Ketika Dejavu Bertemu dengan Ajian Puter Giling

dejavu ajian puter giling 3 H

Sebuah taksi berhenti di depan rumah tua. Myrna lalu keluar dari taksi dan mengamati rumah itu tanpa menyadari ada sesosok yang memperhatikan dirinya dari belakang. Myrna (Ririn Ekawati) tiba di rumah tersebut demi satu tujuan, menjadi perawat pribadi Sofia (Ririn Dwi Aryanti), perempuan yang tengah sakit dan sehari-hari harus memakai kursi roda akibat kecelakaan.

Film horor Dejavu: Ajian Puter Giling lalu mengenalkan tokoh ketiga, Yudo (Dimas Seto). Dia adalah suami Sofia yang sehari-hari berada di rumah untuk menemani sang istri tercinta. Semenjak itu, kisah horor yang skenarionya ditulis Baskoro Adi Wuryanto dan disutradarai oleh Hanny R. Saputra ini hanya berputar-putar di antara mereka saja dengan latar tempat di dalam rumah yang seakan memerangkap mereka.

Rumah yang ditinggali Sofia dan Yudo ini sendiri sebenarnya menyimpan misteri. Hal ini yang sama juga dikatakan seorang dukun perempuan kepada Myrna suatu ketika. Namun, Myrna tidak menghiraukannya. Selain memuat perabotan-perabotan yang sudah berkesan tua dan sebuah gentong besar di kamar mandi, rumah ini juga memiliki loteng gelap yang penuh buku-buku dan barang usang. Dari loteng itu pula kerap muncul suara-suara misterius.

Suatu hari, beberapa buku tiba-tiba jatuh dari loteng yang satu di antaranya berjudul “Dejavu”. Myrna menggenggam buku itu, dan kebetulan dilihat oleh Yudo. Sejak itu, mereka kerap mengobrol soal ‘deja vu’ dan jadi akrab. Suatu kejadian pencurian motor tetangga kemudian memperkenalkan Mryna dengan ‘puter giling’. Konsep ‘deja vu’ dan ‘puter giling’ itulah yang dibaurkan oleh film yang diproduseri Firman Bintang ini.

Horor dalam film Dejavu: Ajian Puter Giling ini pun jadi tampak ingin bercita rasa global, tapi tanpa mau kehilangan budaya lokal Indonesia. Tersirat pula niatan film horor ini untuk memadukan sains-logika dengan elemen-elemen mistik. Sebab, histori pengetahuan telah mencatat ‘deja vu’ sebagai fenomena metafisik dan psikologi. Adapun ‘puter giling’ adalah ilmu klenik dari kepercayaan masyarakat Jawa untuk mengembalikan orang-orang atau benda yang telah raib.

Dampaknya, Dejavu: Ajian Puter Giling tampak berambisi besar sebagai film yang ingin menakuti-nakuti penonton, tetapi malah jadi tergagap-gagap. Hubungan Myrna dan Yudo berikut akting tak meyakinkan para pemerannya adalah salah satu bentuk kegagapan itu. Lihat saja ketika Yudo memuji kecantikan Myrna. Atau saat di kesempatan, Yudo juga mengutarakan kepada Myrna soal hasrat seksualnya sebagai seorang suami yang sudah lama tak terlampiaskan.

Percakapan-percakapan tersebut lebih mirip nafsu liar yang tak tertahankan ketimbang dialog antara dua karakter yang seharusnya memiliki ikatan emosi. Sewaktu film ini kemudian memberikan alasan ihwal tindak-tanduk Myrna dan Yudo, semuanya sudah terlambat. Kesan tergagap itu sudah keburu melekati film ini. Penulis skenario memang sudah memberikan motivasi untuk karakter para tokoh, contohnya tentang alasan Myrna yang selalu penasaran pada loteng rumah itu.

Akan tetapi, upaya naratif Baskoro tersebut belum sinkron dengan ambisi visual dan artistik Hanny. Sutradara yang sebelumnya menggarap 12 Menit: Kemenangan untuk Selamanya (2014) dan Di Bawah Lindungan Ka’bah (2011) ini terlihat jelas lebih ingin mengeksplorasi detail latar tempat, yakni rumah tua nan penuh misteri itu. Penuturan cerita pun jadi keteteran. Rumah dalam film Dejavu: Ajian Puter Giling sendiri memang berbeda luas dan cirinya dibantingkan dengan, misalkan, rumah dalam film horor garapan Jose Poernomo, Rumah Gurita dan Oo Nina Bobo.

Rumah dalam Dejavu: Ajian Puter Giling lebih sempit dan dipenuhi banyak barang, sehingga muncul atmosfer klaustropobik yang mencekam. Perhatikan saja kamar mandi rumah ini yang terdapat gentong besar dan sumur itu, atau ruang makannya yang cukup sempit. Kondisi latar ini tentu merumitkan peletakan dan gerak kamera, tapi Hanny dan sinematografer Rizko Angga Vivedru berhasil mengatasi area sempit tersebut, lalu mengubahnya  menjadi elemen pembentuk horor.

Atmosfer klaustropobik dalam rumah ini juga makin kuat karena identitas lingkungan sosialnya sengaja dikaburkan oleh pembuat film. Dejavu: Ajian Puter Giling tidak menampilkan secara jelas di mana dan di tengah masyarakat dengan budaya apakah rumah ini berdiri. Eksistensi rumah ini amat kuat sampai-sampai para tokohnya pun tidak berkonflik dengan ekstra-personalnya (lingkungan fisik, antar individu dalam masyarakat, dan institusi sosial).

Film ini cuma memberikan satu informasi lewat perkataan Yudo kepada Myrna bahwa lingkungan sekitar rumah mereka memang tak aman. Walhasil, rumah tersebut bak aktor yang juga berperan krusial, dan tiga tokoh utama film ini seperti bergantung kepadanya. Tak mengherankan pula jika misteri dalam rumah itu hanya bisa diungkap dan diselesaikan oleh Myrna, Yudo dan Sofia. Misteri yang juga kembali menegaskan bahwa hantu dalam film-film Indonesia adalah representasi trauma dan bentuk pembalasan atas masa lalu yang direpresi.

 

*Tulisan ini lebih dulu dimuat di Muvila.com pada 29 Mei 2015.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s