Jenderal Soedirman, Pengkultusan Sang Panglima Besar?

09-DAYS_OK_227

Ketika tokoh sepenting Jenderal Soedirman dikabarkan akan dibuatkan biopic (biographical film), rasa penasaran pun membuncah. Satu hal yang bikin penasaran adalah siapa aktor yang akan memerankan sang panglima besar yang terkenal sampai ke negara lain berkat strategi perang gerilyanya ini. Hal lain yang juga paling membuat penasaran akan hasil akhir film ini kelak adalah pihak-pihak di balik produksinya.

Sebab, film ini bukan hanya produksi Padma Pictures, tapi juga Yayasan Kartika Eka Paksi dan Markas Besar TNI Angkatan Darat. Dua pihak yang disebut terakhir adalah institusi yang berisi anggota maupun para purnawirawan militer. Akibat latar belakang ini, maka muncul kemungkinan bahwa film Jenderal Soedirman akan memaksakan isu-isu maupun pesan-pesan tertentu (baca: propaganda). Lalu, terwujudkah kemungkinan-kemungkinan tersebut?

Film Jenderal Soedirman berlatarkan peristiwa sejarah Agresi Militer II ke Yogyakarta, yang kala itu menjadi ibukota Republik Indonesia, tepatnya kurang lebih tiga tahun pasca Soedirman (diperankan Adipati Dolken) terpilih menjadi panglima besar. Serangan Belanda secara tiba-tiba setelah menyatakan tak terikat dengan Perjanjian Renville dan menghentikan gencatan senjata itu membuat Presiden Soekarno (Baim Wong) dan Wakil Presiden Mohammad Hatta (Nugie) diasingkan ke pulau Bangka.

Di tengah deraan sakitnya yang makin parah, Soedirman pun mengikuti rencana yang sudah dipersiapkannya sejak awal apabila Belanda menyerang lagi, yakni bergerilya di hutan Jawa. Ia bersama pasukannya pun masuk hutan ke arah selatan dan tetap memberikan komando. Selama tujuh bulan masuk hutan dan sesekali menyerang pasukan Belanda, Soedirman dan pasukannya berhasil memberikan sinyal kuat bahwa Tentara Nasional Indonesia (TNI) masih eksis, kuat dan tidak terpecah belah.

Akan tetapi, naratif biopic ini juga memperlihatkan bahwa militer Indonesia saat itu juga tak solid-solid amat. Ada tentara-tentara liar yang bergerak bukan di bawah komando Jenderal Soedirman. Para tentara liar yang memakai kain merah di lengannya ini berada di bawah perintah Tan Malaka (Mathias Muchus), yang merupakan tokoh kemerdekaan Indonesia sekaligus pemimpin Partai Komunis Indonesia (PKI).

Film ini, yang skenarionya ditulis oleh TB Deddy Safiudin dan Viva Westi, kemudian juga memperlihatkan para tentara simpatisan Tan Malaka dan PKI ini yang bersikap seenaknya terhadap rakyat kecil. Adegan para tentara liar saat melahap makanan yang dijajakan seorang penjual tanpa membayar adalah salah satu bukti penggambaran tersebut. Di adegan yang sama pula, perilaku tentara liar itu lalu dikonfrontir dengan perilaku Kapten Tjokropanolo atau Nolly (Ibnu Jamil) yang welas-asih dan mengayomi rakyat kecil.

Di titik inilah, terlihat sikap, impresi dan pandangan para pembuat film Jenderal Soedirman yang masih memposisikan para pendukung ideologi komunis di pihak yang buruk rupa dan menafikan peran mereka dalam sejarah pembentukan republik ini. Padahal, riwayat lahirnya Indonesia tak pernah lepas dari para punggawa dan pendukung komunisme. Bandingkan dengan penuturan riwayat lahirnya bibit Indonesia maupun ke-Indonesia-an dalam film Guru Bangsa: Tjokroaminoto (Garin Nugroho, 2015) misalnya, yang memperlihatkan secara terang-terangan gesekan-gesekan secara intelektual dari para pendukung nasionalisme, universalisme, sosialisme dan komunisme.

Penggambaran karakter Jenderal Soedirman yang seolah tanpa cacat dalam film ini pun memberikan dampak tak bagus. Biopic ini jadi memiliki tendensi untuk mengkultuskan Jenderal Soedirman itu sendiri. Dengan penggambaran karakter dan tendensi pengkultusan seperti ini, tokoh besar lainnya, seperti Soekarno dan Mohammad Hatta, jadi terlihat kerdil. Dua orang proklamator ini tak ubahnya politikus yang tak jujur dan hanya jago memainkan kata-kata lewat meja perundingan.

Akhirnya, film Jenderal Soedirman ini pun terlihat tidak memiliki dimensi karakter pada tokoh utamanya. Ditambah lagi, performa Adipati Dolken tak maksimal dalam berakting sebagai sang panglima besar, walau harus diakui ia memang berupaya keras untuk menjadi Jenderal Soedirman. Beban besar memang untuk memerankan karakter seakbar Jenderal Soedirman. Ia bukan hanya panglima besar, tapi juga tokoh besar yang berpengaruh bagi negeri ini.

Ia juga salah satu founding father republik ini. Saking besarnya jasa dan wibawa sang jenderal, saat ia kembali dari perang gerilya di hutan ke Yogyakarta untuk memenuhi permintaan Sultan Hamengkubowono IX, Presiden Soekarno sampai memeluknya erat sebanyak dua kali. Satu pelukan yang natural, dan satu lagi adalah pelukan rekayasa supaya fotografer bisa merekam momen dramatik nan historis itu.

Momen tersebut terwujud dalam salah satu adegan film Jenderal Soedirman. Melalui satu adegan itu pula, film Jenderal Soedirman memperlihatkan usahanya untuk menampilkan ulang alur sejarah pada era kemerdekaan negeri ini secara presisi. Akan tetapi, upaya penuturan sejarah lewat latar peristiwa Revolusi Nasional Indonesia pada akhirnya tak dibarengi dengan kerendahan hati dan malah menengok ulang alur sejarah dari kacamata yang sempit.

Dengan penggambaran ulang sejarah revolusi kemerdekaan Indonesia lewat ceritanya dan karakter Soedirman seperti ini, film Jenderal Soedirman pun seakan tengah berpropaganda. Meski sebenarnya, tak salah juga apabila sebuah film kemudian bergaung layaknya propaganda maupun orasi politik, apalagi dalam iklim demokrasi dan era keterbukaan informasi seperti sekarang ini. Namun, masalahnya, film Jenderal Soedirman ini muncul di tengah perdebatan dan dorongan kuat dari banyak kalangan di masyarakat untuk melakukan rekonsiliasi nasional akibat peristiwa pembunuhan besar-besaran terhadap para simpatisan PKI pada tahun 1965.

 

Resensi ini dimuat di harian Pikiran Rakyat pada Agustus 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s