Project Almanac, Lubang Besar dalam Interpretasi

Movie Review Project Almanac, Lubang Besar dalam Interpretasi

Pendekatan found footage yang dipakai dalam pembuatan Project Almanac memainkan fungsi penting. Dengan visual seperti itu, jelas bahwa sutradara Dean Israelite, dalam debut film layar lebarnya ini, berupaya untuk membentuk fiksi menjadi realita yang senyata-nyatanya. Apalagi, film science fiction memang punya tugas untuk membuat penonton jadi percaya terhadap segala kecanggihan teknologi dan proses penciptaannya yang tampil dalam film. Project Almanac memang mampu menyuguhkan semua itu, tapi hanya itu. Karena selebihnya, narasi film ini mudah tertebak.

Project Almanac adalah tentang David Raskin (Jonny Weston). Ia murid berotak cemerlang yang tengah berjuang untuk dapat beasiswa kuliah. Ia dan keluarganya sudah tak punya uang banyak. Ayahnya wafat saat David berusia tujuh tahun. Maka, hanya ibunya yang menjadi penopang perekonomian keluarga. Akan tetapi, kini ibunya pengangguran. Di tengah himpitan kesulitan itu, David menemukan kamera video usang milik ayahnya. Rekaman video di dalamnya lalu mengantarkan David kepada Project Almanac, sebuah proyek mesin waktu kerjaan ayahnya yang belum sempat terselesaikan.

Bersama dua sohib karib, Quinn (Sam Lerner) dan Adam (Allen Evangelista), serta adik perempuannya, Christina (Virginia Gardner), David mencoba untuk menyempurnakan mesin waktu bikinan ayahnya itu. Tahap demi tahap eksperimen dijajal mereka. Jessie (Sofia Black D’Elia), gadis yang ditaksir David, lalu ikut membantu di tengah-tengah tahapan eksperimen. Berhasil. Mereka lalu meloncat dari satu momen ke momen lainnya di masa lampau. Mesin waktu mereka pakai untuk kepentingan pribadi. Tindakan-tindakan yang mereka lakukan tanpa pikir panjang itu tinggal menunggu waktu untuk berubah jadi kacau balau.

Kekacaubalauan yang akhirnya terjadi ini tak mengagetkan sebenarnya. Jika dibandingkan dengan film-film tentang time travel populer dengan para tokoh dari kalangan remaja, sebut saja trilogi Back to the Future karya Robert Zemeckis atau The Butterfly Effect garapan Eric Bress dan J. Mackye Gruber pada tahun 2004, narasi Project Almanac tak menawarkan kebaruan. Secara umum, model narasinya seperti ini: mesin waktu sudah sukses tercipta, problem utama si tokoh utama berhasil diatasi berkat mesin waktu, lalu si tokoh utama terpancing untuk menggunakan mesin waktu untuk ambisi atau hasrat personalnya, dan kekacauan pun terjadi.

Meski dari segi narasi begitu-begitu saja, tapi Project Almanac mampu menyajikan satu hal yang segar, yakni menyerap energi melimpah dari kehidupan remaja atau anak muda urban-kontemporer dan mempresentasikannya secara energik dalam film. Di bagian ini, pendekatan found footage yang dipakai Dean Israelite dan sinematografer Matthew J. Lloyd memegang peran krusial. Dengan kamera yang terus bergerak mengikuti para tokohnya, energi anak muda itu dapat tampil secara otentik di layar.

Adegan penting untuk menggambarkan keotentikan ini adalah saat David cs asyik menonton band-band populer idaman mereka di festival musik Lollapalooza 2013 di Grant Park, Chicago. Adegan ini sendiri benar-benar direkam di tengah perhelatan Lollapalooza. Begitu pula lagu-lagu hit milik band Imagine Dragons dan Atlas Genius yang dimasukkan ke dalam film. Lewat adegan di Lollapalooza ini juga terlihat jelas bahwa salah satu motivasi penting dari tindakan David dalam menggunakan mesin waktu dipicu oleh ketertarikannya kepada Jessie. Sayangnya, kehadiran Jessie dan fungsi karakternya bagi tindakan-tindakan David di film ini mengarah kepada seksisme.

Bukan cuma itu. Di sela-sela para tokohnya sedang asyik menikmati kemustajaban mesin waktu dalam narasi Project Almanac, tak lupa terselip pula pertanyaan-pertanyaan terkait dengan persoalan etika—isu yang kerap diobrak-abrik dalam film-film science fiction. Wujud dari persoalan etika ini dapat dilihat ketika para tokohnya (manusia) tak mampu lagi memegang kontrol atas teknologi yang sudah diciptakannya berkat sains. Mereka akhirnya alami rasa takut terhadap sains dan teknologi.

David Raskin adalah contoh utamanya. Dengan karakter yang masih remaja—sehingga disimpulkan belum punya pemikiran matang, berbagai tindakan David dan teman-temannya di film ini pun menjadi bisa dimaklumi. Namun, pantaskah pemakluman ini terjadi? Jawabannya bisa ya, bisa pula tidak. Soalnya, sekuens terakhir film ini memberikan ruang interpretasi yang cukup luas dan, sayangnya, juga menjadi lubang yang besar dalam penceritaan Project Almanac.

Resensi ini terbit pertama kali di Muvila.com pada 3 Februari 2015.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s