Sendiri Diana Sendiri yang Subtil dan Akibat Poligami

maxresdefault

Wajah Diana pada awal film Sendiri Diana Sendiri di depan teras rumahnya merupakan semburat perempuan yang sedang alami ketenangan bercampur kehampaan dan nelangsa. Diana, yang diperankan Raihaanun, memang sedang sendiri kala itu. Anaknya, Rifki, tengah bersekolah. Suaminya, Ari, berada di kantor. Adapun Diana tinggal di rumah. Sebagai ibu rumah tangga yang baik, ia setia menanti kepulangan dua orang kesayangannya itu.

Naratif film pendek Sendiri Diana Sendiri karya Kamila Andini ini kemudian memastikan bahwa Diana adalah wajah perempuan urban-kontemporer dari kelas masyarakat ekonomi menengah, baik di negeri ini maupun negara lain yang lebih maju. Di mana tak sedikit perempuan pekerja yang kemudian beralih jadi ibu rumah tangga pasca menikah, baik karena sukarela maupun permintaan suami. Begitu pula Diana. Walau motivasinya tak terlalu jelas dalam menjadi ibu rumah tangga, apakah karena dorongan hati atau suami.

Yang pasti, cerita Sendiri Diana Sendiri kemudian memperlihatkan secara tersirat bahwa Diana sejatinya adalah perempuan yang dulu pernah mandiri dan pernah menjadi pekerja kantoran. Pernikahannya dengan Ari (Tanta Ginting) lah yang menyebabkan dirinya membunuh sepi dengan termangu di depan rumah.

Sampai akhirnya, ketika penantiannya jadi berujung kekecewaan, Diana pun melawan patriarki. Ari, yang kerap pulang dari kantor ketika Rifki (Panji Rafenda Putra) sudah terlelap, adalah pembuat kecewa itu. Pada sebuah malam, ia mengajak Diana berbicara empat mata. Rupanya, ia sudah bikin rencana yang matang untuk memadu sang istri. Diana kaget bukan kepalang, dan tidak langsung menyetujui suaminya melakukan poligami.

Namun, Ari bukanlah meminta izin untuk berpoligami, melainkan memberi tahu hal yang akan dilakukannya. Hal yang diyakininya tak salah dari sudut pandang Islam. Pria yang berparas teduh, berjenggot tipis, efisien dalam berbicara, dan tampak mampu menahan emosi itu meyakini bahwa keberadaan istri kedua yang merupakan teman lamanya dan sepengajian itu tak akan berdampak pada hubungannya dengan Diana. Sedangkan Diana beranggapan sebaliknya.

Maka, Diana hanya bisa menahan tangisnya. Sembari itu, ia memoles dirinya supaya lebih dicintai suami. Namun, ia juga mengadu kepada keluarga mertua. Ayah, ibu dan adik-adik Ari kaget. Mereka tidak menyetujui Ari beristri dua. Sang ayah sampai berkata bahwa ia tidak pernah mengajarkan anaknya berlaku seperti ini sebagai seorang suami. Akan tetapi, seperti bunyi puisi Kahlil Gibran “Anakmu Bukan Milikmu”, Ari bukanlah replika ayahnya.

“Namun jangan sodorkan pemikiranmu, sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri,” tulis pujangga tersohor kelahiran Lebanon tersebut dalam puisinya tentang anak-anak itu.

Adegan pertemuan keluarga ini diramu Kamila secara jeli dan intens dengan berfokus kepada Diana dan Ari. Sutradara yang sebelumnya menggarap The Mirror Never Lies pada tahun 2011 ini paham bahwa bagaimanapun ini adalah masalah rumah tangga yang bersifat privat. Maka, kamera pun terus menyasar muka Diana dan Ari secara close-up. Adapun perkataan ayah, ibu dan adik-adik Ari hanya bisa terdengar saja.

