Eksis di Jalur Sidestream

Adegan dari film indie Novel Tanpa Huruf R.
Adegan dari film indie Novel Tanpa Huruf R.

Komunitas pecinta film indie bertahan di tengah gempuran Hollywood.

Jari-jari pria itu dengan licah menyalakan rokok kretek. Asap rokoknya memenuhi sudut ruangan yang berdinding ramai oleh beberapa poster film, seperti Beth, Novel Tanpa Huruf R, dan Betina. Tiga film itu diproduksi Tits’s Production pimpinan Aria Kusumadewa, si perokok itu. “Ini film terbaru saya. Judulnya Tuhan Beri Aku Kentut. Script-nya baru jadi kemarin,” ungkap Aria sambil memperlihatkan print-out naskah skenarionya pada medio April lalu.

Tuhan Beri Aku Kentut ditulis dan akan disutradarai oleh Aria Kusumadewa. Film-film Aria kerap diidentikkan dengan film independent atau indie. Film-filmnya berjenis film feature panjang. Tapi film indie tidak hanya film feature panjang. “Film indie itu spirit dan sistemnya. Entah produksi atau distribusi. Jadi bentuknya bisa pendek, panjang, dokumenter. Asal pas film itu dibuat, memang pure film itu harus dibuat. Karena alasan kreatif saja,” jelas Lulu Ratna, pendiri Boemboe Organization, suatu wadah pengembangan film pendek di Indonesia.

Dalam dunia film, kata independent bisa dimaknai beragam oleh para pembuat film. Tergantung juga pada realitas di mana film itu berpijak. Di dalam industri film Hollywood, kata independent ini lahir. Penyebabnya karena studio-studio film berkuasa lewat sistem monopoli. Akhirnya, film indie yang diproduksi di luar studio besar muncul pada tahun 1953 untuk melawan sistem industri Hollywood. Cirinya, sistem kerja lebih kecil, fleksibel, dan berstandar estetika yang berbeda. Temanya menyuguhkan realisme kompleks, individual, dan ‘berbeda’ (cutting edge).

Di Hollywood, sistem produksi oleh studio besar yang dijadikan objek perlawanan. Di Indonesia, kondisinya berbeda. Soalnya, perfilman Indonesia belum menjadi industri dan tidak ada studio film besar sebagai objek pemberontakan. Tapi tanpa disadari, bagi Aria, sebenarnya film indie secara tiba-tiba menjadi bagian dari perlawanan terhadap sistem yang mapan. Dan itu tidak dirumuskan, tapi lahir begitu saja.

Alex Sihar juga menilai, dalam konteks Indonesia, kata indie paling cocok digantikan dengan gerilya. “Karena memang itu sifatnya. Produksinya gerilya. Film yang dibuat Miles dan Kalyana juga bisa dibilang film indie, karena nature-nya sama. Tujuannya bikin film. Bukan membalikkan modal,” jelasnya. Alex Sihar adalah Direktur Yayasan Konfiden, organisasi terbuka bagi siapa pun yang punya minat dan ketertarikan pada dunia perfilman, terutama film indie.

Di Indonesia, kata indie mulai populer tahun 1998-1999. Banyak pembuat film berkarya dengan mandiri. Tujuannya, agar filmnya jadi dan ditonton orang, tanpa berpikir soal pemasaran dan distribusi. “Itulah semangat independensi itu, karena tidak tergantung pada kebutuhan produser bermodal besar, televisi, atau yang lain,” ujar Alex.

Munculnya film indie erat kaitannya dengan peran komunitas film indie. Komunitas ini lahir juga akibat berubahnya konstelasi politik Indonesia dan revolusi teknologi video digital. Setelah produksi film nasional mandeg sejak awal 1990-an, komunitas film indie menjadi anak perubahan zaman. Hingga saat ini, komunitas film indie menjadi bagian dari perlawanan terhadap struktur dominan. Umumnya, komunitas film indie bertipe, yaitu studi, eksebisi, dan produksi. Tapi ada pula gabungan ketiganya.

Eksistensi komunitas film indie pada awal 2000-an tak bisa dianggap remeh. Dari komunitas ini lahir banyak sineas muda sukses yang berlatar pendidikan bukan dari sekolah film. Salah satunya, Angga Dwimas Sasongko. Ia menilai penting komunitas film indie, karena bisa menjadi non-formal class dan share knowledge untuk orang-orang yang ingin belajar film. Baginya, itu adalah elemen penting agar pembuat film bisa terus beregenerasi. Alex menambahkan, “Komunitas itu berperan penting. Soalnya, komunitas ini adalah garda depan pembelajaran audio visual dan visual interest. Komunitas inilah pembentuk pasar penonton bioskop.”

