Kenangan-kenangan yang Tersesat dan Nyaris Terbuang di Tempat Sampah

memories-1
photo: tammypalazzo.com

 

Akhir tahun adalah saatnya mencatat kenangan-kenangan yang nyaris terbuang ke tempat sampah. Beruntungnya saya, karena si tempat sampah tahu diri dan bijak. Matanya bisa melihat sesuatu yang tidak bisa saya lihat. Dia bilang, kenangan-kenangan kamu itu tersesat, bukannya tak berguna. Jadi, lanjutnya, jangan dibuang, kembalikan ke jalan pulang yang benar untuk sampai ke sang tujuannya.

Sambil berterima kasih, saya menggerutu sendiri, “Memangnya mana jalan pulang yang benar? Kalau saya tahu jalannya, saya akan antarkan sendiri mereka kepada sang tujuan.”

Si tempat sampah ini tengah meledek, agaknya.

Saya tinggalkan si tempat sampah, lalu menuju mesin cuci bukaan atas. Setelah ditatap-tatap dan direnungkan, bentuk mesin cuci asal Jepang ini mirip tempat sampah, hanya saja lebih besar dan modern karena banyak tombolnya. Saya taruh tumpukan kenangan-tak-tahu-jalan-pulang itu ke dalam tabung mesin cuci. Aliran air mengisi setengah tabung. Saya setel mode pencucian cepat. Tak ada pilihan lain, waktu sedang memburu tanpa ampun. Seperti halnya para War Boy ganas berkepala botak yang haus darah ketika memburu Mad Max dan Furiosa yang membawa kabur para permaisuri ayu milik sang tirani Immortan Joe.

Biarlah tumpukan kenangan itu dicuci dulu, pikir saya. Entah bakal bersih sekali atau tidak karena dicuci terburu-buru, tapi paling tidak, mereka akan wangi jika kelak tiba di tempat tujuan. Sudah pasti tidak rapi, karena saya malas menyetrika mereka. Apa sih yang bisa diharapkan dari kenangan yang sudah tersesat bertahun-tahun di belantara kota Jakarta yang penuh polusi dan debu—dan terkena badai terik El Nino tahun ini? Rapi? Agak wangi saja sudah untung. Setidaknya, sang tujuan kelak tak sungkan untuk memeluk hangat kenangan-kenangan itu. Begitu harapan kecil saya.

Sejam kemudian, saya dan kenangan-kenangan berangkat. Kenangan-kenangan yang masih lembab dan belum sepenuhnya kering itu saya langsung taruh di dalam tas punggung. Tak apalah mereka agak lembab, supaya nanti dikira sang tujuan kalau mereka sembap akibat lelehan air mata.

“Naik apa kita kita?” kata salah satu kenangan. Bus saja, jawab saya. Bus-bus kota itu perlu ditemani dan diramaikan oleh orang-orang, pikir saya. Mereka kesepian, karena mulai ditinggalkan orang-orang yang lebih memilih sepeda motor dan taksi-taksi berpelat hitam yang bertarif murah. Si kenangan satu itu langsung bermuka masam. Ia langsung membayangkan lenguh karena akan menaiki bus kota yang reot penuh karat dan tak berpendingin udara.

Saya malas menyetir mobil di tengah malam tahun baru seperti ini. Saya tak mau terjebak macet di tengah riuh perayaan tahun baru oleh terompet, klakson dan raungan knalpot sepeda motor. Saya tak mau seperti Ebi yang menyanyikan lagu sedih sambil menyetir sendirian malam-malam, karena baru sadar telah mengharapkan cinta yang sudah terlalu terlambat untuk ia rengkuh. Saya tak mau jadi orang yang berhati semalang Ebi di tengah suka cita tahun baru.

Omong-omong, buat saya, adegan Ebi menyanyi sendirian itu jadi satu-satunya adegan yang menarik dalam film Single. Selebihnya, film ini mengacaukan cara pikir dan logika. Saya tak suka Single.

“Terang saja kamu tidak suka, karena sesungguhnya manusia diciptakan oleh-Nya untuk berpasang-pasangan,” celetuk si kenangan yang malas naik bus itu. Sial, ternyata dia menguping pikiran saya. Bahkan, menceramahi dengan intonasi bicara mirip para ustaz-yang-padahal-juga-manusia-biasa dalam acara-acara religius di televisi yang memanfaatkan frekuensi publik itu.

Ingin saya membalas si kenangan satu itu dengan sedikit mengadaptasi potongan dialog dari film pendek Pasangan Baru bikinan Salman Aristo, “Pakai bawa-bawa ayat, salat subuh saja jarang.” Tapi niatan itu saya urungkan. Karena saya juga manusia biasa. Manusia biasa yang sudah sulit untuk bisa lagi membedakan doa dan dosa. Manusia biasa yang juga bisa lupa rute jalan pulang untuk tumpukan kenangan di tas punggung saya yang dulu menghidupi hari-hari kita dengan penuh senyuman.

