John Wick, Wajah dan Action Efisien Keanu Reeves

john-wick-h

John Wick benar-benar membuat Keanu Reeves seperti Keanu Reeves. Sebab, Keanu Reeves dalam kehidupan nyata memiliki paras kaku dan sikap kalem, yang kemudian ia kerap tampilkan ulang begitu saja dalam film-filmnya. Seakan tanpa ada olah emosi. Tak pelak, Keanu kerap disebut memiliki performa akting yang biasa-biasa saja. Sulit membedakan mana wajah Keanu yang sedang marah, sedih, bengong atau bahagia. Namun, tentulah ada faktor istimewa dalam Keanu Reeves. Faktor sama yang melejitkan film Speed dan trilogi The Matrix, Constantine, dan kini John Wick.

Faktor tersebut sedikit-banyak adalah kharisma, yang berkolaborasi dengan kekakuan wajah dan kekaleman sikapnya. Kharisma dan para ‘kolaborator’-nya itulah yang ikut memengaruhi sebuah video jadi viral dan menghebohkan dunia maya pada tiga tahun lalu. Saat itu, Keanu Reeves kedapatan naik kereta subway di New York. Aktor Hollywood setenar Keanu naik kendaraan umum dengan cool-nya dan sempat memberikan kursinya kepada seorang perempuan. Disadari atau tidak olehnya, ada penumpang lain yang merekam tindak-tanduknya dengan video ponsel.

Tapi, Keanu bergeming. Antara pura-pura tak tahu atau merelakan diri jadi santapan publik karena menyadari dirinya adalah seorang bintang. Kombinasi dari sikap-sikap itulah yang juga menyeruak dalam aktingnya sebagai John Wick. Dia adalah mantan hitman yang amat mendendam karena Daisy, anjing beagle-nya, dihajar sampai mati oleh Iosef (Alfie Allen), anak kurang ajar bos mafia Rusia. Iosef tak tahu bahwa Daisy yang imut itu merupakan pemberian terakhir Helen, istri Wick, yang sudah mangkat akibat kanker. Sialnya lagi, yang juga tidak diketahui Iosef, John Wick telah menjadi legenda di dunia kriminal karena dipicu rasa jatuh cintanya kepada Helen.

Di sinilah, Daisy bukan semata-mata seekor anjing, tapi juga simbol penting dalam hidup John Wick—yang kemudian dipakai oleh duet sutradara baru, Chad Stahelski dan David Leitch, dengan cerdas sekaligus konyol untuk menghidupkan cerita John Wick. Lewat Daisy lah lampiasan amarah Wick terhantarkan. Lewat Daisy pula film John Wick jadi kental dengan nuansa black comedy. Ya, gara-gara seekor anjing, satu kelompok gangster pengacau kota diluluhlantakkan oleh orang yang sudah pensiun dari dunia kriminalitas itu. Lupakanlah peran aparat keamanan yang seharusnya bertugas memberantas para gangster itu.

Malahan, film ini malah memosisikan polisi sebagai pihak yang takluk. Atau dengan bahasa yang lebih santun, kepolisian menutup mata atas kriminalitas. Inilah satu kondisi yang kerap kita jumpai dalam dunia nyata, sehingga juga menjadikannya sebagai elemen black comedy dalam film ini. Pemosisian ini diperlihatkan dalam satu adegan penyerbuan diam-diam para gangster Rusia ke rumah Wick yang dititahkan ayah Iosef, Viggo (Michael Nyqvist), untuk mencabut nyawa sang legenda. Meski menaruh hormat sekaligus gentar kepada John Wick, tapi Viggo tak mau harga dirinya sebagai bos mafia hilang selain juga demi lindungi hidup anaknya.

Upaya pembunuhan itu pada akhirnya sia-sia. Wick secara jago dan kalem menembaki satu per satu para tamu tak diundang itu sampai mereka benar-benar tak bernapas lagi. Lalu, datanglah seorang polisi dan mengetuk pintu rumah Wick karena mendapat laporan suara gaduh dari para tetangga. Selanjutnya, terjadilah percakapan pendek yang membuat kita tertawa. Pada titik ini, John Wick menghadirkan nihilisme yang kemudian kita tertawai dengan pahit, begitu pula ketika sampai di adegan penutup film.

Dari adegan penyerbuan para gangster ke rumah Wick ini pulalah mulai terlihat kepiawaian Chad Stahelski dan David Leitch dalam menyajikan koreografi adu-tembak jarak dekat dan pertarungan tangan kosong yang sederhana dan ciamik. Koreografi ini tak perlu menghabiskan banyak shot dan efisien dalam memanfaatkan ruang atau set. Adegan-adegan action dengan koreografi yang serupa selanjutnya bermunculan dalam perburuan John Wick untuk mengambil nyawa Iosef di New York. Mereka juga mengimbuhi film ini dengan satu ciri film noir, terutama, lewat sinematografinya, yakni tingkat pencahayaan yang rendah (low key lighting). Hasilnya, film ini cukup stylish.

Adegan-adegan tersebut menjadi bernyawa berkat kharisma dan kekakuan bawaan wajah Keanu Reeves yang berhasil menghidupkan karakter dingin John Wick. Chad Stahelski dan David Leitch mampu memanfaatkan betul karakter John Wick tersebut untuk menopang penuh gerakan-gerakan koreografi yang menjadi elemen action film ini. Mereka paham, kunci utama film action adalah gerakan, baik yang diwujudkan lewat akting, dinamika kamera maupun penyuntingan (editing). Sayangnya, justru editing-nya, yang ditangani oleh Elísabet Ronalds, masih tak secanggih adegan action koreografi adu-tembak jarak dekat maupun pertarungan tangan kosong. Misal, ada editing yang tak lancar dalam menyuguhkan adegan car-chase.

Akan tetapi, cacat kecil dalam editing di sini untungnya tak jadi persoalan besar. Sebab, harus diakui, nyawa John Wick adalah Keanu Reeves. Maka, beruntunglah John Wick dibintangi oleh Keanu Reeves. Vice versa. Entah apa yang terjadi jika John Wick tidak dibintangi oleh Keanu Reeves.

Resensi ini telah dimuat di Muvila.com pada 13 November 2014. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s