Jalanan, Realita yang Bukan Cuma Milik Jakarta

JALANAN_cast_Ho-Titi-Boni R

Jalanan seolah menjadi ksatria film dokumenter di Indonesia, karena dia bisa tayang cukup lama (sudah lebih dari 14 hari) di bioskop komersial. Sesuatu jarang sekali terjadi di nusantara ini. Kini, jadwal penayangannya telah merambah ke Bandung. Tentu ini artinya Jalanan mempunyai nilai jual untuk dikonsumsi penonton bioskop, yang selama ini terbiasa dengan buaian film-film fiksi.

Film dokumenter karya Daniel Ziv yang memenangkan BIFF Mecenant Award dari seksi Wide Angle – Documentary Competition dalam Busan International Film Festival 2013 ini punya kekuatan. Sebab realita sosial yang diangkat dokumenter ini jamak diakrabi oleh penduduk perkotaan di mana pun di Indonesia. Realita yang dikemas dalam Jalanan sejatinya bukan milik Jakarta saja.

Tiga subjek atau tokoh dalam Jalanan, yakni Boni, Ho dan Titi, pun bisa saja kita temui di sudut-sudut jalanan kota Bandung. Seperti halnya para pengamen yang juga punya kapasitas sebagai seniman jalanan, ciri mereka sama. Bisa bernyanyi, pandai memetik gitar, serta piawai mengarang lirik yang lantang menyuarakan kritik maupun komentar terhadap laju pemerintahan maupun kehidupan masyarakat.

Dengan telaten, Daniel Ziv mengikuti keseharian Boni, Ho, dan Titi dalam Jalanan. Ia ikuti tiga pengamen tersebut naik-turun bus kota yang sesak dan penuh peluh. Ia merekam kerja subjeknya dari jarak dekat. Dari situ pula terdengar suara-suara lantang mereka terhadap perilaku manusia kota. Ada juga aspirasi politik yang diutarakan Boni, Ho, dan Titi.

Daniel juga masuk ke ruang-ruang privat para subjeknya. Ia turun ke kolong jembatan di dekat bundaran Hotel Indonesia di mana Boni dan istrinya tinggal sejak beberapa tahun terakhir. Kamera Daniel memperlihatkan bahwa Boni nyaman-nyaman saja hidup di balik ruang publik dekat lanskap ikonik Jakarta sekaligus pusaran gaya hidup kelas atas masyarakat kota.

Daniel juga masuk ke rumah mertua Titi di mana ia menumpang hidup. Di sini tampaklah Titi yang punya tanggung jawab sebagai ibu sekaligus istri. Diperlihatkan juga ia mengenakan jilbab di rumah demi turuti aturan mertua yang seorang ustadzah. Daniel juga ikuti Titi yang kembali ke bangku sekolah demi dapatkan ijazah dan mudik ke pelosok Jawa untuk bertemu keluarganya.

Pada Ho yang masih bujangan, kamera Daniel memilih untuk merekam tentang hubungan dia dengan sang kekasih. Sempat juga diperlihatkan Ho yang bertransaksi dengan pekerja seks komersil di tengah malam kota megapolitan. Daniel juga bisa menguntit Ho yang ditangkap petugas trantib dan digelandang ke panti sosial. Di momen itu, kamera Daniel merekam realita yang cukup mengejutkan.

Berbagai momen kehidupan Boni, Ho dan Titi itu dirangkai oleh Daniel dan Ernest Hariyanto (editor) dengan asyik. Alih-alih merasa iba, susunannya justru mampu membuat kita jatuh hati pada karakter tiga subjek Jalanan yang hidup penuh optimisme di tengah kepelikan sehari-seharinya. Ritme dan penuturannya juga terbantukan berkat musik yang dialunkan Boni, Ho, dan Titi.

Namun, ada yang mengganjal. Dari susunan Jalanan itu, tampak upaya Daniel dan Ernest yang bukan semata-mata ingin menghadirkan ulang realita, tapi mengemasnya supaya lebih dramatik. Hal yang sah-sah saja untuk dilakukan dalam film dokumenter (walaupun isu ini juga sedang jadi bahan diskusi hangat di kalangan akademisi dan kritikus film). Namun akibatnya banyak realita yang disajikan Jalanan jadi terlihat palsu.

Pangkal masalahnya terletak pada pendekatan yang dipakai Daniel Ziv. Sebagai pembuat film dokumenter yang mengangkat isu dan kehidupan kaum marjinal, otomatis Daniel akan melakukan keberpihakan, dan ini tidak salah. Akan tetapi, keberpihakan Daniel jadi problem kala dia memilih untuk merekam kehidupan Boni, Ho, dan Titi secara berjarak.

Keberjarakan ini kentara dari kerja kamera yang hanya merekam. Kamera memang sukses menyelusup masuk ke ruang privat, tapi sebatas cuma merekam. Dia tidak menjadi bagian dari realita, sehingga para subjeknya berbicara di depan kamera seperti kepada seorang tamu yang datang dari negeri seberang, persis seperti yang terjadi di depan kamera ketika mengikuti Titi pulang kampung. Maka dalam banyak bagian Jalanan jadi kelewat turistik.

Dan, karena sifat yang turistik itu pula, Jalanan seperti sekadar meminjam omongan para subjeknya—yang kerap kali seperti sedang berdeklamasi itu—untuk dijadikan komentar sosial. Bukannya menjadikan keseluruhan film jadi komentar sosial.

Padahal, Jalanan berpotensi besar untuk lebih natural dalam mendedahkan dan menghidupkan realita maupun kehidupan subjeknya, seperti yang dilakukan dalam film Anak Sabiran, Di Balik Cahaya Gemerlapan (Sang Arsip) karya Hafiz Rancajale. Apalagi, Daniel telah menghabiskan waktu lebih dari empat tahun untuk mengikuti para subjek ceritanya.

Pembuatannya film dokumenter memang tidak makan waktu sebentar, tapi bisa bulanan, bahkan bertahun-tahun. Jika prosesnya lama begitu, maka yang biasanya terjadi adalah subjek yang dikisahkan dalam film dokumenter sudah terbiasa pada kehadiran kamera. Boleh dibilang, subjek tak lagi sadar akan kamera—hal yang tak terjadi pada Boni, Ho, dan Titi. Begitu juga kamera, yang semestinya seakan lenyap ketika merekam subjek.

Ciri ini makin jadi saklek terlihat apabila si pembuat film memang bikin film dokumenter observasional, seperti film Lukas’ Moment (Aryo Danusiri, 2005) atau Negeri Di Bawah Kabut (Shalahuddin Siregar, 2011). Jalanan jelas tidak diniatkan untuk menjadi dokumenter observasional, meski punya potensi ke arah sana. Tapi, Jalanan semestinya bisa menyuguhkan yang lebih lagi ketimbang sekadar pendokumentasian realita.

 

*Tulisan resensi ini versi sedikit lebih panjang dari yang telah dimuat di Pikiran Rakyat edisi 27 April 2014.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s