Haji Backpacker dan Spiritualitasnya

haji-backpacker-review-1-h

Dari judulnya, langsung kentara bahwa Haji Backpacker karya sutradara Danial Rifki bukan hanya sebuah road movie. Tapi, film ini juga berniat untuk memperlihatkan bagaimana salah satu bentuk perjalananan spiritual divisualisasikan dalam medium film. Dengan menyentuh hal spiritual ini, Haji Backpacker telah memanggul dua resiko. Yakni, antara gagal dalam memperlihatkan spiritualitasnya atau jatuh menjadi sebuah film yang menceramahi alias preachy. Lewat karakter Mada (Abimana Aryasatya) lah resiko-resiko tersebut bertumpu.

Sebab, Mada merupakan subjek sekaligus objek dari laku-laku spiritualitas dalam film garapan Danial Rifki ini. Ia manusia yang kecewa kepada Tuhan dan sang ayah (Ray Sahetapy). Ia kesal, karena salat, puasa dan doa yang sudah dipanjatkan sejak bertahun-tahun lalu malah membuatnya hancur. Di Bangkok, Thailand, ia jadi bengal dan mencabut nyawa seorang begundal akibat pengaruh alkohol. Ia tak menghiraukan nasib Marbel (Laudya Cynthia Bella) yang menaruh cinta kepadanya. Dengan berkedok sebagai backpacker, Mada mengaku tak punya tujuan.

Maka, berpindah-pindahlah Mada ke negara lain. Dari Thailand, ia singgah ke Vietnam, lalu tanpa sengaja terbuang ke provinsi Yunan, China. Di negeri tirai bambu ini, ia ditampung di rumah keluarga Su Chun (Laura Basuki) yang muslim. Di sini pula, luka sobek di perut Mada yang sudah jadi infeksi lalu diobati oleh ayah Su Chun. Perlahan, Mada mulai membuka tabir dirinya dan menerima kehangatan spiritual keluarga Suchun. Ia diberikan kitab tasawuf oleh ayah Su Chun, dan gara-gara itu isi bunga tidurnya jadi aneh.

Mada lalu menuju India lewat Nepal demi bertemu dengan seorang guru agama di sana. Mata hatinya pun tersingkap. Ia mulai salat lagi, dan memutuskan pergi ke Mekah, Arab Saudi, guna meminta maaf kepada sang ayah dan membersihkan diri. Tentu, perjalanan ke Tanah Suci tak digampangkan. Di tanah Iran yang bergejolak, ia diringkus kelompok militan dan disangka seorang Yahudi. Nyawa Mada nyaris lenyap. Namun, berkat melafalkan Surat Yasin dengan lancar dan khusyuk, ia dibebaskan kelompok militan dan malah dihadiahi rute yang mewah untuk tiba di Mekah.

Tak usah heran dengan segala kejadian dalam perjalanan Mada di film ini. Karakter Mada memang bagian dari wujud kebiasaan dalam lazimnya road movie. Di mana si tokoh utama mencari atau menemukan sesuatu yang hilang dari dalam dirinya. Dalam konteks cerita Haji Backpacker yang skenarionya ditulis oleh Danial bersama Jujur Prananto, sesuatu yang hilang itu jelas adalah spiritualitas. Maka, Mada dihadapkan kepada proses pencarian-penemuan spiritualitasnya tersebut. Akan tetapi, anehnya, berjalannya proses tersebut berangkat dari motivasi yang teramat lemah: cinta Mada yang tak dibalas Sofia (Dewi Sandra).

Tanpa bermaksud mengerdilkan peran rasa cinta dalam urat-urat kehidupan manusia, tapi kekecewaan Mada kepada Tuhan dan ayahnya akibat cinta yang terbalas oleh perempuan yang notabene sahabat sejak kecil, malah jadi menampakkan Mada sebagai pria cengeng. Lagi pula, alih-alih spiritual, tidak ada pula penjelasan masuk akal perihal alasan Sofia (Dewi Sandra) yang meragukan cinta Mada. Kaburnya Sofia dengan tali-temali kain juga malah memberi kesan atas ambisi Daniel untuk mempercantik visual saja. Bak dongeng dalam kisah-kisah Disney. Untungnya, semua ini tak sampai membuat Haji Backpacker jatuh menjadi film yang cengeng pula.

Motivasi yang cengeng ini pada akhirnya menegaskan spiritualitas Mada yang bergerak di ranah personal saja. Tidak salah, memang. Isi spiritualitas sendiri memang berupa rencana, istilah, ide untuk keluar dari situasi penuh pertentangan dan struktural yang dialami manusia serta terkait dengan kesadarannya dan upaya transendensi. Begitu kata Susan Sontag, seorang pembuat film dan penulis. Namun, situasi yang dialami manusia dalam konteks spiritualitas bagaimanapun juga tak bisa lepas dari kondisi sosial. Transendensi, penyerahan atau melekatkan diri kepada Tuhan, tak bisa dicerabut dari lingkungan dunia.

Mada, sayangnya, tidak melakukan itu. Dia kabur dari pembunuhan yang dilakukannya di Thailand begitu saja, tanpa ada penyesalan. Tindakan kriminal yang terlarang dalam ajaran agama manapun ini tidak pula memengaruhi spiritualitas Mada. Danial malah memilih untuk menampilkan surealisme lewat mimpi—itu pun dengan teknik animasi yang seharusnya bisa dimaksimalkan lagi—sebagai  pertanda spiritualitas Mada. Di titik ini, Haji Backpacker tak berhasil menyampaikan persoalan spiritualitasnya. Pembuat film Haji Backpacker hanya menjadikan peristiwa pembunuhan ini sebagai pendorong plot.

Dari situ terlihat ada ketergesa-gesaan dalam penuturan film ini. Ketergesa-gesaan yang juga terwakilkan lewat pemakaian time-lapse berulang kali dalam proses editing, sehingga mengurangi nilai dari panorama-panorama cantik yang direkam Yoyok Budi Santoso, penata sinematografi. Yang patut disyukuri, Haji Backpacker tidak tergelincir menjadi film yang preachy. Walau ada beberapa dialognya yang nyaris bertendensi untuk menceramahi, tapi Danial Rifki dan Jujur Prananto bisa menahan diri. Seperti halnya ayah Su Chun yang menahan diri dengan bijaknya untuk tidak memberi nasehat-nasehat begitu tahu Mada tidak pernah salat lagi.

 

*Resensi ini terbit pertama kali di Muvila.com pada 29 Oktober 2014.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s