Konflik, Sepak Bola, dan Rekonsiliasi

adg_6

Sindhunata (wartawan, budayawan, pengamat bola, sastrawan sekaligus rohaniawan) belum lama ini berkata dalam satu artikelnya, sepak bola mampu mengikat manusia dalam persatuan, karena bisa merata diterima semua orang dari segala strata sosial. “Cinta yang Buta, Kegembiraan yang Menyatukan”, begitu Sindhunata memberi judul artikelnya itu di Kompas pada 11 Juni lalu. Delapan hari setelahnya, muncul film tentang sepak bola, Cahaya dari Timur: Beta Maluku, yang menggambarkan pandangan Sindhunata tadi dengan terang.

Film karya Angga Dwimas Sasongko ini berusaha untuk mengingatkan kita akan pernah berkobarnya bara yang melukai saudara-saudara sebangsa di tanah Maluku akibat konflik horizontal. Namun, lewat sepak bola, bara itu kemudian berangsur-angsur ubah wujud. Dari api dalam sekam menjadi cinta kasih. Meski memang prosesnya tidak lekas dan penuh riak yang menyulitkan. Angga, yang juga ikut menulis skenario bersama Swastika Nohara dan M. Irfan Ramli, cukup telaten merajut tahap demi tahap perubahan itu

“Ini bukan soal agama, ini soal bola,” ucap Salim (Bebeto Leutually) dengan lantang kepada teman-temannya. Emosi remaja dari desa Tulehu itu terbakar setelah mengetahui Sani Tawainela (Chicco Jerikho yang tampak nyaman dengan karakternya di film ini) melatih tim sepak bola SMA di Passo, desa yang mayoritas penduduknya beragama Nasrani. Demografi itu bertolak belakang dengan Tulehu yang merupakan desa Muslim. Persoalan agama memang masih sensitif, apalagi setelah lima tahun konflik yang memakan banyak korban jiwa terjadi di Maluku.

Tapi, Salim tak peduli soal perbedaan agama itu. Dia cuma ingin dilatih Sani, seorang warga Tulehu yang mengasah skill sepak bolanya dan anak-anak Tulehu lain sejak kecil. Sani memang bukan warga biasa. Dia punya prestasi di dunia sepak bola. Pada tahun 1996, Sani adalah pemain Tim Nasional U-15 Indonesia pada tahun 1996. Sayang, sebuah tackling yang emosional malah merontokkan tangga kariernya. Motif Sani memberi latihan sepak bola untuk anak-anak Tulehu sendiri jauh dari alasan ekonomi.

Dia hanya ingin anak-anak Tulehu tidak ikut berperang saat masa konflik dan meregang nyawa. Upaya mulia Sani tersebut berhasil, walau tertatih-tatih serta mesti banyak mengorbankan kepentingan anak dan istrinya, Haspa (Shafira Umm). Sani mulai patah arang ketika Rafi menikamnya dari belakang. Ia adalah teman karib sekaligus rekan Sani sejak awal dalam melatih sepak bola untuk anak-anak Tulehu. Namun, Rafi malah mendirikan Sekolah Sepak Bola Tulehu Putera atas namanya. Mereka pun pecah kongsi.

Lalu, datanglah Yosef (Abdurrahman Arif), seorang guru SMA di Passo. Ia mau merekrut Sani untuk melatih tim sepak bola di sekolahnya. Itulah penyebab Salim dan anggota tim sepak bola Tulehu yang dikapteni Zamhari (Aufa Assagaf) jadi semak hati. Ada yang ingin masuk tim sepak bola di Passo, ada pula yang tak mau karena alasan perbedaan agama. Pada akhirnya, konflik-konflik itu makin menjadi-jadi saat tim sepak bola dari Passo dan Tulehu harus bersatu sebagai tim Maluku untuk sebuah turnamen akbar di Jakarta.

Cerita film Cahaya dari Timur: Beta Maluku ini memang padat isu. Ada sepak bola, agama, politik, kemiskinan, konflik horizontal, rekonsiliasi, sampai ranah privat seperti rumah tangga Sani—yang  sayangnya tidak tereksplorasi dengan baik. Apalagi sedari dulu hingga kini di Indonesia, isu-isu seperti agama, politik, konflik dan rekonsiliasi, pun terbilang sensitif. Bukan cuma itu, Cahaya dari Timur juga sarat karakter dan memuat aspirasi-aspirasi pembuat film. Maka, mendedahkan cerita semacam ini pun susah-susah gampang.

Sebab muncul dua risiko, antara film ini bakal bikin penonton bosan, atau jadi malah tampak ingin berbicara banyak hal dalam satu waktu alias banyak omong. Untung itu semua tak terjadi dalam Cahaya dari Timur. Angga seakan menuturkan kisah ini secara hati-hati, meski dengan konsekuensi bikin tempo film ini berjalan lambat. Ditambah lagi durasinya hampir 150 menit. Walau pada akhirnya bisa dimaklumi, karena pembuat film menyelipkan letupan-letupan konflik.

Terlihat pula eskalasi kemampuan penyutradaraan Angga, yang sebelumnya menggarap Hari Untuk Amanda (2010) dan Jelangkung 3 (2007). Ia tampak lebih baik dalam mengarahkan posisi dan gerakan kamera serta memaksimalkan akting para aktor-aktrisnya. Ia juga jeli mengatur irama penceritaan sehingga tak menyulitkan proses penyuntingan. Hasilnya, sepak bola dalam Cahaya dari Timur: Beta Maluku mampu berbicara banyak hal dan berdampak indah.

Wujudnya ada dalam sekuens menarik di penghujung film ini, yang juga mengejawantahkan perkataan Sindhunata, bahwa sepak bola selalu bisa menciptakan kejutan dan membuat orang-orang terlena dari persoalan hidup mereka.

 

*Resensi ini terbit di harian Pikiran Rakyat edisi 22 Juni 2014.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s