Sejak SMA, Angga aktif membuat film pendek. Karya-karyanya menoreh prestasi di beberapa ajang festival film pendek. Angga juga sering kumpul dengan sesama pembuat film indie di gedungDUA8, Kemang. Tempat yang berfungsi sebagai ruang cipta seni dan budaya lintas batas. Tahun 2002, gedungDUA8 berarti penting bagi Angga, karena di situ ia bisa bertemu dan belajar dengan orang-orang film, seperti Farishad Latjuba, Salman Aristo, Hanung Bramantyo, Faozan Rizal, dan Eric Sasono.

“Ya karena kita dekat. Satu komunitas. Walaupun komunitas itu tidak pernah mengklaim dirinya komunitas, karena kita cuma kine klub. Non formal lah, karena kita cuma kumpul-kumpul saja di gedungDUA8,” cerita Angga.

Dari situ, Angga kecemplung dalam dunia film nasional. Ia sempat menjadi second assistant director dalam film Catatan Akhir Sekolah. Juga membuat behind the scene film Jomblo. Bahkan, ia telah membuat film layar lebar pertamanya, Foto, Kotak, dan Jendela. Dari film komedi romantis ini, bisa dibilang, menjadikan Angga sebagai sutradara termuda yang pernah membuat fim layar lebar. Foto, Kotak, dan Jendela sendiri berkarakter indie dan dibuat dengan format digital. Awalnya, film ini berbujet Rp 1,2 miliar. Tapi, mundurnya investor membuat bujet diketatkan menjadi Rp 300 juta.

Setelah jadi, film ini urung beredar di jaringan bioskop. Penyebabnya, regulasi perfilman di negara ini belum dapat mengakomodir skema produksi dan distribusi yang dilakukan Angga. Akhirnya, film ini bergerilya di beberapa kampus, seperti Universitas Indonesia dan Universitas Pelita Harapan. Tak cuma di kampus, film ini juga diputar di JiFFest 2006 dan Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2006. Terakhir, film ini diputar di Kineforum TIM.

“Waktu di Kineforum, kita bikin buku komentar. Mungkin 90 persen komentarnya bagus. Ya buat gue, itu reward lah dari yang kita kerjain kan,” tutur Angga yang kini sedang konsentrasi untuk film layar lebar keduanya, Jelangkung 3.

Namun sekarang, laju perkembangan komunitas film indie lagi mandeg. Alex menilai wajar kalau komunitas ini berguguran. Soalnya, basis komunitas yang terbesar adalah kampus. Jadi tidak ada sistem regenerasi yang baik. Penyumbat perkembangan ini juga karena tidak ada infrastruktur dan suprastruktur penunjang aktivitas mereka. Film butuh fasilitas ruang untuk dipertontonkan. Tapi nasib film indie belum mujur. Film indie umumnya berbujet rendah, jadi kerap sulit diterima oleh jaringan bioskop besar. Ditolak di jaringan bioskop besar yang berorientasi bisnis, film indie jadi butuh ruang presentasi khusus. Pemerintah diharapkan mendukung kebutuhan ini. Tapi, hingga saat ini, itu hanya menjadi harapan.

Bowo Leksono, sutradara film pendek dan dokumenter, mengalami persoalan ini. Ia bersama komunitasnya di Purbalingga, Cinema Lovers Community (CLC), dijegal oleh pemerintah daerahnya. Sejak Mei 2006, CLC mempunyai program pemutaran film indie bernama Bioskop Kita. Acara tiap bulan ini digelar di Graha Adiguna, kompleks Pendopo Bupati Purbalingga. Bowo ingin masyarakat kelas bawah, dari tukang becak hingga pedagang kaki lima, tidak segan masuk ke pendopo. Masuk bulan ketiga, tiba-tiba datang surat larangan penggunaan gedung itu.

“Alasannya, karena gedung itu prestisius. Gedung yang bukan untuk diputar untuk film dan untuk tidak digunakan bebas oleh masyarakat,” cerita Bowo.

Akhirnya, karena undangan pemutaran film sudah menyebar, malam harinya CLC membuat demostrasi kecil-kecilan. Hanya dengan duduk-duduk di depan pendopo. Tak lama, datang satu mobil Satpol Pamong Praja. Bowo pun berdebat. Demo itu akhirnya bubar. Momen penting itu direkam oleh Bowo dan Heru C. Wibowo dengan kamera video digital. Jadilah film dokumenter Bioskop Kita Lagi Sedih yang meraih penghargaan Film Terbaik di Festival Film Dokumenter Jogyakarta tahun 2006.

Lembaga perfilman di Indonesia, dinilai Aria, tidak mendukung kegiatan komunitas film indie karena tidak menyediakan ruang presentasi untuk film indie. Padahal, komunitas ini sangat banyak di daerah dan aktif berkarya. Film indie umumnya berformat digital, jadi butuh bioskop digital. Sayang, pemerintah di daerah belum berencana untuk membuat bioskop digital untuk film indie.

