Dian Sastro yang Tak Kunjung Padam

Photo by: Jill Hendrawan
Photo by: Jill Hendrawan

Enam tahun absen main film layar lebar, Dian Sastro kembali lagi berakting lewat film komedi romantis 7/24.

Dian Sastrowardoyo tiba di gedung Balairung Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat pada Rabu terakhir di Agustus lalu dengan gaya pakaian dan rias wajah yang seolah diniatkan untuk berkamuflase. Berbeda dengan para calon wisudawati Program Magister UI yang banyak mengenakan setelan kebaya lengkap, Dian lebih memilih pakaian formal untuk hadir di acara gladi resik wisuda itu. Maka dari segi penampilan, sesungguhnya Dian tak mencolok. Apalagi kemudian ia mengenakan toga. Tetapi, bukan berarti aura popularitas yang ada di dalam diri Dian Sastro memudar.

Rupanya, banyak wisudawan-wisudawati dari program Magister UI lainnya yang telah berniat untuk berfoto bareng dengan Dian. Alhasil, tak hanya ada antrean untuk foto bareng dengan Pejabat Rektor Universitas Indonesia, Prof Muhammad Anis, di dalam gedung Balairung itu. Dian Sastro pun menciptakan barisan antrean baru. Cukup lama ia meladeni satu per satu para mahasiswa S2 itu dengan senang hati. Namun, semua hal di dunia ini ada batasnya. Ketika Febyana Christanti, wisudawati Program Magister Ilmu Komunikasi UI, menghampiri Dian, muncul kekecewaan.

Bentar ya, saya mau duduk dulu,” kata Feby, mengulangi ucapan Dian kala itu. Raut wajahnya ditekuk, kata Feby. Ia lalu menjauhi Dian dan batal untuk minta foto bareng. Pengagum Dian Sastro sejak film Ada Apa Dengan Cinta? sukses bikin sibuk loket-loket bioskop pada awal tahun 2002 itu lantas mangkel. Kepada teman-temannya, Feby menumpahkan kekecewaan. Ada yang hanya tertawa. Ada pula temannya yang membela Dian dengan bilang, “Mungkin dia capek, tadi soalnya antrean yang mau foto bareng sama Dian panjang banget.”

Feby kini berusia 25 tahun. Saat film AADC berhasil menjual tiket lebih dari dua juta penonton 12 tahun silam, Feby masih duduk di bangku SMP. Ia termasuk salah satu dari begitu banyak remaja, laki-laki maupun perempuan, yang tersedot magnet film drama remaja hit produksi Miles Films itu. Dian pun mengakui fakta bahwa penonton AADC umumnya para pelajar SMP, SMA, bahkan Sekolah Dasar. “Orang-orang yang dulu relate sama si Cinta, mungkin sekarang udah, either kuliah, kerja atau udah punya anak,” ujar Dian.

Karenanya, Dian meyakini, para penonton AADC dulu merupakan calon penonton potensial dan harapan perfilman Indonesia di masa kini. Buktinya tak susah. Tengok saja mini drama Ada Apa Dengan Cinta? 2014 yang dirilis Line pada 7 November lalu. Belum sampai dua minggu, mini drama berdurasi 10 menitan itu telah ditonton lebih dari 4,1 juta kali di YouTube. Mira Lesmana, sang produser AADC, juga terkena imbas mini drama Line tersebut. Dia dibombardir rentetan permintaan dari banyak orang untuk menggarap sekuel AADC.

“Berarti kita punya harapan nih. Kalau misalnya mereka pas masih muda terpikat oleh film Indonesia, berarti sekarang bukan tidak mungkin mereka masih mau mencoba menonton film Indonesia. Karena yang dikhawatirkan adalah generasi sekarang, yang sekarang masih SMA, apakah mereka segitu percayanya dengan industri film Indonesia? Apakah mereka mau ke bioskop dan nonton film-film Indonesia? Belum tentu loh. Karena mereka nggak ngalamin fenomena AADC,” ungkap Dian di bilangan Senayan, 28 Oktober lalu.

Menurut peraih Piala Citra untuk kategori Aktris Terbaik Festival Film Indonesia (FFI) 2004 ini, para penonton remaja sekarang lebih menyukai film-film blockbuster Hollywood, seperti The Avengers, ketimbang film-film lokal dari Indonesia. Inilah tantangan baru bagi para pelaku industri film Indonesia, yakni menggarap penonton lokal di Indonesia. Dian Sastro penuh semangat menjelaskan opininya itu. Terlebih lagi, pada 27 November mendatang, film layar lebar terbaru yang dibintanginya, 7/24, akan dirilis di bioskop-bioskop Tanah Air.

Dalam film komedi romantis produksi MNC Pictures tersebut, Dian adalah Tania, seorang eksekutif muda yang jatuh sakit dan dirawat sekamar dengan sang suami, Tyo (diperankan Lukman Sardi), yang lebih dulu ambruk sakit. Seperti halnya problem Cinta dalam AADC, Dian kembali tak bisa lepas dari persoalan cinta dalam film garapan Fajar Nugros itu. Bedanya, 7/24 mengandung roman yang lebih dewasa ketimbang AADC. Tak pelak, Dian pun senang bisa berakting dalam film yang sesuai dengan usia dan latar belakang hidupnya sekarang.

