Si Dinamit Tua yang Tak Lupa Ajal

100

Judul film ini panjang, The Hundred-Year-Old Man Who Climbed Out the Window and Disappeared. Dari judul itu langsung jelas terlihat karakterisasi tokoh utamanya, yakni si pria uzur berusia 100 tahun. Namanya Allan Karlsson (diperankan Robert Gustafsson yang masih berusia 51 tahun), yang akan menggerakkan bandul cerita ke mana pun si Allan suka. Sebab, Allan bukanlah tipe orang yang punya tujuan. Dia hanya mengikuti bunyi dan efek ledakan dinamit ataupun bom.

Dinamit? Bom? Ya, itulah obsesi Allan sejak masih kanak-kanak tanpa penyebab yang jelas, sehingga menjadikan film layaknya upaya untuk merayakan nihilisme dengan semburan humor yang amat tidak biasa, bahkan nyaris absurd. Ketidakbiasaan gaya humor dalam film mengemuka sejak awal film.

Seperti Allan yang cuek-cuek saja meski sudah dikastrasi dengan alasan yang rasialis. Allan spontan minggat dari rumah jompo karena terpicu suara ledakan petasan tepat di perayaan hari ulang tahun ke-100-nya. Atau, Allan yang membeli tiket bus dengan tujuan ke mana saja asal harganya sesuai dengan jumlah uang di sakunya—karena Allan berprinsip, “The middle of nowhere is underrated.”

Tokoh lain dalam film ini pun tidak biasa dan tidak kalah absurd. Salah satu contohnya, seorang anggota geng motor yang dengan sembrononya menitipkan koper besar (ternyata berisikan banyak uang) kepada Allan, hanya karena dia ingin ke toilet dan kopernya tak muat untuk melewati pintu toilet. Pada akhirnya, koper besar itulah yang membawa masalah bagi Allan, Julius (Iwar Wiklander) dan Benny (David Wilberg). Dua nama terakhir ini adalah teman-teman yang ditemui Allan selama petualangannya.

Begitu jalinan cerita film (yang skenarionya ditulis oleh Felix Herngren, Hans Ingemansson, dan Jonas Jonasson) ini sudah melibatkan anggota geng motor yang dekat dengan dunia kriminal, maka film The Hundred-Year-Old Man Who Climbed Out the Window and Disappeared memiliki rasa mirip dua film Guy Ritchie, yakni Lock, Stock and Two Smoking Barrels (1998) dan Snatch (2000). Bedanya, The Hundred-Year-Old Man berupaya untuk mempertahankan diri layaknya seorang nihilis, walau dengan susah payah.

Ada kalanya Felix Herngren berhasil meramu adegan-adegan dengan nihilisme yang kental, ada kalanya nanggung, dan ada kalanya gagal total. Kegagalan paling kentara dalam menampilkan nihilisme ini muncul ketika Felix memfiksikan kontribusi Allan dalam peristiwa-peristiwa maupun perjalanan hidup tokoh-tokoh penting dalam sejarah di dunia. Mulai dari Francisco Franco, Joseph Stalin, Harry S. Truman, Julius Robert Oppenheimer, hingga Ronald Reagan. Dan, tentu saja kontribusi Allan kepada tokoh-tokoh itu tak bisa dilepaskan dari bom dan dinamit.

Ketika Allan berinteraksi dengan para tokoh itu dan menciptakan simpul-simpul sejarah rekaan yang penting akibat berbagai kejadian kebetulan, hasilnya memang jenaka dan membuat tertawa. Efek komedi seperti ini mirip ketika menonton Forrest Gump (Robert Zemeckis, 1994). Bedanya, Forrest Gump terlihat natural ketika menyelipkan tokoh utamanya dalam pelbagai kejadian bersejarah yang melibatkan para tokoh penting. Sementara dalam The Hundred-Year-Old Man, karena ingin menciptakan komedi, tapi malah jadi seakan-akan parodi. Film ini pun terlihat ingin mengolok-olok secara ambisius, namun jadi kehilangan nyawa asli kelucuannya yang tidak biasa itu.

Akibat lainnya, peluang The Hundred-Year-Old Man untuk menyamai kecerdasan duet sutradara bersaudara Joel dan Ethan Coen dalam meramu humor-humor yang nihilistik lewat No Country for Old Men (2007) pun terbuang sia-sia. Walau begitu, tetap harus diakui bahwa ada beberapa rangsangan jalinan cerita dan dialog dari film Swedia ini tetap bisa bikin tawa jadi terasa getir dan pahit tanpa kehilangan sifat naturalnya.

Di titik inilah kontribusi keberhasilan akting Robert Gustafsson dalam menghidupkan kerentaan Allan Karlsson sekaligus sifat nihilisnya. Sosok Allan adalah wakil dari ketidakberdayaan sekaligus kekuatan dari usia tua yang tetap bisa meledak layaknya dinamit. Lewat dialah kita bisa merayakan usia tua secara jenaka, tanpa perlu lupa, muram dan resah pada akan tibanya ajal.

Film The Hundred-Year-Old Man Who Climbed Out the Window and Disappeared ini diputar dalam Europe on Screen 2015.

Resensi ini terbit di Muvila.com pada 6 Mei 2015.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s