Aria berpendapat, jika tiap daerah punya satu bioskop digital, misal di Gelanggang Olah Raga (GOR). Maka seluruh komunitas film indie di daerah itu akan terus memproduksi dan terus berkembang. Soalnya sudah mempunyai tempat untuk distribusi. Aria sering menyambangi komunitas film indie di daerah-daerah. Jadi dia tahu banyak masalah-masalah yang dihadapi berbagai komunitas di daerah.

Aria, sejak tahun 2000, berinisiatif untuk membuat bioskop digital di GOR Bulungan. Propertinya dari dari dua buah kontainer. Air conditioner dan proyektor dimodali Aria. Tapi, ia tidak diberikan izin tempatnya. Ia tak tahu alasan penolakan itu. Hingga saat ini, Aria masih ingin membuat bioskop digital itu. Jika sedikit lebih kaya, ia akan membuat bioskop di rumahnya.

“Pemerintah kurang peduli, dan saya nggak punya kekuatan apa-apa untuk berteriak di tengah keramaian itu. Tapi saya nggak boleh cengeng. Saya distribusiin, saya jalan sendiri, nggak mikirin yang lain-lain,” tuturnya.

Ruang presentasi, bagi Aria, berkaitan dengan distribusi. Saat memutar Beth misalnya, Arya tak sengaja bersentuhan dengan jalur distribusi non-mainstream. Akibat banyak yang meminta pemutarannya, akhirnya Beth didistribusikan ke kampus-kampus. Banyak manfaat yang diperoleh selama filmnya beredar di jalur indie. Di kampus, Arya harus bertanggung jawab atas kritik yang muncul. Jadi bisa dapat input yang baik dan mendidik. Manfaat ini tak muncul jika diputar di jaringan bioskop besar.

Bicara film di Indonesia, memang tak lepas dari soal distribusi. Ini aspek penting, karena distribusi bisa membuat apresiasi film makin besar. Baik dari penonton dalam negeri atau pun luar negeri. Boemboe Organization adalah salah satu wadah yang bertujuan untuk membuka jalan bagi para pembuat film pendek agar membangun jaringan di dalam dan luar Indonesia. Fokus Boemboe adalah menciptakan ‘ruang bernafas’ untuk film pendek Indonesia di dunia dan mendukung kebutuhan pembuat film agar lebih profesional dan konsisten membuat film pendek.

Kata Lulu, “Boemboe bisa jadi penghubung bagi yang berminat di film pendek. Membuka jalur se-accessible mungkin.” Lulu sendiri sering mendapat hak pemutaran film Perancis dan Jerman untuk ditayangkan di Indonesia. Lalu film itu bisa diputar di acara-acara film di daerah. Dari daerah pun memberikan film-filmnya untuk diseleksi Lulu agar bisa dikirim ke pemutaran atau festival di luar negeri.

“Jaringan itu penting untuk itu. Itu fungsinya. Dan itu hal yang kurang dimengerti oleh kita, kalau film itu it’s all about networking. Nggak hanya distribusi,” jelas Lulu.

Ada juga Minikino yang memutar film-film pendek unik dari seluruh dunia ke penonton Indonesia dan sebaliknya. Minikino rutin mengadakan screening dan diskusi bulanan agar pembuat film punya kesempatan untuk memutarkan karyanya kepada penonton yang lebih luas. Tak cuma itu, Minikino juga menggelar festival film di dalam dan luar Indonesia dengan film-film internasional atau Indonesia yang unik. Jadi, penonton bisa melihat dan mendiskusikan film-film yang mungkin tidak pernah mereka bisa tonton di tempat lain.

Minikino mampu mendatangkan film-film pendek indie internasional karena peran Tintin Wulia, pendiri Minikino. Tintin Wulia yang juga sutradara film pendek ini memang aktif malang melintang di berbagai festival film pendek international. Film pendeknya sering diputar di luar negeri. Sekaligus dia membangun jaringan di luar dengan membawa berbagai film pendek dari Indonesia. Antara Minikino dengan organisasi lain juga saling berhubungan. Jika sedang membutuhkan film pendek indie, Minikino akan mengontak Boemboe atau Konfiden.

“Kita percaya banget kalau Konfiden itu database-nya lengkap. Memudahkan banget buat Minikino yang konsennya masih pemutaran, dan belum punya festival,” ujar Varadila, Program Manager dan Distribution Assistant Minikino.