Bus kota datang. Deretan kursi kosong menyambut dengan tatapan mata yang nanar. Si supir sendirian. Malang sekali nasib bus kota ini. Dia kesepian. Bahkan, kondektur yang dulu menghidupi suasana bus kota dengan teriakan minta bayaran kini telah mengucapkan kata perpisahan kepada si supir dan bangku-bangku kosong. Pikiran saya ingin mengatakan, “Lihatlah, si supir saja single!” kepada si kenangan yang bawel satu itu. Tapi, lagi-lagi, niatan itu saya urungkan. Tak ada gunanya. Tak penting juga.

Di dalam bus, saya belum tahu mau ke mana. Saya duduk di pinggir jendela, tiga baris kursi di belakang supir, sambil menatap ke luar jendela. Di luar sana, kelebatan para penjual terompet terlihat silih-berganti. Pemandangan tipikal itu menemani saya yang sedang berusaha memeras memori. Saya mencoba mengingat-ingat jalan pulang itu. Samar-samar teringat, lalu buyar. Saya coba lagi berulang kali. Gagal melulu. Jangan-jangan, memori itu sudah (me)lenyap(kan) diri di Memory Dump, seperti yang dilakukan Bing Bong. Setelah dua jam berjuang mengingat, saya kelelahan.

Nasib Heli yang terpaksa menemani Pak Mahmud, sang ayah yang dibencinya, untuk mencari hilal di pelosok pulau Jawa lebih baik dari saya. Walau Heli pada awalnya tak tahu tujuan ayahnya, tapi perlahan ia mulai menyadari tujuan pencarian hilal itu. Pada akhirnya, di adegan terakhir, ia bahkan bisa memeluk ayahnya dengan penuh rasa sayang sekaligus ikhlas memaafkan ayahnya dan dirinya sendiri. Ia merasakan dan melakukan itu di depan hilal yang menampakkan diri di atas horizon saat menjelang malam lebaran. Tak lama, sang ayah menutup usia. Film yang indah di tahun ini.

Andaikan saya bisa seperti Heli, yang akhirnya bisa merasakan ikhlas untuk melepaskan hal-hal yang seharusnya dilepaskan. Tumpukan kenangan di dalam tas yang sedang saya peluk sekarang, di dalam bus kota yang sepi ini, adalah ‘hal-hal yang seharusnya dilepaskan’ itu. Jalan pulang yang sudah tak terpetakan di memori itu menjadi satu-satunya harapan.

Tiba-tiba, bus berhenti. Si supir yang sedari tadi membisu karena takzim menelusuri jalan raya yang padat oleh pesta pora malam tahun baru akhirnya berkata, “Abis-abis, mas. Sudah mentok. Kita sudah sampai di Jalan Ujung Harapan.”

Saya tertegun, lalu membatin, “Sial, saya terbawa ke Bekasi. Saya selalu tersesat di kota ini.”

 

———

 

Dua hari lalu, mereka bilang, saya bersikap berbeda beberapa hari terakhir ini. Mereka menuding ratusan puisi dan prosa M. Aan Mansyur, yang memang saya sedang baca secara simultan, sebagai penyebabnya. Sebenarnya yang terjadi adalah puisi dan prosa M. Aan Mansyur lah yang memicu hadirnya lagi si ‘doppelganger’ yang kerap bersembunyi entah di mana selama tujuh terakhir.

Mereka tidak tahu, si ‘doppelganger’ pertama kali hadir ketika saya pertama kali melihat Aan membaca puisinya yang berjudul “Di Hadapan Mata Jendela” pada sebuah malam pada akhir Oktober 2009 di Salihara. Di bait akhir puisi yang dibacakan sang penulisnya itu, si ‘doppelganger’ hadir dan menyimak dengan penuh perasaan.

 

jika nanti aku mati, tak masalah hari apa jam berapa,                            

mungkinkah saat itu aku sedang berada di depan jendela?

sedang memikirkan semua yang kucintai, termasuk engkau.  

dan apakah mata jendela akan menatap mataku tanpa

bersedih?

 

Selepas malam itu, si ‘doppelganger’ suka muncul seenak udelnya dan menuliskan kata-kata yang menurutnya indah. Ia muncul lagi dalam waktu yang singkat selama seminggu terakhir ini. Kadang, ia melempar satu-dua kalimat. Tapi, dua hari lalu, si ‘doppelganger’ membisiki saya untuk menuliskan sebuah cerita.

Si ‘doppelganger’ mengucap dengan suara pelan, satu sentimeter dari telinga kanan saya, “Peradaban dibangun oleh cerita, bunga tidur yang berbau harum maupun busuk, dan kenangan-kenangan yang tersesat dan menyesatkan diri. Mereka saling beradu dan berpadu. Kalau punya cerita jangan dipendam sendiri. Ceritakanlah. Sudah lama juga kan tidak bercerita.”

Baiklah. Inilah cerita itu.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s