Battle of Surabaya yang Perlu Diapresiasi

645x430-battle-of-surabaya-jembatani-anak-muda-dan-sejarah-1508204

Di tengah serbuan film-film blockbuster animasi komputer 3D dari Hollywood, seperti Minions dan Inside Out, ditambah sikap kebanyakan penonton film bioskop kita yang lebih menyukai film-film impor tersebut, film Battle of Surabaya mencoba peruntungannya. Film animasi produksi MSV Pictures dan AMIKOM Yogyakarta yang berbujet Rp 15 miliar ini nekad untuk tidak menyesuaikan dirinya dengan selera umum para penonton film animasi di bioskop yang sudah terbentuk oleh kepopuleran film-film animasi komputer 3D.

Nah, Battle of Surabaya malah asyik dengan gaya dan tampilan yang lebih condong ke animasi Jepang. Alasannya boleh jadi karena kedekatan dengan masyarakat Indonesia, baik secara geografis maupun kultural. Sebab, bagaimana pun, animasi Jepang juga sudah lama menancapkan kukunya di Indonesia dan menyebar kuat, terutama di kalangan muda. Alasan lainnya bisa juga karena tim produksi beserta para animator Battle of Surabaya belum mampu membuat film animasi komputer 3D semumpuni Inside Out, misalnya.

Ketidakmampuan di sini bukan akibat kualitas sumber daya manusia alias animatornya. Sebab, beberapa tahun terakhir ini kita sudah menyaksikan kemunculan animator Indonesia yang berkiprah dalam produksi film-film blockbuster Hollywood, mulai dari Transformers, Iron Man 3, The Adventure of Tintin, hingga Avengers: Age of Ultron. Dari situ terlihat bahwa para animator kita tak kalah bersaing. Permasalahannya di sini tentu berkaitan dengan soal pembiayaan.

Membuat film animasi komputer 3D seperti yang kerap dilahirkan Pixar, DreamWorks, Blue Sky Studios maupun Illumination Entertainment butuh puluhan hingga ratusan juta dolar AS. Dan, mencari uang sebanyak itu dengan meyakinkan para calon investor di Indonesia untuk membuat film animasi komputer 3D bukanlah perkara gampang. Apalagi, di tengah kondisi perfilman dalam negeri dan antusiasme tak tertebak penonton film Indonesia, prospek untuk balik modal maupun mendulang untung bagi film animasi komputer 3D belumlah besar.

Maka, Battle of Surabaya mencoba membuka jalan. Film yang disutradarai dan ditulis oleh Aryanto Yuniawan ini ibarat sedang membuka lahan pertanian di tengah belantara hutan lebat yang penuh binatang. Tanaman di lahan pertanian itu belum tentu pula berhasil dipanen, karena bisa saja ada gangguan pengrusakan dari binatang liar hutan. Dalam konteks tersebut, Battle of Surabaya yang dibuat oleh sekitar 180 animator ini bak seorang pejuang dengan memanfaatkan pengetahuan, keterampilan dan peralatan perang dari bangsa lain untuk mencoba meraih kemenangan.

Hal ini mirip juga kisah Battle of Surabaya yang menuturkan tentang para pejuang di masa perang kemerdekaan pasca proklamasi. Dengan latar waktu peristiwa bersejarah Indonesia, yakni perjuangan para tentara kemerdekaan dan rakyat di Surabaya pada 10 November 1945 saat melawan tentara sekutu yang sudah diboncengi NICA (Netherlands Indies Civil Administration), film animasi ini menceritakan tentang Musa (diisi suaranya oleh Ian Saybani). seorang anak yang bekerja sebagai penyemir sepatu.

Ditemani Yumna (Maudy Ayunda), temannya yang yatim piatu dan punya trauma tentang kekejaman tentara Jepang, Musa lalu menjadi pengantar pesan bagi tentara rakyat. Danu (Reza Rahadian), seorang tentara rakyat, juga ditugasi untuk membantu tugas Musa. Akan tetapi, tugas sebagai pengantar pesan rahasia tak mudah bagi Musa. Soalnya, ia bukan cuma harus berhadapan dengan tentara sekutu maupun Belanda, tapi juga kelompok rahasia bentukan Jepang yang sudah kehilangan arah, Kipas Hitam. Pengkhianatan pun mengancam jiwa Musa dan tentara rakyat.

Di tengah plot utama itu, ada subplot lainnya dalam Battle of Surabaya yang juga membuat kisah film ini jadi kaya dan para tokohnya jadi punya kedalaman dan dimensi karakter. Seperti, hubungan Musa dan Yumna, masalah keluarga Musa dan Yumna, hubungan Yumna dan Danu, hingga gerak-gerik Kipas Hitam.

Subplot-subplot ini mengisi bangunan naratif Battle of Surabaya dengan porsi yang nyaris sama. Kaitan-kaitannya pun dibuat secara terukur oleh Aryanto Yuniawan. Begitu pula adegan-adegan dramatiknya yang ditempatkan secara pas. Walaupun memang dampaknya tidak terlalu menggugah emosi. Di luar itu, hal yang menjadi ganjalan adalah konsistensi dalam penggambaran karakternya. Beberapa kali para tokoh di film ini diperlihatkan memiliki perilaku dan karakter kekinian yang tak sinkron dengan zaman pasca kemerdekaan.

Ganjalan lainnya adalah inkonsistensi dalam pewarnaan. Seringkali, pewarnaan dalam gambar lanskap latar belakang sudah nyaris tampak realis, tapi begitu gambar memperlihatkan para tokohnya dari jarak dekat dan dalam komposisi yang padat, pewarnaan jadi tak kaya. Kondisi sama juga terjadi pada kualitas animasi yang kentara jomplang antara gambar lanskap latar belakang dengan gambar para tokohnya. Teknik animasi khususnya dalam menampilkan para tokohnya memang harus digenjot lagi.

Toh, walau begitu, Battle of Surabaya sudah menampilkan upaya terbaiknya demi menjadi film animasi yang layak untuk ditonton. Ditambah lagi dengan dukungan dari hasil kerja bagus departemen suara dan musik film ini. Semua itu membuat Battle of Surabaya benar-benar sebagai pejuang yang berani mati dan merugi. Perjuangan ini perlu diapresiasi.

 

Resensi ini dimuat di harian Pikiran Rakyat pada Agustus 2015.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s