Dawn of The Planet of The Apes

XXX DAWN-PLANET-APES-MOV-JY-3806-.JPG A ENT

Logis. Itulah kata paling pas untuk menggambarkan Dawn of The Planet of The Apes. Dengan struktur cerita yang baik, pengisahan yang rapi, sinematografi, tata suara, musik dan efek spesial yang jempolan, sutradara Matt Reeves sukses membangun reka-percaya (make believe), sehingga film ini tampak dan terasa tak mencederai logika. Kita dibikin percaya bahwa ada kaitan antara umat manusia yang nyaris habis riwayatnya dengan kera yang mampu berbicara dan belajar alfabet. Nalar kita legowo ketika melihat kera-kera yang menunggangi kuda, angkat senjata, melakukan pengkhianatan, pemberontakan, dan menyerang manusia dengan senjata api.

Matt membuka kisah film ini dengan penjelasan ringkas soal kondisi bumi selama 10 tahun terakhir. Alkisah, populasi manusia berkurang drastis akibat pandemi Flu Simian bikinan para peneliti di laboratorium. Semuanya bermula karena mereka ingin membuat serum penyembuh Alzheimer yang diujicobakan kepada kera, seperti yang diceritakan dalam prekuel Dawn, film Rise of The Planet of The Apes (2011). Pandemi Flu Simian itu kemudian membunuh miliaran manusia, sehingga membuat tatanan masyarakat dan kenegaraaan di semua penjuru bumi hancur lebur.

Kerusuhan terjadi di mana-mana. Manusia saling bunuh. Maka, tinggal sedikit saja kelompok manusia yang mampu bertahan hidup. Salah satunya ada di kota San Francisco, yang gedung-gedungnya sudah usang dan sudah tertutupi tumbuhan liar. Namun, manusia tidak sendirian. Di ujung lain jembatan Golden Gate yang sudah karatan, tepatnya di hutan Redwood, hiduplah populasi kera cerdas yang dipimpin oleh Caesar (diperankan dengan ciamik oleh Andy Serkis lewat motion-caption technology). Dialah simpanse jenius yang membentuk populasi kera itu, sehingga mulai menampakkan ciri-ciri layaknya kelompok sosial.

Kejeniusan dan pengalaman interaksi Caesar dengan manusia-manusia yang baik di masa lampau telah membuatnya lebih unggul dan berbeda dibandingkan para kera lainnya. Ia memiliki kesadaran soal pentingnya hidup bermasyarakat seperti yang dilakukan manusia. Boleh dibilang, ia menularkan para kera lainnya untuk hidup di bawah unsur-unsur community sentiment, seperti seperasaan, sepenanggungan, dan saling memerlukan. Karena pengalaman hidupnya dengan manusia itu pulalah yang membuat Caesar tak ingin kera-kera berperilaku saling bunuh dan gampang mengobarkan perang seperti manusia.

Akan tetapi, kedamaian hidup Caesar dan kelompok keranya mulai retak ketika datang beberapa manusia yang dipimpin Malcolm (Jason Clarke). Mereka rupanya datang ke hutan Redwood guna menghidupkan kembali bendungan di sana yang dulunya berfungsi sebagai pembangkit listrik untuk kota San Francisco. Manusia-manusia tersisa di kota itu yang dipimpin oleh Dreyfus (Gary Oldman) membutuhkan listrik agar bisa bertahan hidup dan mencari tahu keberadaan kelompok manusia lainnya yang tak mempan ditembus Flu Simian. Malcolm sendiri bukan manusia yang jahat. “A good man,” kata Caesar.

Namun, keinginan untuk bertahan hidup dan anggapan bahwa para kera lah yang menjadi biang keladi pandemi Flu Simian, membuat Dreyfus lebih bernafsu untuk membinasakan kera-kera di hutan Redwood. Ia adalah manusia yang mementingkan harga diri (thumos) dan menilai manusia adalah spesies yang paling unggul. Dreyfus juga tipe manusia yang memegang prinsip, lebih baik menyerang lawan lebih dulu ketimbang diserang lawan. Tapi, ada kera cerdas di Redwood yang juga berpikir seperti Dreyfus. Koba (Toby Kebbell) namanya. Simpanse yang wajahnya penuh codet ini sebetulnya adalah kawan baik nan setia Caesar.

Masalahnya, Koba menyimpan dendam kesumat dan tak percaya pada manusia. Dahulu, sebelum dibebaskan oleh Caesar, ia kerap disiksa oleh pisau bedah para peneliti demi alasan mulia, yakni ilmu pengetahuan dan kemanusiaan. Maka, Koba pun melancarkan pemberontakan. Ia mengkudeta Caesar dan mengambil alih tampuk kekuasaan dengan kekerasan. Ia lalu lebih dulu menyerang manusia dan berhasil menaklukkan kota San Francisco. “Sekarang kalian rasakan bagaimana hidup dalam kerangkeng,” teriak Koba kepada manusia-manusia yang ditahannya.

Dengan begitu, Dawn of The Planet of The Apes secara menarik memperlihatkan proses sekaligus dampak dari rantai kekerasan dan reproduksi kekerasan yang kerap dilakukan manusia. Maka, tak berlebihan jika Dawn of The Planet of The Apes kita sebut sebagai alegori atas kekerasan dan kekacauan dalam kehidupan dunia kiwari. Film yang skenarionya ditulis oleh Mark Bomback, Rick Jaffa dan Amanda Silver ini juga menggambarkan opini Paulus Mujiran, dalam artikelnya “Berdemokrasi di tengah Ancaman Kekerasan” (2004), bahwa okol (kekuatan) dan otot (keperkasaan) lebih berbicara dalam praktik kekerasan ketimbang pengetahuan, akal budi, dan kedewasaan.

Terlepas dari aksi manusia yang mengakibatkan perangai buruknya, Koba jelas-jelas mewakili okol dan otot itu. Adapun Caesar adalah wujud pengetahuan, akal budi, dan kedewasaan. Apalagi di ujung film, Caesar tidak mau melimpahkan kesalahan kepada manusia atas kekacauan dan peperangan yang sudah mulai terjadi. Ini salah kera, ini salah saya. Begitu ucap Caesar, sang jenius pemimpin kera, kepada Malcolm. Caesar mengatakannya dengan tulus. Ia tak punya intensi untuk mengkritik dan menyindir manusia, yang acap kali tak mau mengakui kesalahan demi meraih kekuasaan.

 

*Artikel ini dimuat di harian Pikiran Rakyat edisi Minggu, 13 Juli 2014.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s