Hope is a Mistake

madmax2

Senin di Jakarta dan Mad Max: Fury Road. Paduan yang cukup gila. Kenapa?

Pertama, hari Senin adalah soal keinginan melaju lebih cepat tapi ada saja yang menghambat, yakni orang-orang yang juga ingin lebih cepat. Kecepatan ini diharapkan oleh orang-orang yang ingin tergesa-gesa dan terkena pencitraan yang sudah terlanjur buruk tentang hari Senin.

Harapan akan kecepatan ini pula yang pada akhirnya membuat banyak orang terburu-buru. Entah itu terjadi di jalan atau tumpukan pekerjaan yang ingin segera dirampungkan. Maka, kita pun memanen stress. Apabila tak pandai mengelola stress, orang bijak sudah mewanti-wanti untuk berhati-hati, karena akibatnya kegilaan pun bisa datang.

Kedua, Mad Max: Fury Road. Makna ‘gila’ pada judulnya saja sudah jelas tersurat. Tapi, isi filmnya lebih gila lagi. Kisahnya tentang dunia apokaliptik. Akibat minyak, air jadi lenyap, tanah jadi asam. Padang pasir di sepanjang horizon. Manusia-manusia menggila. Tuhan baru bermunculan, tapi tak semua menyembahnya.

Ketika kematian memburu para protagonis dalam satu adegan, salah satunya berdoa dengan khidmat. Protagonis lainnya lalu bertanya kepada siapa doa itu dipanjatkan. Jawabannya: siapa saja yang mendengar. Inilah dunia di mana kenihilan dan harapan saling mengisi jika salah satu di antaranya absen.

Bisa jadi kenihilan itu memang berada di sisi kanan-kiri setiap orang agar selalu siap jika harus memangsa orang tersebut. Bisa jadi pula harapan tak selalu datang membawa niat baik. Seperti kata Max, eks polisi yang irit bicara dan selalu dihantui rasa bersalah itu, “Hope is a mistake.”

Barangkali Max sendiri merupakan seorang yang apatis dan nihilis. Atau, boleh jadi dia hanya memendam perasaan bersalahnya, dosanya, dan pikiran kalutnya, sehingga tak lagi mempercayai harapan. Walhasil, sewaktu dia justru melenggang pergi di tengah kerumunan orang-orang yang mengharap jatuhnya guyuran air di Citadel, sang heroine Furiousa pun memahami.

Orang seperti Max ini tentu banyak yang bernapas di luar bioskop. Hanya saja mereka bersembunyi demi alasan-alasan personal yang cukup mereka dan Tuhan saja yang tahu.

Satu jam sebelum saya menginjakkan kaki di bioskop, tepatnya di depan terminal Blok M, saya melihat wujud harapan, tapi bukan tipe harapan yang dimaksudkan Max. Di tengah raungan mesin bus dan teriakan para kondektur, ada seorang pria duduk di atas motornya yang terparkir di pinggir jalan. Kepalanya menoleh kanan-kiri. Seperti ada yang dia cari atau nantikan.

Tak lama kemudian, ada seorang perempuan yang berjalan santai dari arah kanan belakang menuju si pria. Ia lalu tersenyum. Di saat yang nyaris bersamaan, si pria juga menoleh ke arahnya. Si pria juga tersenyum, seakan menemui yang dia nanti-nantikan. Senyuman berbalas tolehan kepala itu adalah antara bentuk kebetulan atau perasaan yang sama.

Jika ternyata kebetulan, Max benar adanya. Hope is a mistake. Akan tetapi, apabila harapan adalah kesalahan, maka ada kutub kebenaran, bukan? Dan, kalau sudah salah begitu, bukankah kita tinggal putar balik menuju kebenaran?

Atau, mungkin lebih baik menunggu hari Jumat datang. Sebab, Jumat di Jakarta sudah berkali-kali terbukti lebih chaos daripada Senin. Barangkali di tengah kekacauan, kemunculan harapan bisa jadi lebih masuk akal, walaupun kelak berujung kesalahan.

Senin malam, 18 Mei 2015, di dalam bus TransJakarta menuju ke rumah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s