Furious 7 yang Gempita dan Sentimental, Itu Saja

Furious-7-900x506

Film Furious 7 dapat dinikmati dengan enak dan asyik apabila cara pandang kita dalam mengamati dunia tidak neko-neko. Maksudnya, tak perlulah kita repot-repot mencari relasi cerita Furious 7, semisal, dengan konstelasi sosial-politik dalam sebuah kawasan atau negara asalnya, Amerika Serikat. Walau sebenarnya, Furious 7, seperti juga film-film laga populer Hollywood lainnya, mencerminkan superioritas dan arogansi Amerika terhadap negara lain.

Paling gampang, lihat saja Fast 5 (Justin Lin, 2011) yang mengobrak-abrik jalanan Rio de Janeiro, Brazil. Itu tampak permukaannya, karena di baliknya Fast 5 jelas-jelas menggambarkan Brazil sebagai surga dunia bagi para pedagang narkoba untuk bekerja sama dengan aparat kepolisian. Seolah-olah, korupsi telah menggurita dalam otoritas keamanan Brazil, sehingga ironisnya dibutuhkan para pelaku kriminal yang dipimpin Dominic Torreto dan penegak hukum berotot kekar seperti Luke Hobbs untuk membongkar korupsi tersebut.

Tak perlulah pula kita menghubung-hubungkan Furious 7 dengan kepentingan ekonomi Hollywood dan Amerika di pasar global. Meski sebenarnya, Furious 7 mewakili ambisi kapitalisme Amerika. Ini bisa ditilik dari pemakaian dua pemain asal Asia Tenggara, seperti Tony Jaa dan Joe Taslim (dalam Fast & Furious 6). Sebab, selain Cina, Asia Tenggara kiwari adalah pasar yang juga sangat potensial untuk menambah pundi-pundi dolar bagi studio-studio besar distributor film Hollywood.

Ya, menonton Furious 7, dan juga film-film Fast & Furious sebelumnya, tidak usah seserius itu kalau tidak mau kenikmatan menonton bakal tereduksi. Film garapan sutradara James Wan ini benar-benar cuma ingin menjadi spectacle. Sebuah film yang minim menyuguhkan kesegaran struktur cerita maupun adegan action yang inovatif.

Cerita Furious 7 yang skenarionya ditulis oleh Chris Morgan ini masih terkait dengan kisah jilid sebelumnya. Deckard Shaw (Jason Statham) tiba-tiba mengancam kehidupan Dominic Torreto (Vin Diesel), Brian O’Conner (Paul Walker), Mia Toretto (Jordana Brewster), Letty Ortiz (Michelle Rodriguez), Roman Pearce (Tyrese Gibson), Tej Parker (Chris Bridges alias Ludracis), dan Luke Hobbs (Dwayne Johnson). Deckard ternyata kakak Owen Shaw (Luke Evans), penjahat yang dilumpuhkan Dominic cs di Fast & Furious 6.

Ya, sang kakak yang merupakan eks agen intelejen tangguh Inggris ini ingin balas dendam. Ia lalu mencabut nyawa Han (Sung Kang) di jalan raya Tokyo, Jepang, dan nyaris menewaskan Dominic, Brian dan Mia. Walhasil, saling balas dendam pun terjadi. Di tengah-tengah konflik itu, muncul Frank Petty (Kurt Russell) dan pasukannya untuk meminta tolong sesuatu kepada Dominic dengan imbalan Deckard Shaw. Hubungan mutualisme pun terjadi.

Dari sinopsis cerita itu, tampak Furious 7 boleh jadi tak mau mengambil resiko. Atau, memang sudah ajeg, nyaman dan menemukan formula suksesnya, sehingga para sineasnya tak mau repot-repot lagi menciptakan hal baru dalam tuturan maupun elemen-elemen film. Maka, film action berbujet raksasa (250 juta dolar AS) itu kemudian mengulang resep mujarab yang sudah kita cicipi dalam enam jilid film Fast & Furious sebelumnya. Resep yang diracik dari berbagai elemen.

Mulai dari kehadiran mobil bermesin turbo dan berknalpot racing yang meraung-raung, narasi yang didorong oleh amarah dan dendam, ansambel karakter-karakter yang melekat dengan semesta franchise Fast & Furious, hingga sajian shot-shot beberapa bagian tubuh perempuan. Untuk elemen yang disebutkan terakhir, bisa dikatakan James Wan melakukan eksploitasi dalam film ini. Dan, kita tahu, kata ‘eksploitasi’ mempunyai makna negatif. Eksplotasi di sini juga makin menegaskan Fast & Furious adalah seri film yang menggelorakan ideologi dan praktik patriarki dari pembuat film.

Dengan mengulangi resep seperti itu, tak ada yang mengejutkan lagi dalam jalinan kisahnya maupun konflik-konflik di dalamnya. Tak perlu ada twist atau kelokan cerita. Otomatis, tak ada adrenalin yang meletup-letup dalam tubuh kita saat menyaksikan film ini. Bahkan, ketika Brian berlari di atas sisi bus yang tengah merosot dari bibir jurang, sensasi yang tercipta biasa saja. Sebab, dia sudah pasti selamat. Lagi pula, adegan ini sudah berbulan-bulan lalu ditampilkan dalam trailer-nya. Jadi, sekali lagi, tak usah kaget atau deg-degan lagi.

Lalu apa yang menarik dari Furious 7? Harus diakui bahwa film ini menawarkan aksi-aksi spektakuler dengan dukungan efek visual ciamik, walau terkadang berimbas mematahkan nalar. Tapi, itu tak jadi persoalan. Karena, ketidaknalaran juga memang dihalalkan dalam film-film action blockbuster Hollywood, apalagi franchise Fast & Furious. Toh, gara-gara hal itu (baca: adegan aksi spektakuler tak bernalar) pula jutaan penonton dari berbagai benua di dunia jatuh cinta dengan franchise ini.

Maka, Furious 7 memang hanyalah sebuah spectacle yang cukup gempita. Furious 7, dan jilid Fast & Furious lainnya, adalah ilusi nyaris sempurna untuk memuaskan dahaga akan film yang menghibur dan memenuhi kebutuhan para penonton yang ingin sejenak melupakan masalah hidup sehari-hari. Dengan tolak ukur tersebut, film yang didistribusikan Universal Pictures ini terbilang berhasil. Ia mampu bikin penonton betah duduk di depan layar bioskop selama lebih dari 120 menit.

Apalagi, jangan lupakan faktor Furious 7 sebagai momen sejarah. Film ini adalah tribute untuk Paul Walker, yang meninggal dunia secara tragis akibat kecelakaan mobil pada November 2013. Paul Walker sudah amat melekat dengan kesuksesan franchise Fast & Furious. Karenanya, tokoh Brian yang diperankan Paul sangat dihormati oleh pembuat film Furious 7. Ia pun dipensiunkan dengan cara yang halus serta sentimental, tanpa perlu menghalangi daya potensi franchise Fast & Furious agar tetap berkelanjutan secara ekonomis.

Resensi ini terbit di Muvila.com pada 7 April 2015.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s