Asmara Klise dalam Assalamualaikum Beijing

MOVIE REVIEW  Asmara Klise dalam Assalamualaikum Beijing

Adegan awal film Assalamualaikum Beijing adalah tanda bahwa melodrama bakal menjadi senyawa penting dalam pengisahannya. Nama tokoh utamanya saja Asmara, yang dikhianati sang kekasih brengsek, Dewa (Ibnu Jamil), di malam menjelang pernikahannya. Pemeran Asmara adalah Revalina S. Temat, aktris yang sudah berkali-kali ditimpa kemalangan hubungan asmara dalam kisah-kisah dari belasan filmnya. Karena itu, sudah berkali-kali pula ia menangis dalam film-filmnya yang mempunyai napas serupa dengan Assalamualaikum Beijing, antara lain Perempuan Berkalung Sorban (Hanung Bramantyo, 2009), Satu Jam Saja (Ario Rubbik, 2010), Tanda Tanya (Hanung Bramantyo, 2011), hingga Hijrah Cinta (Indra Gunawan, 2014).

Berbekal pengalaman aktingnya itu, sutradara Guntur Soeharjanto lalu memberi Revalina tiga tugas sebagai Asmara ketika bekerja jadi wartawan di Beijing, China, beberapa bulan setelah pernikahannya gagal terlaksana. Pertama, Asmara harus membuat pemandunya, seorang pemuda yang tak beragama asal China, Zhongwen (Morgan Oey), terkesan kepadanya hingga kemudian jatuh cinta. Untuk tugas pertama ini, berdasarkan dampak penampilannya secara fisik, Revalina berhasil dengan mulus dengan dukungan tata busana dan departemen kamera. Lihatlah kerja kamera film ini, yang ditangani Enggar Budiono, dengan secara tepat guna bisa menampilkan sisi kecantikan yang menenangkan dari Revalina dengan jilbabnya.

Sayang, hal ini tidak dibarengi dengan konsistensi karakterisasi Asmara. Sebab, sejak awal, kita dipaparkan tentang karakter Asmara yang kuat dalam menerapkan aturan-aturan dan nilai-nilai ajaran agama Islam. Paling tidak itu terlihat dari tak mau bersentuhan dengan pria yang belum menjadi muhrimnya. Akan tetapi, skenarioAssalamualaikum Beijing juga menggambarkan Asmara yang, maaf, ganjen. Perhatikan saja adegan ketika Asmara ditelepon sahabat karibnya, Sekar (Laudya Cynthia Bella), ketika tengah bertemu dan bercakap-cakap pertama kali dengan Zhongwen di bus.

Demikian juga Zhongwen, yang diceritakan mampu bicara memakai bahasa Indonesia. Di satu sisi, Zhongwen terlihat amat fasih berbahasa Indonesia dengan logat dan pilihan kosa kata yang meyakinkan. Tetapi, pada pertemuan pertama dengan Asmara di bus yang mengejawantahkan pernyataan “jatuh cinta pada pandangan pertama”, dia bahkan tak tahu makna kata ‘ganteng’. Sepele memang. Namun, ini tanda bahwa ada kemasukakalan (plausibility) yang tercederai dalam penceritaan.

Kalau ditilik lagi, kelemahan dalam skenario seperti ini bukan yang pertama kali terjadi dalam film produksi Maxima Pictures. Contoh termutakhir adalah 99 Cahaya di Langit Eropa (Guntur Soeharjanto, 2014) yang menempatkan para tokohnya mampu berbahasa Indonesia, walau mereka berasal dari bangsa dan negara berbeda. Dalam kasus 99 Cahaya di Langit Eropa ini, kemasukakalan penceritaan bukan hanya tercederai nyaris ke titik nadirnya, tapi juga memperlihatkan kemalasan dari pembuat film dan aktor-aktrisnya. Untunglah, kesalahan fatal itu tak terlalu diulangi oleh Assalamualaikum Beijing.

ASMARA YANG GENIT

Tugas kedua yang dibebankan kepada Revalina adalah berakting sebagai Asmara yang bisa memicu dan mempengaruhi Zhongwen untuk akhirnya memutuskan jadi mualaf. Di tugas kedua ini, Revalina terasa canggung untuk menuntaskannya. Padahal, karakter Zhongwen digambarkan tak sedang bergulat dengan spiritualitasnya dalam film ini. “Saya percaya Tuhan, tapi masih ragu dengan agamanya,” ujar Zhongwen suatu kali. Tetapi, ia tak pernah mendebat secara keras hal-hal yang menyangkut agama dan ketuhanan kepada Asmara. Tak pernah pula Zhongwen mengutarakan kerisauan-kerisauan dirinya tentang peran Tuhan terhadap kehidupannya, seperti yang belum lama ini dilakukan oleh tokoh Mada dalam Haji Backpacker (Danial Rifki, 2014). Karena itu, semestinya tugas kedua Asmara ini tak terlalu sulit dilakukannya.