Dengan penataan kamera seperti ini, makin terlihat dan terasa tekanan psikologis yang diterima Ari dari keluarganya sendiri. Diana pun merasa di atas angin. Adegan ini juga mempertunjukkan kelas kekuatan akting Raihaanun (Badai Pasti Berlalu dan Lovely Man) dan Tanta Ginting (Soekarno: Indonesia Merdeka dan Guru Bangsa: Tjokroaminoto). Mimik aktor-aktris ini mampu memberikan peneguhan soal keyakinan mereka terhadap alam pikirannya masing-masing. Tak mengherankan jika kemudian Ari akhirnya mengaku telah menikah lagi, Diana pun tak kuasa menahan tangisnya lagi.

Di sini, Raihaanun berhasil tidak mengeksploitasi rasa kecewa, sedih dan marahnya, sehingga juga tidak melahirkan tangisan yang meledak-ledak. Tangisan tersebut justru menyiratkan ada perasaan yang terpendam dan ditahan-tahan Diana. Perasaan inilah yang kemudian menjelma jadi bentuk perlawanan Diana terhadap sang suami. Ia mulai bekerja kantoran lagi, berkumpul dengan rekan-rekan sekantornya selepas jam kantor, dan akhirnya semua itu membuat Ari murka, tak lagi bisa menahan emosinya.

Nyaris saja film ini memperlihatkan terjadinya laku kekerasan lebih banyak dalam rumah tangga, tetapi Kamila Andini menyetopnya. Sebab, Sendiri Diana Sendiri sejatinya adalah film yang subtil. Sejak awal film, kesubtilan ini sudah menyeruak lewat termangunya Diana di depan rumah. Kesubtilan juga terlihat dari cara Ari dalam menyampaikan niatannya untuk menikah lagi tanpa melontarkan kalimat.

Kesubtilan juga muncul berulang kali, baik lewat perilaku para tokohnya maupun saat Kamila Andini memaksimalkan ruangan-ruangan rumah untuk menunjukkan absennya figur kepala keluarga dalam keluarga kecil itu. Tak mengherankan ketika Diana mendadak teriak di dalam kamar mandi karena ada kecoa, Rifki dengan tenangnya bersikap lebih dewasa. Bukannya memukul kecoa dengan gagang sapu, misalnya, ia malah menangkap kecoa itu dengan serbet, lalu membuangnya ke luar rumah.

Inilah cara yang subtil untuk menggambarkan bahwa Diana sebenarnya juga tetap membutuhkan figur pria yang dapat memberikannya rasa aman. Sekalipun begitu, lewat karakter Diana dan akhir film ini, sikap dan pandangan Kamila yang menentang poligami sudah terpampang jelas dan tak bisa ditawar-tawar lagi. Seperti film pertamanya, The Mirror Never Lies, Sendiri Diana Sendiri juga kembali memperlihatkan kekuatan Kamila dalam mengamati fenomena sosial lalu menuturkannya tanpa perlu berlaku eksploitatif, apalagi melodramatis. Ia juga memilih untuk berpihak kepada kalangan yang terdesak.

Walhasil, Sendiri Diana Sendiri berbeda dengan film-film Islami Indonesia terdahulu yang memuat isu poligami, sebut saja Ayat-Ayat Cinta (Hanung Bramantyo, 2008). Sendiri Diana Sendiri tidak cerewet untuk menjelaskan tentang penafsiran dan kewajaran praktik poligami dalam kehidupan umat Islam dengan ayat-ayat suci. Film produksi babibutafilm ini juga justru memberikan tawaran cukup berbeda dan sifat manusiawi dalam memperlihatkan karakterisasi muslim yang taat jika dibandingkan dengan film Islami lainnya yang juga berkisah tentang poligami.

Alih-alih, ikhlas menjalani dan tetap meyakini pilihannya untuk berpoligami, Ari akhirnya malah mengeluh. Sikap ini bertolak belakang dengan bunyi nasihatnya kepada Diana sewaktu akan berpoligami bahwa ikhlas bakal menciptakan keadaan tanpa masalah. Namun, kenyataannya tidak begitu. Diana tidak merasa baik-baik saja, begitu pula yang dialami Ari. Maka di akhir film, Diana mencoba untuk melepaskan masalah agar semua kembali jadi baik-baik saja.

Resensi ini pertama kali terbit di Muvila.com.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s