Oka Antara dan Rara Wiritanaya Dijodohkan Dewa Asmara

Oka-Antara-Rara-Wiritanaya-Valentine-H
Photo by: Daniel Kampua

Oka Antara dan sang istri, Rara Wiritanaya, jatuh cinta secara pelan-pelan lewat percakapan. Mereka berjanji tidak akan memisahkan ketiga anaknya.

Cupid, sang dewa cinta dalam mitologi Yunani, melesatkan anak panahnya kepada Oka Antara dan Rara Wiritanaya pada tahun 2007. Namun dua orang berdarah Bali ini tidak sadar telah tertusuk panah itu, apalagi melihat wujud Cupid. Saat itu, mereka hanya sedang siap-siap untuk bekerja bareng dalam sebuah sinetron yang dibikin rumah produksi Frame Ritz.

Pertemuan itu pun bukan yang perdana. “Ketemuan pertama kali sih sebelum sinetron itu, cuma kenal-kenalan saja, dan terus lost contact. Mulai rutinnya pas syuting sinetron itu,” Rara bercerita. Satu-satunya penunjuk nyata bahwa Cupid hadir secara diam-diam kala itu adalah judul sinetron yang akan dibintangi Oka dan Rara: Dewa Asmara.

Kalaupun bisa dicari tanda lainnya, barangkali cerita sinetron Dewa Asmara itu sendiri. Sebab, di situ mereka memang harus berakting saling jatuh hati. Terlibat cinta lokasi alias cinlok kah mereka? Sambil tertawa, Rara menolak ‘tuduhan’ itu. “Nggak tahu deh itu kami deny atau gimana,” ucap Rara.

Meski disangkal, tapi Rara tak kuasa menolak garis nasib. Sebelum syuting Dewa Asmara mulai, ia menjalani syuting sebuah film televisi (FTV) dengan para kru yang kebetulan juga akan terlibat dalam sinetron produksi Frame Ritz tersebut. Mereka pun asyik menggoda Rara.

‘Ciee Rara nanti ketemunya sama yang Bali juga nih ye‘, kata kru. Hari-hari pertama (syuting Dewa Asmara) dicanda-candain begitu juga. Cuma lama-lama beneran kepincut sih,” kata perempuan yang pernah menjadi presenter acara infotainment ini sambil tersenyum.

Efek tusukan anak panah Cupid terhadap Oka dan Rara rupanya tak segera bereaksi. Terlebih lagi, mereka juga tak percaya pada mitos ‘cinta pada pandangan pertama’. Oka meyakini sepasang manusia bisa saling jatuh cinta lewat percakapan. Seperti yang terjadi pada dirinya dan Rara. Sekitar setahun berpacaran, mereka lalu merasa mantap untuk menikah pada 11 Juli 2008.

Alasan ‘sama-sama nyambung‘, meski terbilang standar, tetap krusial di mata mereka untuk dijadikan pondasi kokoh bangunan rumah tangga. Alasan lain, bagi Oka, Rara adalah tipe perempuan yang tidak bertele-tele dengan keromantisan. Kami adalah dua orang dewasa yang bertemu dan tidak saling menuntut, kata Oka.

“Tapi, at the end of the day, perempuan cuma ada dua. Satu yang cenderung ke karier, satu yang cenderung ke rumah. Gue waktu itu melihat sama saja dua-duanya,” ujar pria kelahiran 8 Juli 1980 ini, setahun lebih tua dari Rara.

Namun, seiring waktu berlalu kini Oka justru bersyukur karena Rara menjadi ibu rumah tangga. Ia sulit membayangkan jika tidak ada yang mengurus anak-anaknya yang masih kecil di rumah. Saat ini, Oka dan Rara telah memiliki tiga buah hati. Akshara Isaka Raia (4 tahun), Narasima Ruga Antara (2 tahun), dan Kamayusa Yuri (1 tahun).

“Ketika gue sibuk, di rumah harus ada yang ngurus. Meskipun gue pada waktu pacaran itu nggak berpikir untuk mencari istri yang bisa di rumah terus. Buat gue sama aja. Tapi kalau gue kerja, dia juga kerja, kasihan anak-anak gue,” ungkap Oka.