“Industri film Indonesia udah memberikan film yang nggak hanya untuk penonton remajanya, tapi juga penonton seumur gue. Kayaknya yang dulu nonton AADC juga sudah setua gue. Mestinya kan udah punya keluarga dan punya anak. Kayaknya udah waktunya mereka nonton film-film yang lebih relate sama mereka sekarang juga,” papar ibu dua anak ini.

Film 7/24 juga menandakan comeback-nya Dian Paramita Sastrowardoyo dalam film layar lebar. Sudah enam tahun perempuan berusia 32 tahun ini absen main film. Selain AADC, ia sudah membintangi beberapa film, antara lain Pasir Berbisik (Nan T. Achnas, 2001), Puteri Gunung Ledang (Saw Teong Hin, 2004), Banyu Biru (Teddy Soeriaatmadja, 2005), Ungu Violet (Rako Prijanto, 2005), Belahan Jiwa (Sekar Ayu Asmara, 2005), 3 Doa 3 Cinta (Nurman Hakim, 2008), dan Drupadi (Riri Riza, 2008).

Selepas berakting dalam Drupadi yang juga diproduserinya, Dian sempat berpikir bahwa industri film bukan untuknya. Ia sudah bersiap-siap untuk alih profesi dan berpikir tak bisa benar-benar menggantungkan hidup dari industri film. Lagi pula, Dian merasa kecewa terhadap pengelolaan perfilman Indonesia. Sejak kemenangan film Ekskul di FFI 2006, ia dan para pelaku industri film yang tergabung dalam organisasi Masyarakat Film Indonesia (MFI) memprotes dan mengembalikan Piala Citra yang telah mereka menangkan. “Saya ikhlas. Ya udah lah memang bukan rezeki gue, what ever, dan it’s just a piala. Penghargaan itu sebenarnya kan adalah sesuatu yang lebih abstrak daripada apresiasi dari masyarakat,” ungkapnya.

Polemik ini berbuntut panjang. Dian sempat menjadi saksi ahli dalam rangkaian sidang uji materi Undang-Undang Perfilman oleh Makhamah Konstitusi (MK). Salah satu poin yang diuji dalam sidang itu adalah membubarkan Lembaga Sensor Film (LSF), karena dinilai tak memiliki parameter jelas dalam penyensoran film, sehingga malah merugikan hak konstitusional pelaku industri perfilman. Namun akhirnya, pada 30 April 2008, MK menolak permohonan hak uji materi tersebut dari MFI itu.

Terkait proses sidang itu, Dian punya pengalaman yang bikin dirinya terkejut. “Gue ke Jogya, ditanyain sama tukang pos. ‘Mba Dian ngapain sih ke Mahkamah Konstitusi segala? Emang Mba Dian mau buat film porno, ya? Terus gue juga harus ngejelasin ke ibu-ibu yang waktu itu jualan di pasar basah. Terus gue mau ngomong apa? Jadi aktor tuh memang paling apes. Grass roots,” cerita Dian.

Akhirnya, Dian memutuskan untuk menjadi pekerja kantoran sebagai konsultan Sumber Daya Manusia (SDM) di Hay Group, sebuah perusahaan konsultan besar, selama 3,5 tahun. “Saya lalu nikah. Punya anak. Sekolah S2 (di Magister Manajemen Jurusan Manajemen Keuangan Universitas Indonesia, red), nggak ada hubungan dengan film,” ucap Dian.

Pada Sabtu pagi, 30 Agustus 2014, Dian Sastrowardoyo diwisuda. Namanya masuk dalam daftar 95 wisudawan-wisudawati dari Magister Manajemen jurusan Manajemen Keuangan yang lulus dengan predikat cum laude, atau separuh dari rekan-rekan seangkatannya. Dalam artikel kolomnya “Mooryati Soedibyo, Dian Sastro, dan Metakognisi Susi Pudjiastuti” di Harian Kompas edisi 3 November lalu, Prof Rhenald Kasali, Guru Besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, menyimpulkan pencapaian Dian di bangku kuliah S2 begini:

“Itulah mental kejuangan, yang kini disebut ekonom James Heckman sebagai kemampuan nonkognisi. Dian lulus cum laude dari S-2 UI, dari ilmu keuangan pula, yang sarat matematikanya. Padahal, bidang studi S-1 Dian amat berjauhan: filsafat.”

Dan, pada Kamis pekan depan, ketika film 7/24 dirilis, akan menjadi salah satu momen pembuktikan lainnya bagi Dian Sastro. Apakah pelita diri dan popularitasnya benar-benar tak kunjung padam? Apapun hasilnya kelak, sambil setengah bercanda di depan lebih dari 170 orang yang memadati Galeri Indonesia Kaya demi menonton dan diskusi film Drupadi, Dian sudah sampaikan peringatan, “I’m back on screen! Yang lagi ‘in’ tuh pemain-pemain film beranak dua, sis!”

*Artikel ini terbit di Muvila.com pada 20 November lalu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s