Mari Lari dengan Rendah Hati

Image

Mari Lari adalah film pembangkit inspirasi yang tidak biasa, walau juga tidak tergolong luar biasa. Akan tetapi, jika dibandingkan dengan film Indonesia lain yang memuat kisah inspiratif selama tujuh tahun terakhir ini, Mari Lari menawarkan ciri-ciri yang berbeda. Ciri-ciri yang membuat film garapan Delon Tio ini jadi asyik dan enak untuk ditonton tanpa perlu menampilkan kegetiran hidup dari pelosok nusantara.

Lewat penuturannya yang cukup segar, Mari Lari mampu memperlihatkan bahwa inspirasi dan semangat juga bisa terpompa dari dalam lingkungan urban yang elok dan nyaman. Delon Tio dan Ninit Yunita (penulis skenario) sukses menyodorkan karakter-karakter utama yang tampak jujur di tengah lingkungan urban yang identik dengan gaya hidup mahal dan hipokrisi. Semua ini akibat cerita Mari Lari yang bermuara pada keluarga sebagai unit terkecil dalam struktur masyarakat.

Rio (Dimas Aditya) dan ayahnya, Tio Kusumo (Donny Damara), merupakan gambaran keluarga itu. Komunikasi anak-ayah ini selalu canggung. Mereka menyimpan masalah sejak lama. Oleh ayahnya, Rio dinilai sebagai anak pemalas yang tidak jelas apa maunya. Kuliahnya tidak kelar-kelar. Performa kerjanya di bidang sales naik-turun. Padahal Tio ingin sekali melihat anak semata wayangnya itu mencapai titik keberhasilan dalam wujud apapun, tanpa perlu terpatok pada kesuksesan pendidikan atau finansial. Rio sendiri paham akan kemauan ayahnya itu. Ia sadar belum berhasil bikin bangga orang tuanya.

Situasi tersebut mulai berubah setelah ibu Rio, Fitri (Ira Wibowo), wafat dan invitasi maraton di Bromo datang ke rumah mereka. Di masa lampau, Tio dan Fitri memang atlet lari yang berprestasi. Hati Rio lalu tergerak. Ia ingin ikuti maraton di Bromo demi menghormati sang ibu. Tapi Tio tidak yakin akan niatan anaknya itu. Maka berlatih keraslah Rio untuk membuktikan diri kepada ayahnya. Ia mulai berlari tanpa rencana latihan yang matang.

Beruntung, Rio bersua dengan Anisa (Olivis Lubis Jensen), yang sudah lebih jago dalam berlari. Ia lalu mengajarkan Rio soal berlari dan persiapan maraton. Anisa pula yang mengenalkan Rio dengan komunitas para pelari, Indo Runners. Pelan-pelan, keduanya mulai saling jatuh cinta dengan malu-malu. Rio jadi semangat latihan lari meskipun jadwal maraton di Bromo makin mepet. Terlebih lagi, ia juga diburu tenggat untuk menyelesaikan skripsi dan tanggung jawab kerjaan yang menumpuk di kantor.

Hubungan antara Rio dengan Tio, juga Rio dengan Anisa, yang dibalut dengan masalah lari memang jadi keutamaan dalam bangunan kisah Mari Lari. Penggambaran karakterisasi tiga tokoh utama ini beserta konflik yang membelit mereka jadi membuat Mari Lari sederhana dan tak ambisius untuk menjadi film pembangkit inspirasi, semisal Sang Pemimpi (Riri Riza, 2009). Gambaran soal konflik anak-ayah (Rio dengan Tio) juga menjadi poin lebih film ini. Puncak-pucak dramatik dalam kisah Rio dan Tio tak perlu mengharu-biru demi menciptakan inspirasi. Kecanggungan hubungan di antara mereka jadi sirna secara pelan tapi pasti.

Delon Tio mampu menuturkan skenario bikinan Ninit Yunita dengan rendah hati sekaligus tak abai untuk menyesuaikan cara tuturnya dengan karakteristik olah raga lari—yang kini telah menjadi bagian gaya hidup masyarakat muda kota. Maka, Delon juga menampilkan visual-visual yang nge-pop. Kadang ia menyelipkan animasi yang jenaka. Namun, satu-dua kali Delon sempat nyaris tergelincir dalam mewujudkan ambisi visualnya, seperti menaruh kamera di objek untuk variasi point of view (PoV). Alhasil, bukannya kedinamisan gambar yang didapat, tapi malah distraksi. Untungnya hal semacam ini tidak terlalu mengganggu keseluruhan penuturan cerita.

Begitu pula Ninit Yunita yang hampir tergelincir gara-gara ambisinya untuk bercerita. Dia menyelipkan komentar soal masalah pendidikan lewat karakter dosen Rio yang bersikap sok kuasa dan seenak udelnya terhadap mahasiswa. Sayangnya, malah jadi tak utuh dan hanya sebatas komentar yang sebenarnya tidak berefek besar terhadap jalinan kisah Mari Lari. Untunglah selipan komentar ini juga tak terlalu mengganggu. Sedikit saja Delon dan Ninit tergelincir lagi, maka kerendahan hati Mari Lari jadi tercederai. Selebihnya, film ini beres.

Delon dan Ninit juga berhasil memadu-padankan beragam elemen tentang berlari. Mulai dari sejarah maraton, teknik dan berlari, latihan fisik, komunitas Indo Runners, asupan makanan sebelum berlari, lomba dan peraturan maraton, sampai sepatu dan pakaian olahraga sebagai product placement. Semua elemen itu mereka sajikan dengan porsi yang pas, sehingga tidak serta merta menjadikan film ini sebagai iklan layanan masyarakat soal kesehatan tubuh dalam versi panjang.

 

*Resensi ini terbit di harian Pikiran Rakyat edisi Minggu, 15 Juni 2014. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s