Di sinilah, skenario film memang jadi pangkal masalahnya. Alim Sudio, sebagai penulis skrip, sedari awal begitu terburu-buru dan tak piawai dalam mencari jalan agar tokoh Zhongwen mendapatkan hidayah. Dampak buruknya, tokoh Asmara jadi terlihat genit. Begitu pula sosok wanita berjilbab lainnya dalam film ini, Sekar, yang rupanya memiliki kadar kegenitan jauh lebih besar ketimbang Asmara.

Sekar, yang gemar menonton serial drama Korea Selatan ini, sampai memelesetkan nama Zhongwen menjadi Cung-cung. Sekar pula yang berperan besar untuk mendorong Asmara agar mencari tahu agama maupun keyakinan Zhongwen. Ia juga yang akhirnya meyakinkan Asmara agar menjatuhkan hatinya kepada Zhongwen. Motivasi semua itu, bisa dibilang, lebih banyak dipicu bukan oleh ajaran agama, melainkan fantasi Sekar tentang pria idaman akibat persinggungannya selama ini dengan produk-produk budaya pop kontemporer, seperti drama roman dari Korea Selatan. Padahal, Sekar sendiri sudah bersuamikan seorang pria muslim, Ridwan (Deddy Mahendra Desta). Dari sini, jelaslah bahwa Assalamualaikum Beijing bukan tengah memperlihatkan gaya hidup (yang benar-benar) Islami. Atau, inikah gaya hidup Islami yang modern menurut versi pembuat film?

MELODRAMA KLISE

Tugas ketiga Revalina sebagai Asmara, yaitu menghantarkan melodrama dalam film ini, bisa disebut yang paling berhasil. Seperti yang sudah diutarakan sebelumnya, Reva memang punya rekam jejak cukup baik dalam memerankan perempuan muslim berjilbab yang dibekap problem kehidupan domestik (rumah tangga), seperti tokoh Annisa dalam Perempuan Berkalung Sorban, Menuk dalam Tanda Tanya, dan Pipik dalam Hijrah Cinta. Dan, seperti halnya peran Reva dalam tiga film itu, dalamAssalamualaikum Beijing, Asmara sebagai tokoh perempuan juga mampu memicu pilihan tindakan Zhongwen sebagai tokoh protagonis pria. Bahkan, Asmara juga bikin Dewa (dengan kualitas akting seadanya Ibnu Jamil), yang terus mengajaknyabalikan, mundur untuk selama-lamanya.

Namun, keberhasilan Revalina di tugas ketiganya ini masuk dalam ukuran standar. Bukan sebuah hal yang di atas rata-rata, apalagi luar biasa. Sebab, melodrama dalam Assalamualaikum Beijing sebenarnya pun tak beranjak jauh dari struktur dan pengisahan klise film-film melodramatis Indonesia beberapa tahun belakangan ini yang kerap mengaitkan kondisi sekarat maupun kematian tokoh utamanya dengan hubungan cinta segitiga. Sebut saja Satu Jam Saja (2010) atau BrokenHearts (Helfi Kardit, 2012). Dampak kehadiran Revalina dengan akting tipikal, kisah dan penuturan melodrama yang klise memperlihatkan bahwa film Assalamualaikum Beijing tak menawarkan apa pun. Kecuali, memupuk benih rasa bosan terhadap cerita-cerita seperti ini.

Adanya balutan nilai-nilai Islam, yang dikombinasikan dengan tampilan Beijing dan sedikit kehidupan muslim di sana, dalam kisah film Assalamualaikum Beijing sejatinya tak memiliki peran strategis untuk membedakannya dengan film-film Islami atau religi Indonesia lainnya. Terutama sejak Ayat-Ayat Cinta (Hanung Bramantyo, 2008) sukses dan memicu lahirnya film-film serupa dengan isian nilai-nilai Islam dan konflik cinta segitiga. Sebab, toh pada akhirnya, Assalamualaikum Beijing hanya bertutur tentang Asmara atau rasa cinta terhadap pria yang disukai. Terdengar familiar?

Resensi ini terbit di Muvila.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s