Merry Riana yang Tak Mau Bokek

merry-riana-film-2-h

Film Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar membuka kisahnya dengan gambaran ringkas kerusuhan Mei 1998—sebuah peristiwa kelam menjelang milenium baru di Indonesia yang jarang dijadikan latar cerita oleh pembuat film layar lebar. Kala itu, kerusuhan tak cuma membuat banyak korban jiwa melayang, tapi juga bikin banyak warga keturunan Tionghoa didera ketakutan. Sebab, para perusuh melampiaskan amarah kepada mereka, sehingga tak sedikit yang bernasib celaka: dilukai, diperkosa bahkan dicabut nyawanya.

Merry Riana (Chelsea Islan) beserta keluarganya adalah salah satu dari warga yang ketakutan itu. Mereka buru-buru berkemas dan pergi, tanpa lupa menggantungkan papan identitas bertuliskan “milik pribumi” di pagar rumah. Ayah Merry (Ferry Salim) membayar mobil ambulans untuk mengungsikan istri dan anak-anaknya. Namun kamuflase itu diketahui perusuh. Mereka dirampok dan nyaris saja dianiaya jika ayah Merry tidak mengeluarkan uang. Lalu, berkat upaya keras ayahnya, Merry dibelikan tiket pesawat ke Singapura. Ia dibekali laptop dan sedikit dolar Singapura untuk bertahan hidup di sana.

Dari sekuens pembukanya tersebut, film adaptasi dari buku Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar karya Alberthiene Endah—yang juga menulis skenarionya bersama Titien Wattimena dan Rahabi Mandra—ini berpotensi untuk sajikan dimensi yang personal dari perspektif korban dalam memandang peristiwa kerusuhan Mei 1998. Apalagi, gara-gara peristiwa itu, Merry terpaksa berangkat sendiri ke Singapura sembari menunggu orang tuanya menyusul. Tiba di sana, Merry bingung karena sang paman yang seharusnya jadi tumpuan hidup ternyata telah minggat dari apartemennya. Untungnya berkat internet dan Ibu Noor (Niniek L. Kariem), ia bisa bersua dengan kawan lama, Irene (Kimberly Ryder), dan bermalam di kamar asramanya di Nanyang Technological University.

Namun, setelah dipergoki oleh petugas keamanan dan tak tahu harus tinggal di mana, Merry ambil jalan pintas. Ia ikuti tes masuk untuk menjadi mahasiswi Nanyang, karena dengan begitu ia bisa tinggal di asrama dan hidup di Singapura meski dengan jatah uang saku pas-pasan. Setelah lulus tes, Merry memanfaatkan fasilitas uang pinjaman dari kampus untuk biayai kuliahnya. Itu pun dengan garansi dari Alva (Dion Wiyoko), mahasiswa senior asal Indonesia di Nanyang. Kebergantungan Merry pada akhirnya kepada Alva terus berlanjut, meski tak selalu diinginkannya. Mereka jadi akrab, jatuh cinta, dan bikin Irene cemburu buta.

Di sisi lain, Merry juga jadi punya penghasilan yang lumayan karena main saham atas ajakan Alva. Akan tetapi, kebahagiaan Merry tak terus menanjak. Agar menarik dan sesuai dengan formula naratif film yang sarat dengan aksi-aksi inspirasional, sebut saja Sang Pemimpi (Riri Riza, 2009), Menebus Impian (Hanung Bramantyo, 2010) atau 12 Menit: Kemenangan untuk Selamanya (Hanny R. Saputra, 2014), dramatika cerita harus menjatuhkan sang tokoh utama ke titik tersialnya. Maka, terjebloslah Merry Riana sebelum akhirnya bangkit kembali untuk meraih satu juta dolar pertamanya di luar negeri pada usia 26 tahun.

SIKAP AHISTORIS

Perihal Merry mendapat uang satu juta dolar memang tak dipaparkan dalam film, walau benar terjadi dalam kehidupan nyata Merry Riana. Naratif film garapan Hestu Saputra ini seakan hanya memberikan modal awal untuk bisa menghasilkan sejuta dolar dan memahami karakter diri Merry yang berjuang hidup mandiri serta agar sukses di negeri orang. Maka sesuai judulnya, frasa ‘sejuta dolar’ di film ini memang baru sebatas mimpi, sehingga justru jadi terasa hiperbolis. Seperti halnya energi dan luapan emosi dalam akting Chelsea Islan yang berlebihan di beberapa adegan, sehingga menjadikannya tampak artifisial.

