Perihal Menitipkan Masa Lalu Lewat Buku

anggarulianto-1463491707834

“Masa lalu tidak pernah hilang. Ia ada tetapi tidak tahu jalan pulang, untuk itu ia menitipkan surat—kadang kepada sesuatu yang tidak kita duga. Kita menyebutnya kenangan.” – M. Aan Mansyur di  buku Kukila (2012).

Buku diisi oleh kenangan dari penulisnya, semacam surat-surat dari masa lalu—seperti yang diutarakan Aan. Ia kemudian menulari pembacanya, dan melahirkan kenangan-kenangan baru. Ada yang disimpan, ada pula yang terbuang atau malah terpaksa dibuang. Kenangan versi yang disebutkan terakhir itulah yang paling malang. Ia mungkin jadi tersesat, dan tidak tahu jalan pulang, lalu mati di tengah jalan.

Agar tak tersesat, maka “Bacalah”. Begitu perintah pertama dari-Nya: “Iqra!“.

Kata seorang pemerhati pendidikan dalam surat kabar bilang, “membaca” adalah memahami hakikat dari segala yang tersirat, bukan hanya yang tersurat. Membaca tidak hanya dengan mata, ujarnya.

Seorang pakar tafsir kitab suci mengingatkan kita, makhluk-makhluk yang suka memberangus buku sebelum mau membacanya, bahwa “Iqra” berasal dari kata qara’a, yang mengandung arti tak tunggal: menghimpun, menelaah, membaca, meneliti dan mendalami (tafakur).

Lalu, si pemerhati pendidikan bertanya, “Tidakkah (arti kata qara’a) itu serupa dengan metodologi riset dalam istilah modern masa kini?”

Sayyidina Ali Ali bin Abi Thalib, sahabat Nabi Muhammad SAW, pernah juga berkata, “Ilmu adalah buruan, dan tulisan adalah ikatannya. Ikatlah buruanmu dengan ikatan yang kuat, yakni menuliskannya.”

anggarulianto-1463493282508

Barangkali, karena tak mau membaca—dan akhirnya juga tak bisa menulis, itulah sebabnya kini banyak orang dengan gampangnya menaruh buku-buku di tepi kiri, dekat api yang menyala-nyala. Seakan-akan, buku-buku itu serta merta bisa membuat luka dan kematian.

Mereka, yang suka meng-kiri-kan buku, beserta segerbong sifatnya lebih menyerupai orang-orang gila. Orang-orang gila yang tersesat, lebih tepatnya.

“Hanya cinta yang bisa menyembuhkan orang gila.” – Eka Kurniawan di buku Cantik itu Luka (2004)

Akan tetapi, cinta itu rumit dimengerti. Begitu kata orang-orang yang terjebak di persimpangan jalan dan tak tahu mau memilih jalan yang mana. Mungkin, jika bisa, mereka memilih untuk terbang saja.

Selain kerumitannya, cinta juga mampu melukai. Ini tentu sudah jelas dan bertebaran bukti-buktinya. Banyak yang mengira sebuah rasa itu adalah cinta, tapi ternyata hanya jatuh saja. Mungkin itu sebabnya muncul luka.

talentime-1

Your face says what is says. Your eyes they speak with mine. Words they say too much. Love comes in silence.” – Yasmin Ahmad (Talentime, 2009).

Boleh jadi benar adanya bahwa cinta kadang datang dalam hening. Sehening bunyi air di Situ Cisanti yang dikepung bukit-bukit dengan rerimbunan pohon dan kabut.

Dalam keheningan pula, tulisan-tulisan lahir dan mengalir. Salah satunya mungkin menuju ke depan pintu rumahmu, lalu masuk melalui sela-sela sempit pintu, merayapi lantai keramik-keramikmu, dan akhirnya menyelinap ke kamar tidurmu, masih dengan hening, karena tak ingin mengganggu lelapmu.

Tulisan yang diam-diam datang ini mungkin hendak bertemu dan menantikan tulisanmu. Karena mungkin jodoh tak harus pertemuan dua fisik dan dua hati. Mungkin, bisa saja pertemuan dua tulisan. Mungkin seperti si kenangan, yang ditumpangi surat dari masa lalu, yang kemudian bertemu dengan kenangan milikmu.

Maaf jika kata “mungkin” terlalu sering muncul. Saya tidak mampu memastikan. Sebab, saya bukanlah futurolog yang lebih mampu mengkalkulasikan masa depan dengan akal. Saya mungkin lebih mengandalkan intuisi dan perasaan.

“Untuk membuat prognose yang meyakinkan, futurologi tak boleh mencukupkan diri dengan ilmu dan kepastian. Kecuali ilmu dan kepastian rasional, ia harus mempunyai kemampuan seperti Orakel Delphi, yang tak menjauhi ketransendenan dalam menangkap dan menafsirkan tanda-tanda zaman,” begitu kata Sindhunata suatu kali.

up and up coldplay music video

Cinta dan rasa sayang pun bersifat transenden. Wujudnya adalah mendoakanmu lebih dari lima kali dalam sehari.

“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari. – Pramoedya Ananta Toer di buku Bumi Manusia (1980).

Ada satu rahasia—yang tentu saja dengan sekarang saya menulisnya, maka tidak jadi rahasia lagi: saya menghadiahi buku hanya untuk orang-orang yang benar-benar saya cintai. Dalam 32 tahun terakhir, saya baru hadiahi 3 buku hanya untuk 3 orang yang mengisi-menghidupkan memori saya—di luar ayah-ibu saya.

Satu buku tebal saya sepertinya masih tersimpan di rak bukumu. Simpan saja. Biar saya bisa selalu mengingatmu lewat buku itu. Jika kelak buku itu harus pulang, saya akan ingat kata-kata Aan:

“Dia akan pulang untuk membuktikan mana yang lebih kuat, langit atau matamu.”

Selamat Hari Buku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s