Toilet Blues dan Para Manusia Pendosa

toilet_blues_film_still h

Film Toilet Blues yang kini tayang di bioskop sudah berkeliling di festival-festival film internasional dan dapat pujian serta cacian para kritikus.

Film Toilet Blues dibuka dan nyaris ditutup dengan adegan yang sama. Yakni, Ruben (Tio Pakusadewo) sedang menggulirkan es krim batangan ke kaki Anjani (Shirley Anggaraini) dengan khidmatnya, sehingga air lelehan es krim mengalir ke arah paha sang perempuan. Anjani tak berontak. Dia seakan merelakan tubuhnya kepada Ruben. Sutradara Dirmawan Hatta sedang bermetafora di sini.

“Saya terinspirasi oleh Maria Zaitun dalam puisi Rendra, pelacur yang ketika tak lagi bisa bekerja, tua dan sakit, ternyata kehadirannya di masyarakat ditolak termasuk oleh dokter dan pastur, sampai akhirnya ada seorang lelaki yang mau menikahinya,” kata Dirmawan Hatta ketika jumpa pers pada Rabu, 2 Juli lalu di Blitzmegaplex Grand Indonesia.

Puisi yang dimaksud Dirmawan itu adalah “Nyanyian Angsa”. Ya, film Toilet Blues memang terinspirasi dari puisi karya sastrawan besar negeri ini, WS Rendra. Selain itu, ada pula film The Last Temptation of Christ karya sutradara penting Hollywood, Martin Scorsese, yang menginspirasi Dirmawan. “Film terjeleknya Martin Scorsese, kata para kritikus,” ujarnya.

Sejak tahun 2009 Dirmawan mulai menulis skenario Toilet Blues bersama R. Adam Herdanto. Ia sudah berniat akan melesakkan pernyataan maupun pertanyaan soal keimanan dan moralitas dalam kisah Toilet Blues. Tak aneh sebenarnya. Sebab, film Optatissimus—yang  merupakan film kedua Dirmawan tapi dirilis lebih dulu pada tahun lalu—memang menyinggung hal-hal serupa.

Tokoh utama dalam kisah Toilet Blues adalah Anggalih, yang diperankan Tim Matindas, selain tentunya Anjani. Kedua insan ini menempuh sebuah perjalanan bersama-sama. Anggalih sedang dihantam kebimbangan. Ia semestinya melanjutkan sekolah di seminari untuk menjadi pastur demi membuat bangga ayahanda dan memuluskan jalan para pendosa ke surga.

Adapun Anjani, yang meledak-ledak, baru minggat dari rumah. Dalam hati, ia sebenarnya menyimpan cinta untuk Anggalih. Mereka lalu alami berbagai hal dan bertemu dengan berbagai tipe manusia. Ada penjaga lintasan rel kereta api yang gemar menasehati. Sopir truk yang haus seks. Kekasih gelap si sopir truk. Penjual sepatu di tengah malam. Tiga pria muda brengsek. Dan, seorang pelacur yang digagahi oleh tiga pria brengsek tadi.

“Para manusia pendosa,” begitu komentar seorang wartawan dalam sesi jumpa pers film Toilet Blues usai pemutaran film. Para pendosa ini lalu meriung dan makan nasi tumpeng di pinggir pantai pada tengah hari bolong. Dirmawan Hatta tidak menghadirkan satu pun manusia saleh dalam filmnya ini. Anggalih, calon pastur itu, pun tergelincir dan jatuh di kolam dosa.

Memang ada lantunan bacaan surat Al-Fatihah dari mulut si penjaga rel kereta api, tapi itu hanya untuk mendoakan sebuah kejadian yang sudah terjadi maupun bakal terjadi. “Bagi saya, di atas soal-soal moral, agama dan sebagainya, yang terpenting dan harus menjadi pertimbangan utama adalah kemanusiaan, bahwa kita manusia, itu di atas segala-galanya,” ungkap Dirmawan.

Ia berkeyakinan, klaim-klaim berdasar agama telah menjadi senjata yang semakin merusak kehidupan bersama. “Nyanyian Angsa” adalah gugatan terhadap kenyataan tersebut. “Film Toilet Blues ini berupaya mengajukannya dalam ruang-ruang terintim, tempat di mana kita mulai menerima atau menghakimi orang lain,” kata Dirmawan.

Toilet Blues kini sedang tayang di beberapa layar bioskop di jaringan Cinema 21 dan Blitzmegaplex. Setelah world premiere di Busan International Film Festival 2013, Toilet Blues sudah berkeliling ke delapan festival film internasional.

“Film ini dapat tanggapan beragam. Ada yang memuji, ada pula yang mencaci-maki. The Hollywood Reporter tidak suka sekali sama film ini, mereka sampai dua kali menulis resensinya. Tapi itu berarti film saya ‘dianggep’ juga sama mereka, sampai menonton dua kali mereka,” ujar Dirmawan.

 

*Tulisan ini terbit di Muvila.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s