Sejak pertama kali bermain film layar lebar dalam Gue Kapok Jatuh Cinta garapan Thomas Nawilis dan Awi Suryadi pada tahun 2006, rutinitas syuting (film maupun FTV) memang menjadi santapan rutin Oka. Total ada 15 judul film yang sudah dibintangi Oka. Tahun lalu misalnya, ia harus jalani syuting film Killers dan The Raid 2: Berandal dengan jadwal berentet.

Killers garapan The Mo Brothers hingga kini masih tayang di bioskop sejak rilis 6 Februari lalu. Sedangkan pada 28 Maret nanti, kita akan menyaksikan lagi aksi laga Oka dalam film The Raid 2: Berandal. “The Raid kayaknya bagus, ya. Kalau lihat dia cerita atau kalau habis syuting dia kan suka ngasih cuplikan rekaman video waktu syuting,” ujar Rara, antuasias.

Namun jika bicara soal peran Oka dalam film yang paling Rara sukai, jawabannya antara bikin kaget dan tidak. “Yang paling saya suka sih pas dia di Perempuan Berkalung Sorban. Suka dengan sosok pria yang mulia,” ujar Rara sambil tertawa.

Sekadar mengingatkan, dalam film yang disutradarai Hanung Bramantyo itu Oka berperan sebagai Khudori, pria alim bersahaja yang menjunjung hak dan martabat perempuan. Dikisahkan pula dalam film itu, Khudori sempat kena fitnah berbuat zina dengan keponakannya, Anissa (yang diperankan Revalina S. Temat), sehingga nyaris dihukum rajam oleh massa.

Melihat kesibukan Oka dalam layar lebar maupun TV, apakah Rara masih tergoda untuk jajal seni peran lagi? “Masih, cuma kendala waktu saja, karena sekarang anak-anak masih balita, jadi masih masa-masa penting mereka. Nggak bisa sering-sering keluar. Kalaupun untuk kerjaan, untuk commercial yang sekali selesai,” kata Rara, yang memang membintangi beberapa iklan TV.

Namun jika ada tawaran iklan yang mengharuskan anak-anaknya ikut tampil, Oka dan Rara kompak menolak. Mereka tidak ingin anak-anaknya justru jadi terbebani. Sebab, bisa jadi orang lain akan mengharapkan lebih kepada anaknya gara-gara status sebagai anak pasangan artis. “Tapi bukan berarti gue menutup diri dan orang nggak boleh lihat kehidupan pribadi gue,” ungkap Oka.

“Kalau saya sama Oka saja nggak apa-apa, tapi kalau sama anak-anak, jarang sekali show up ke media. Kami jaga privasi ke arah situ. Mungkin tergantung juga segmennya untuk apa. Nggak ada masalah selama bukan yang dibikin drama atau kontroversi,” tambah Rara.

Oka dan Rara kentara betul menempatkan kepentingan keluarga di atas segala-galanya. Soal itu, Oka mempunyai alasan kuat nan sentimentil. Ia lalu membeberkan masa remajanya. Raut wajah Oka berubah jadi sendu dan nada suaranya mengecil sewaktu bercerita. Sejak kanak-kanak, Oka ternyata tinggal di Amerika Serikat, tapi kemudian harus kembali ke Indonesia karena ayahnya pindah tugas ke Indonesia. Ia berusia 15 tahun saat itu.

Perpindahan tersebut terpaksa memisahkan Oka dengan dua kakaknya, yang sedang kuliah dan akan berkarier di Amerika. Ia lalu diboyong orangtuanya ke Indonesia karena alasan biaya hidup. Oka pun tak bisa lagi merasakan lagi kedekatan antara kakak-adik. Maka dari itu, ia berjanji pada diri sendiri bahwa keluarganya tidak akan terpisah.

“Yang esensial dari keluarga adalah kedekatan. Gue ingin anak-anak gue tahu kalau orangtuanya itu selalu ada, dan adik-kakaknya akan selalu ada di sini. Gue nggak punya rencana untuk memisahkan mereka. Itu sebabnya punya anak tiga, karena jadi ramai. Gue kangen sama suasana begitu,” ungkap Oka.

Sepintas, bola matanya tampak berkaca-kaca.

*Artikel ini terbit di Muvila.com pada 26 Februari 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s