Boleh jadi Hestu sengaja mengarahkan akting Chelsea seperti itu supaya sesuai dengan luapan emosi anak muda—Merry dikisahkan baru lulus SMA ketika kerusuhan meletus pada Mei 1998. Akan tetapi, jika memang begitu, maka yang makin kentara adalah sikap ahistoris pembuat film. Lewat penggambaran singkat keluarga beserta atribut-atribut dan barang yang dimiliki Merry di awal film, si tokoh utama ini datang dari keluarga kelas ekonomi menengah dari era Orde Baru. Dari gerak-geriknya saat awal hidup di Singapura, terlepas dari faktor usianya yang masih belia, Merry juga terlihat bukan tipe orang yang mandiri.

Ketika ia menjadi mahasiswa Nanyang lalu bertahan hidup berkat jatah uang saku dari kampus dan besar upah pekerjaan yang tak seberapa maupun profit gede dari transaksi saham, motivasi Merry hanya satu: mendapat uang dan bosan bokek. Sedangkan saat ia berhasil bangkit lagi, motivasinya berganti jadi demi meraih kesuksesan dan kebahagiaan. Ambisi-ambisi personal ini adalah pengejawantahan yang banal atas arti nama Merry Riana, yang berarti bahagia.

Yang mengejutkan, selama tinggal di Singapura, Merry ternyata sudah mengabaikan kemalangan yang nyaris menimpanya saat kerusuhan. Peristiwa menyeramkan itu tampak tak berdampak pada diri maupun identitasnya. Hal yang amat berbeda jika dibandingkan dengan tokoh utama dalam film pendek Huan Chen Guang (Ifa Isfansyah, 2008) yang mencoba lupakan masa lalunya gara-gara peristiwa kerusuhan Mei 1998.

Saat ibunya (Cyntia Lamusu) datang menengok, Merry bilang ingin pulang ke Indonesia karena merasa gagal hidup di Singapura. Tak terlihat rasa takut maupun trauma, seperti yang hadir dalam film May (Viva Westi, 2008), apalagi, misalnya, pertanyaan maupun kegelisahan seputar ihwal identitasnya sebagai warga keturunan Tionghoa di Indonesia. Merry Riana dalam film ini alhasil memiliki ciri-ciri yang sesuai dengan gambaran antropolog Niels Mulder tentang Orde Baru Babies. Yakni, anak-anak muda kelas menengah yang apolitis, berpikiran sempit, tak punya sejarah sifat kepedulian, dan berpikir bahwa kebahagiaan dapat diukur barang atau uang (konsumerisme).

Sikap ahistoris pembuat film juga terwakilkan dari elemen-eleman tata artistik maupun mise-en- scene yang tak sesuai zamannya dalam Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar. Mulai dari Irene yang memakai ponsel iPhone di era 1990-an akhir, latar tempat di bangunan-bangunan modern Singapura yang sejatinya belum ada di akhir abad 20, hingga product placement produk dagang masa kini—satu  ciri yang kerap muncul dalam film-film produksi MD Pictures, tengok saja Di Bawah Lindungan Ka’bah (Hanny R. Saputra, 2011) dan Habibie & Ainun (Faozan Rizal, 2012). Di titik ini, film Merry Riana telah menyia-nyiakan ilusi yang sudah dibangunnya.

Sinema sendiri memang penuh ilusi, karena bisa menghadirkan hal-hal yang tidak ada menjadi ada atau eksis. Film Merry Riana mengandung ilusi itu sekaligus juga, beribu-ribu sayang, mereduksi besar-besaran dampak dari peristiwa kerusuhan Mei 1998 yang berurat-akar dengan masalah kompleks kehidupan sosial di Indonesia pada era itu (dan mungkin juga era sekarang). Merry Riana dengan gampangnya menyejajarkan peristiwa penting bangsa yang sudah menjadi dosa sejarah itu dengan ambisi personal yang selalu bertalian dengan uang. Sesuai perilaku sang tokoh utama, Merry Riana, yang tak mau bokek.

*Resensi ini pertama kali dimuat di Muvila.com pada 6 Januari lalu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s