Aksi Setengah-setengah Pendekar Tongkat Emas

pendekar-tongkat-emas-inline-1

Sejak awal, Pendekar Tongkat Emas tidak diniatkan oleh para pembuatnya sebagai film laga atau film martial art semata. Mira Lesmana, produser, dan Ifa Isfansyah, sutradara, menyebut Pendekar Tongkat Emas sebagai film drama martial art sekaligus juga sebagai wujud kerinduan terhadap film-film silat klasik, seperti Panji Tengkorak, Si Buta dari Gua Hantu, Si Pitung, Si Bongkok, ataupun Pendekar Bukit Tengkorak. Dari sebutan ‘drama martial art’ saja sudah terpampang jelas bahwa elemen dramatika cerita semestinya mempunyai porsi lebih besar dan mendahului peranan elemen martial art dalam film Pendekar Tongkat Emas ini. Nyatanya memang begitu. Dramatika dalam film berbujet Rp 25 miliar ini menjadi kunci ketimbang kekuatan sakti si Tongkat Emas yang dipegang Cempaka.

Cempaka (Christine Hakim) ialah Pendekar Tongkat Emas terakhir sudah pensiun dari dunia persilatan. Demi kesempurnaan ilmu dan rasa kemanusiaan, ia tinggalkan perguruan lalu menetap di pondok reot bersama empat muridnya. Biru (Reza Rahadian), Gerhana (Tara Basro), Dara (Eva Celia), dan Angin (Ariah Kusumah). Anak-anak macan, begitu Cempaka menyebut keempat muridnya yang setia. Sebab, Biru, Gerhana, dan Dara sejatinya adalah anak-anak kandung dari para pendekar musuh yang sudah dibunuh Cempaka. Adapun Angin, si murid termuda, dibesarkan dan diajari ilmu silat karena perasaan bersalah atas dosa terbesar Cempaka.

Namun, siapa manusia yang bisa benar-benar dan selamanya menjinakkan anak macan. Seimut apapun parasnya anak macan, tapi saat dewasa, macan adalah predator alami dan mempunyai insting kuat untuk bertahan hidup dengan membunuh makhluk yang lebih lemah. Lihat saja si Richard Parker, Macan Benggala dalam film Life of Pi (Ang Lee, 2012). Ia selalu ingin menerkam Piscine Molitor “Pi” Patel ketika awal-awal hidup berbagi sekoci di tengah samudera. Lama-kelamaan, Richard jadi jinak asalkan terus diumpan daging segar. Namun ketika Pi berhasil mencium daratan, Richard Parker langsung meloncat dari sekoci dan masuk ke hutan tanpa menengok lagi ke Pi.

Kisah hidup Cempaka tak jauh berbeda. Biru dan Gerhana berkhianat. Dua murid itu ternyata menyimpan dendam kepada Cempaka yang telah mencabut nyawa orang tua mereka. Terlebih, Cempaka justru memilih Dara, muridnya yang paling lemah, untuk menjadi pewaris Tongkat Emas dan jurus pamungkas mematikan Tongkat Emas Melingkari Bumi. Biru sebagai murid terkuat Cempaka tidak terima. Bersama Gerhana, ia menghabisi Cempaka, dan mengambil Tongkat Emas dari genggaman Dara. Fitnah disebar dua anak macan pengkhianat. Dara dan Angin disebut jadi pembunuh Cempaka. Dunia persilatan pun geger. Perguruan lain terhasut lalu ikut memburu Dara dan Angin.

Beruntung, Elang (Nicholas Saputra) menyelamatkan Dara dan Angin. Pemuda misterius ini ternyata tahu rahasia dan dosa hidup Cempaka. Elang juga tahu keberadaan Naga Putih, pendekar yang dicari Dara dan Angin untuk menuntaskan tugas Cempaka. Kelindan interaksi, kepentingan, dan konflik antara para karakter dari dunia pendekar ini sebenarnya menjadi modal yang menjanjikan sebagai pondasi bangunan dramaturgi. Semestinya, kelindan yang membebat para karakter ini dapat menggugah emosi. Apalagi ada alunan musik komposisi Erwin Gutawa yang menopang penuturan cerita dan visual alam Sumba Timur sebagai latar tempat yang cantik.

