The Raid 2: Berandal, Dongeng Kekerasan yang Brutal

raid-2-berandal09

 

Satu peringatan bagi calon penonton The Raid 2: Berandal, film ini sarat kekerasan. Jadi, bagi yang lemah jantungnya untuk melihat kulit disobek pisau cutter dan ditembus machete, atau tongkat baseball meremukkan batok kepala manusia maupun wajah hancur akibat dipanggang, jauhi film ini. Tapi, silakan menonton jika memang ingin memacu adrenalin. The Raid 2: Berandal adalah semacam etalase jalinan laku kekerasan yang brutal dan riil tapi berusaha logis.

Kelogisan ini dibangun sejak film pertamanya, The Raid. Di situ, latar cerita film adalah sebuah kota tak bernama yang ironisnya dikuasai kubu-kubu mafia. Institusi kepolisian dikisahkan telah bobrok sampai ke urat-uratnya karena turut dikuasai mafia. Rama (Iko Uwais), seperti kita tahu, berhasil keluar dari apartemen neraka itu. Tapi, mara bahaya ternyata masih merundungi kehidupan Rama dalam kisah The Raid 2: Berandal. Polisi-polisi yang korup dari kelompok Reza (Roy Marten) beserta para mafia akan terus memburu nyawa Rama.

Ia lalu bertemu Bunawar (Cok Simbara), polisi yang memimpin satuan tim antikorupsi. Ketimbang mati di tangan mafia dan polisi-polisi jahat, Bunawar menawarkan Rama untuk masuk timnya guna mencari tahu dalang utama simpul kejahatan di institusi kepolisian. Tawaran itu diterima, apalagi nyawa anak dan istri Rama juga terancam jika ia berdiam diri. Maka dijebloskanlah Rama ke penjara jahanam dan berganti nama jadi Yuda. Ia ditugasi untuk mendekati Ucok (Arifin Putra), anak Bangun, gembong mafia terkuat di kota selain keluarga Goto dari Jepang (Kenichi Endo).

Tentu saja tugas itu tidak menyediakan jalan yang mulus. Ia mesti luka dan lebam-lebam. Di awal kehidupannya di penjara, ia harus menghajar belasan orang di toilet dengan tangan kosong. Ia juga harus terlibat perkelahian massal yang keji di halaman penjara penuh gumulan lumpur. Dua tahun berlalu, Rama/Yuda berhasil jadi konconya Ucok. Ia diajak bergabung dalam kelompok mafia Bangun (Tio Pakusadewo). Di situ pula ia bertemu dengan tangan kanan kepercayaan Bangun, Eka (Oka Antara).

Konflik jadi pelik ketika ada kelompok mafia lain pimpinan Bejo (Alex Abbad) yang ingin merebut kekuasaan keluarga Goto. Untuk melancarkan kudetanya itu, ia memikat hati Ucok dan Reza. Bejo tentu tak sendirian. Dia punya pasukan pembunuh yang juga mengerikan. Ada The Assassin (Cecep Arif Rahman), Baseball Bat Man (Very Tri Yulisman) dan Alicia ‘Hammer Girl’ (Julie Estelle). Pengkhianatan dan perebutan kekuasaan pun terjadi. Algojo setia Bangun, Prakoso (Yayan Ruhiyan), jadi tumbal.

Begitulah. Hidup Rama/Yuda pun makin disesaki kekerasan yang tak ada henti-hentinya. Ditambah lagi, ada simpul kejahatan yang terjalin amat kuat berkat kolaborasi pelaku kejahatan dan kepolisian. Inilah semesta cerita franchise The Raid yang akhirnya mendukung untuk melahirkan segala laku kekerasan. Maka, dongeng kekerasaan rekaan sutradara Gareth Evans ini jadi logis. Untuk itu, Gareth, yang juga menulis skenario dan menyunting film ini, memang mengerahkan segala kemampuan teknis filmmaking-nya.

