Daylight, Autisme dan Misteri dalam Keluarga

img-dutch-film-day-hero

Seekor ikan mati di akuarium yang elok milik Ageeth, lalu seorang pria dari jasaperawatan akuarium pun datang mengatasi masalah tersebut. Namun, Aron yang menyukai ikan-ikan di akuarium itu malah jadi menjerit histeris. Anak kecil yang mengidap autisme ini langsung ditenangkan ibunya, Iris Boelens. Kejadian kecil itu tak dinyana mulai menguak rahasia yang sudah bertahun-tahun dikubur oleh Ageeth (diperankan Monique van de Ven), ibunda Iris.

Ternyata, Iris memiliki seorang kakak pria, Ray Boelens namanya. Sejak adegan itu, napas drama film Daylight (judul aslinya: Daglicht) garapan Diederik Van Rooijen mulai tergantikan secara perlahan dengan napas thriller. Sebab, Ray yang juga austistik ternyata dikurung sejak lama di sebuah pusat rehabilitasi mental akibat menjadi terpidana atas kasus pembunuhan sang pasangan, Rosita (Maartje van de Wetering), dan bayi mungilnya, Anna. Namun, Iris yang berprofesi sebagai pengacara mencium ada hal-hal yang janggal dalam kasus hukum Ray.

Dia lalu mengungkit kembali kasus itu dan berusaha untuk membebaskan Ray—yang nama dan kondisi autistiknya mengingatkan kita pada tokoh Raymond dalam film Rain Man (Barry Levinson, 1988). Tentu saja pihak-pihak yang memang sengaja membuat kejanggalan di masa lalu itu tak terima dan merasa terusik. Mereka lalu bangun dari tidur nyenyaknya dan dengan sigap mengancam Iris.

Dalam narasi film yang diadaptasi dari novel populer karangan Marion Pauw ini, mereka alias para pembuat kejanggalan ini memang bukan sembarang orang, melainkan orang-orang yang punya kuasa. Seperti halnya penggambaran orang-orang yang kerap menyalahgunakan wewenang dan kekuasaan miliknya dalam film serupa lainnya, laku-laku para tokoh antagonis dalam Daylight juga didorong oleh harga diri. Mereka tidak ingin martabatnya sebagai anggota masyarakat yang terpandang tercederai.

Namun karena motif harga diri itulah, dua penulis skenario Daylight, Philip Delmaar dan Simone Kome van Breugel, tampak kurang berani mengambil risiko dalam menggambarkan karakterisasi para antagonis, terutama jika dikaitkan dengan soal seberapa kuat dan penting posisi mereka dalam masyarakat. Seolah-olah pembuat film ini memang ingin menempatkan mereka dalam bayangan redup nan misterius. Seperti halnya sinematografinya hasil kreasi Lennert Hillege yang kerap berada dalam level pencahayaan yang rendah (low key lighting).

Boleh jadi, dampaknya pun sedikit banyak muncul dalam aksi-reaksi para antagonis ketika berhadapan dengan Iris. Ancaman mereka seperti tak bernyali dan kuat, kecuali kehadiran sosok seorang pria suruhan yang mengancam hidup Iris dan koleganya sesama pengacara, Lode (Victor Low). Skenario Daylight juga memiliki celah-celah kecil, dan sutradara Diederik Van Rooijen tak terlalu berhasil menutupinya. Walhasil, celah-celah kecil itu menjelma jadi petunjuk-petunjuk yang subtil dan berdampak jelek bagi twist di akhir cerita yang jadi terasa tidak terlalu menonjok.

Akan tetapi, sisi-sisi minus tersebut masih dapat disamarkan oleh Diederik yang merangkai adegan-adegan film ini melalui flashback dengan ritme ketegangan yang intens, pelan, tapi menuju puncaknya. Bicara soal pemakaian flashback, hasil kerja departemen editing dalam film ini memang tak istimewa, tapi masih tepat guna. Arahan dari Diederik untuk akting para pemain utamanya (Angela Schijf sebagai Iris, Fedja van Huet sebagai Ray, dan si bocah Daniel Verbaan sebagai Aron) juga maksimal.

Hasil dari racikan penyutradaraan Diederik ini mewujud maksimal pada adegan akhir film, yang menjadi puncak dari akting dan interaksi Iris dan Ray. Adegan ini mampu menyentuh tanpa perlu mendayu-dayu untuk kemudian menjadi pembuka tabir baru kehidupan mereka.

Film Daylight dari Belanda yang pertama kali dirilis pada tahun 2013 ini sempat diputar di Europe on Screen 2015.

Resensi ini terbit di Muvila pada 6 Mei 2015.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s