerja fatara, yang maknanya memisahkan, membatalkan puasa dengan makan dan minum pada 1 Syawal setelah berpuasa selama sebulan, disebut juga iftar, dan juga bermakna menciptakan.

“Dari akar kata yang sama kita menemukan al-Fatir, yang berarti Maha Pencipta dari tiada kepada ada,” tulis beliau tempo hari.

Maka, tanggal 1 Syawal bukan momen penghapusan maupun penebusan dosa. Puasa sebulan penuh dan 1 Syawal tidak serta-merta dan niscaya mendatangkan takwa, melainkan seperti yang dikatakan sang ulama, “diharapkan meraih posisi takwa” atau la’allakum tattaqun—hal yang dibenarkan dalam Al Quran surat Al-Baqarah ayat 183.

Syahdan, doa-doa pun terus dirapalkan, dosa-dosa baru bisa bermunculan, maaf lalu mengikuti bersama harapan. Maka, bisa jadi benar apa yang dikatakan seorang sastrawan masyhur angkatan 66, “Melalui dosa kita bisa dewasa.”

Atau, melalui doa kita bisa dewasa?

 

 

*Ditulis di atas Selat Sunda, 7 Juli 2016, pukul 9 malam. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s