Penyuntingan yang dilakukan Gareth benar-benar membuat tempo film ini tak meluangkan waktu bagi penonton untuk duduk tenang sejenak. Awal film saja dibuka dengan adegan kekerasan yang nyaris hening jika saja tak diakhiri letusan senapan. Lewat pewarnaan yang muram dalam adegan eksekusi di ladang tebu itu, Gareth seolah ingin menghadirkan horor. Mulai sejak itu, apabila satu adegan aksi pertarungan kelar, tak beberapa lama hadir lagi adegan serupa lainnya.

Dengan koreografi pertarungan yang realistik, serta tata suara dan musik yang menghentak kreasi Joseph Trapanese, Aria Prayogi dan Fajar Yuskemal, kekerasan dalam The Raid 2: Berandal tampil nyaris tanpa estetisasi. Penonton jadi membayangkan kesakitan yang dialami para tokoh. Sebuah pengalaman fisik yang visceral ketika menonton film. Lewat jalinan gambar susunan Gareth juga bikin adrenalin kita terpacu. Sesekali memang Gareth menyempilkan adegan tanpa pertarungan, tapi toh di dalamnya memuat emosi yang mengancam jiwa dari para tokohnya, seperti adegan dalam ruang karaoke. Kita jadi duduk tak tenang sembari penasaran, kekerasan apa yang akan dilakukan para tokohnya.

Walau begitu, kekerasan tanpa estetisasi ini kadang juga bisa mengeluarkan sisi keindahannya juga. Adegan perkelahian massal di tengah lumpur ditorehkan sejenak bagaikan lukisan berkat kamera yang menyorot dari atas. Atau, sewaktu Prakoso meregang nyawa di atas salju dengan darah muncrat di sana-sini, kamera juga menyorot dari atas. The Raid 2: Berandal memang mengulangi keunggulan The Raid, yakni dalam hal sinematografi.

Kali ini duet penata sinematografi, Matt Flannery dan Dimas Imam Subhono, kembali menyajikan pergerakan kamera yang dinamis dan khas. Kamera tak ragu untuk menembus tembok demi mengikuti gerakan tokoh yang menghantam kaca jendela. Kadang, kamera juga ikutan jungkir balik dan bergoyah guna ikuti ritme koreografi pertarungan. Di adegan car chase, pergerakan kamera dibuat modern, sedikit mengingatkan pada adegan di film Children of Men garapan Alfonso Cuaron.

Segala keunggulan teknis yang ditampilkan dalam The Raid 2: Berandal memang di atas rata-rata. Walau cerita model begini bukan jarang ditemui dalam sinema dunia, contohnya Outrage karya Takeshi Kitano, tapi Gareth terbilang piawai dalam meramu cerita kriminalitas yang dipenuhi intrik dan kemunculan banyak tokoh penting. Semua hal itu mendukung adegan pertarungan brutal dan action yang amat keras itu.

Hanya saja ada konsekuensi yang harus dibayar. Pengembangan karakter tokoh utama, Rama/Yuda, jadi tercecer. Padahal, ia adalah pria yang baik dan bertanggungjawab pada anak-istrinya. Bahkan di awal film The Raid, Rama diperlihatkan shalat subuh—yang menyiratkan dia pria yang alim. Tapi dalam The Raid 2: Berandal, Rama/Yuda langsung tancap gas menjadi berandal. Hanya sedikit kita melihat pergulatan batinnya yang harus memilih antara menjadi polisi yang baik, bapak/suami yang bertanggungjawab atau pelaku kriminal.

Memang, persoalan pengembangan karakter ini kerap dinomorduakan dalam film yang fokus pada adegan action pertarungan seperti The Raid 2: Berandal ini. Tapi dengan total durasi 2,5 jam, semestinya Gareth bisa memasukkan satu-dua adegan yang bisa memperlihatkan pengembangan karakter sang tokoh utama. Dengan begitu, Rama dapat terlihat lebih manusia. Bukan cuma tangguh dan bisa mengalahkan lusinan penjahat kejam pakai tangan kosong. Bukan cuma jadi berandal.

 

Resensi ini versi panjang dari yang sudah dimuat di Pikiran Rakyat edisi Minggu, 23 Maret 2014.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s