Yayasan Konfiden sendiri programnya mencakup produksi film untuk tujuan non komersial. Misalnya, pembuatan visual proposal, workshop film, festival film independen, penelitian, penerbitan, dan perpustakaan film independen dalam medium apa pun yang accesible. Database ini dipandang penting oleh Alex. Karena jika film-film ini terdokumentasikan dengan baik, bisa menjadi bahan pelajaran. Jadi proses regenerasi bisa terjadi.

“Pendataannya sudah lumayan, hampir selesai semuanya. Yang kita mulai lagi digitizing. Kita juga sambil nyari duitnya. Kebayang kan bikin database mahalnya luar biasa. Nggak didukung pemerintah. Swadaya sendiri,” jelas Alex.

Konfiden juga mengadakan Festival Film-Video Independen Indonesia (FFVII) sejak tahun 1999 hingga 2002. Tahun 2004, Konfiden mengubah bentuk festival dari non kompetisi menjadi festival kompetisi. Namanya menjadi Festival Film Pendek Konfiden. Perubahan ini akibat karena munculnya berbagai komunitas film dan festival film indie dengan tema yang beragam di berbagai kota dan universitas. Workshop dan training film pun telah banyak digelar di berbagai perguruan tinggi di kota-kota besar. Begitu juga pembuat film indie yang terus bertambah jumlahnya.

Festival dinilai penting oleh Alex dengan fungsi yang berguna bagi pembuatnya dan penontonnya. Festival harus peka terhadap perkembangan politik dan keadaan masyarakat. Juga berfungsi sebagai tempat gathering semua pihak. Festival harus punya stand point. Konfiden sendiri sedang mendorong keragaman masyarakat, demokrasi, dan saling menghargai. Poin komunikasi pun menjadi penting, karena bagi Konfiden kemampuan komunikasi film Indonesia sedang lemah.

“Komunikasi jadi stand point sampai kita mengubahnya lagi kemudian. Jadi kita harus peka dengan perkembangannya sosialnya. Kalau nggak ada standpoint-nya, nggak ada gunanya. Akan menjadi menara gading saja,” ucap Alex.

Konfiden juga ingin untuk terlibat dalam proses pembentukan identitas ke-Indonesia-an lewat film indie. Lokalitas dan budaya adalah unsur yang penting dalam muatan film indie. Bowo Leksono menilai penting unsur ini karena akan mencirikan zaman. Sejarah dan karakter pembuat film dapat terekam, sehingga mudah dikenal dan dekat dengan masyarakat. Lewat film juga bisa terjadi penggalian budaya. Jadi, nanti di masa depan, mungkin masyarakat bisa mudah lebih memahami.

“Mungkin aku berpikir dari film ini, aku bisa bikin sejarah yang mudah diakses untuk masyarakat dengan bentuk audio visual,” ujar Bowo.

Film-film Bowo berkarakter khas. Ia berbicara tentang persoalan yang dekat dengannya. Dalam film pendek Peronika, Bowo bertutur soal masalah di daerahnya dengan bahasa Jawa logat Banyumas. Alhasil, Peronika diterima luas di publik daerahnya. Di film kedua, Bowo tidak sekedar memuat cerita atau lanskap lokal, tapi juga bahasa dan musik yang berbau Banyumas.

“Karena kalau karya harus punya ciri khas yang beda dari lain. Kalau aku nggak bikin, terus ada orang luar bikin, ya budayamu habis. Paling nggak aku lebih paham lanskap dan budayaku sendiri. Dan aku kira ini nggak akan habis,” ungkap Bowo, beralasan.

Tujuan film indie dibuat adalah murni ingin membuat film, tanpa pusing memikirkan soal membalikkan modal. Tak heran, cerita dalam film indie tak memedulikan tren pasar. Otomatis, pembuat film akan membuat ide cerita tidak biasa, karena mumpung sedang ada di ranah indie. Jadi, tidak ada yang menghalangi. Ini jelas berbeda jika bekerja dengan sistem baku yang mapan dalam industri film. Tentu ada ada bargaining dan toleransi yang harus dihadapi.

Karena itu pula, Aria membuat film yang isunya dekat dengan kesehariannya dan menjadi pergolakannya. Ide-ide awalnya sederhana. Dalam konsep kreatif membuat cerita, ia melakukan interaksi antara dirinya, ruang, waktu, dan peristiwa di sekitarnya. Dari situ akan menimbulkan penyerapan gagasan, tumbuh, lalu dikeluarkan. Proses kreatif ini sejalan dengan pendapatnya soal film indie sebagai film dengan spirit kebebasan.

Begitu juga proses kreatif film Tuhan Beri Aku Kentut. “Harus rilis tahun ini. Soalnya materi ceritanya agak aktual. Soal pilkada,” kata Aria.

*Laporan ini ditulis dan diterbitkan di sebuah majalah gaya hidup pada tahun 2007.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s