Namun, sayang, rasa yang diletupkan dari tuturan cerita, konflik yang menyertainya, maupun karakter-karakter dalam Pendekar Tongkat Emas hadir setengah hati. Semacam emosi yang lahir dari hati yang sudah membeku, layaknya wajah dingin khas Elang (atau Rangga?) yang diekspresikan Nicholas Saputra. Meski Reza Rahadian sudah berakting maksimal dengan mengkombinasikan ambisi, dendam dan sifat bengis, tetapi Pendekar Tongkat Emas tak berhasil memunculkan rasa geram yang meluap-luap layaknya yang dimunculkan tokoh Uco (diperankan Arifin Putra) dalam The Raid 2: Berandal.

Hal ini patut disayangkan. Soalnya, naratif Pendekar Tongkat Emas dibangun di atas pondasi bernama perasaan bersalah dan dendam. Jika dipadukan, dua emosi itu tak cuma mampu menguras amarah, tapi juga air mata. Seperti yang ditunjukkan Eva Celia (sebelumnya ia membintangi Adriana, Jamila dan Sang Presiden, dan omnibus Takut: Faces of Fear), baik saat Dara menangisi tewasnya Cempaka dan Angin maupun kala melawan Biru dan Gerhana, dua objek pelampiasan amarahnya. Namun, ada satu hal penting yang tak terlihat dalam film, padahal hal itu menggambarkan kompleksitas karakter Dara.

Mengapa si anak macan satu ini memilih tetap jinak dan setia kepada sang guru Cempaka yang notabene telah membunuh orang tuanya? Skenario Pendekar Tongkat Emas (yang ditulis oleh Jujur Prananto, Mira Lesmana, Ifa Isfansyah, dan Seno Gumira Ajidarma) luput memberi alasan tentang hal ini. Pada akhirnya, kelemahan skrip ini berdampak pada penyutradaraan Ifa. Ia kurang cakap mengarahkan akting beberapa pemainnya, terutama Eva dalam menampilkan karakter Dara yang kompleks itu. Walhasil, sisi terdalam atau inner circle (wilayah di mana diri dan konflik timbul berkat elemen-elemen internal alamiah, yakni pikiran, tubuh dan emosi) Dara tak mencuat di depan kamera. Kita hanya melihat Dara yang ingin membalas dendam.

Catatan memang perlu diberikan kepada Ifa Isfansyah, yang sebelumnya punya performa baik dalam menggarap Garuda Di Dadaku (2009), Sang Penari (2011). Dalam Pendekar Tongkat Emas, bukan cuma kepiawaiannya dalam mengarahkan pemain yang tak terlihat, tapi ia juga tak mulus dalam menyajikan dramatika cerita sebagai bagian dari interpretasinya terhadap skenario. Penempatan kamera yang dioperasikan sinematografer Gunnar Nimpuno dan sebagian besar pilihan shot yang dipakai Ifa untuk memvisualisasikan adegan pertarungan juga malah tak memperlihatkan keistimewaan koreografi bela diri yang ditata Xiong Xin Xin.

Kamera terlalu dekat merekam aksi silat pemain, sehingga kependekaran para tokohnya tak terlihat dan terasa. Padahal, Nico, Reza, Tara, Eva, Ariah, sampai Christine Hakim tampak sudah berusaha keras dalam memberi emosi kepada jurus-jurus silat hasil koreografi Xiong Xin Xin itu. Sayang sekali. Apalagi di tengah situasi bahwa penonton film dunia tengah melongok ke Indonesia karena keberhasilan dua jilid film The Raid dalam menyajikan penataan adegan pertarungan yang rumit dan berkelas. Alih-alih, adegan pertarungan maupun semesta dunia silat yang disajikan Pendekar Tongkat Emas justru tampak setengah-setengah.

*Resensi ini terbit di harian Pikiran Rakyat edisi Minggu, 3 Januari 2015.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s