Maryam, Indah dan Mengusik Hati

maryam-review-muvila-h

Maryam adalah gambaran atas eksistensi sekaligus wakil kita dalam film. Maksud ‘kita’ di sini adalah orang-orang Indonesia kebanyakan, yang bukan dari kelas menengah pendorong ekonomi negeri ini. Maryam adalah bagian dari berjuta-juta warga Indonesia yang menjadi penopang masyarakat kelas menengah. Bahkan, Maryam pun sejatinya juga adalah kita, yang suka mengaku-ngaku sebagai bagian dari masyarakat kelas menengah. Sebab, Maryam, dalam narasi film pendek karya Sidi Saleh (sebelumnya sutradarai film pendek Fitri, Full Moon, sinematografer Postcards from the Zoo, Babi Buta yang Ingin Terbang, dan film lain), tunduk pada orang yang menempati kelas di atasnya, yakni sang majikan, Nyonya.

Pada satu malam jelang Hari Natal, Maryam (Meyke Vierna), ditinggal pergi oleh Nyonya dan anaknya, Sinyo. Selain ditugaskan menjaga rumah, Maryam juga harus mengurusi Tuan (Adrianto Sinaga), adik Nyonya yang autis. Dengan nada tegas dan gestur angkuh, sang Nyonya cuma meninggalkan satu nomor telepon yang boleh dikontak Maryam jika amat mendesak. “Disimpen tapi jangan ditelepon,” kata Nyonya. Ia juga menyuruh Maryam agar jangan lupa mengunci pintu, jendela, dan tidak membolehkan ada orang lain masuk ke rumah. Sebelum pergi, Nyonya tak lupa ucapkan selamat Natal kepada pembantu rumah tangganya yang berjilbab dan ternyata sedang hamil itu.

Setelah itu, Maryam alami rentetan momen kejadian yang mengetuk, mengusik, hingga menguji batin dan religinya. Tuan ingin hadiri misa Natal di gereja. Maryam tak kuasa menolak, apalagi tega membiarkan Tuan berangkat seorang diri ke gereja. Lagipula, ia sudah dititahkan Nyonya untuk mengurusi Tuan. Maka berangkatlah mereka berdua ke gereja. Tak pelak, Maryam sangat kagok ketika berada di rumah Tuhan-nya Tuan. Ia lalu mengadaptasi diri secara kilat supaya merasa nyaman berada di tengah jemaat misa Natal. Akan tetapi, deritanya belum usai. Maryam tertekan dan hanya bisa menangis. Belum lagi ditambah tatapan dan lirikan jemaat misa terhadap polah Maryam dan Tuan.

Lewat adegan Maryam berada di dalam gereja yang sarat dengan simbol-simbol agama itu, Sidi Saleh menyajikan berlapis-lapis makna dari imaji tentang iman dan religi. Sutradara merangkap sinematografer Maryam ini juga mengajukan pertanyaan mengusik yang menukik ke dalam batin perihal posisi dan peran kita—dari kelas ekonomi mana pun—dalam masyarakat yang pluralis dan komunal. Film ini tentu tak menghidangkan jawabannya secara gamblang, apalagi banal. Sidi mempersilahkan kita untuk memaknai dan merasakannya sendiri lewat kesalehan Maryam yang ditantang oleh kesalehan jemaat dari agama lain.

Upaya Sidi menyajikan tantangan atas kesalehan Maryam ini terlihat sedari di rumah Nyonya. Di situ, Maryam bekerja sebagai pembantu rumah tangga dengan majikan yang punya keyakinan berbeda dengannya. Tentu saja motifnya ekonomi. Satu kondisi yang kerap terjadi di mana pun, baik dalam rumah maupun kantor. Sekilas pandang, kondisi ini tak lantas menjadi masalah bagi Maryam. Namun, jika memerhatikan bahasa sinematik film ini, Sidi punya intensi untuk memperlihatkan rasa tertekan Maryam yang diam-diam disembunyikannya.

Cara yang dipakai Sidi adalah menatap lewat mata kamera dengan pemakaian depth of field. Walhasil, kamera seperti mengintip objeknya. Ambil contoh saat adegan pembuka film atau ketika kamera menangkap refleksi Maryam, yang menelepon kerabatnya di kampung dengan suara pelan, dari kaca. Contoh lainnya adalah ketika Maryam dan Tuan sedang ikuti misa Natal di gereja. Tatapan kamera Sidi memiliki makna serupa dengan gerak mata anggota jemaat terhadap Maryam dan Tuan, yakni penasaran dan heran. Segala tatapan tersebut membuat Maryam jadi jengah dan tertekan secara naluriah. Di sini, akting Meyke memang patut diacungi jempol.

Di sisi lain, tampak ada pengaruh gaya voyeuristik dari tatapan kamera yang seperti mengintip dalam film pendek ini. Akan tetapi, voyeuristik dalam Maryam berbeda dengan konsep fantasi voyeuristik dari Laura Mulvey, dalam bukunya “Visual Pleasure and Narrative Cinema”, yang menempatkan perempuan sebagai objek dan tubuhnya sebagai sesuatu yang erotis. Voyeuristik dalam kamera film Sidi Saleh memiliki hasrat untuk merepresentasikan bagaimana upaya manusia dalam mengekspresikan keilahian dan pengalaman manusia dalam transendensi.

Dalam film ini, transendensi (penyerahan atau melekatkan diri kepada Tuhan) yang dilakukan Maryam kemudian ditabrakkan kepada transendensi jemaat gereja. Jalan yang ditempuh Maryam dalam menyuarakan spiritualitas dan transendensi lewat cara ini lebih berhasil ketimbang yang dilakukan Haji Backpacker belum lama ini.

Penyematan nama para tokoh dalam film Maryam yang memainkan makna konotasinya pun tak bisa diabaikan. Maryam adalah nama yang punya ikatan kuat dengan sejarah agama-agama samawi, seperti Islam, Kristen dan Yahudi. Lalu, ada Tuan, sang majikan, yang maknanya bakal berubah drastis jika kita mengimbuhi huruf ‘h’ di tengah-tengah. Selanjutnya, Sinyo, yang dahulu merupakan sebutan dari masyarakat pribumi untuk anak-anak orang Indo. Adapun Nyonya, dalam narasi film Maryam, mengandung konotosi tentang kejemawaan.

Terhadap Maryam dalam konteks relasi kekuasaan, sebutan nama Tuan, Nyonya dan Sinyo pada akhirnya menyiratkan ketertundukan. Dan, ketertundukan merupakan sikap yang niscaya ada dalam kesalehan dan transendensi. Semua itu menjadikan Maryam sebagai film yang indah sekaligus mengusik hati.

*Resensi ini dimuat di Muvila.com pada 14 November 2014.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s