Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck: Ketika Cinta Mengkritik Masyarakat Adat

 

tenggelamnya_kapal_van_der_wijck

Ketika posternya dirilis sejak awal tahun ini, tak sedikit orang menyindir bahwa film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck meniru film Titanic garapan James Cameron. Padahal, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck aslinya adalah cerita bersambung karangan sastrawan terkemuka negeri ini, Buya Hamka, di majalah Pedoman Masyarakat pada tahun 1938. Cerbung ini kemudian diangkat menjadi novel dengan judul sama.

Lalu, sewaktu trailer-nya tayang secara viral pada Oktober lalu, film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck langsung diasosiasikan dengan film The Great Gatsby garapan Baz Luhrmann, yang kebetulan tayang di bioskop beberapa bulan sebelumnya. Bagaimana tidak? Cuplikan shot-shot yang ditampilkan dalam trailer film arahan Sunil Soraya tersebut punya kemiripan dengan beberapa elemen mise-en-scene (latar, kostum dan pencahayaan) film The Great Gatsby yang megah itu.

Akan tetapi, tentu penilaian itu adalah hasil dari pengamatan sepintas. Sebab pada kenyataannya, kemiripan mise-en-scene tadi pada akhirnya hanyalah untuk bergaya saja yang tidak berpengaruh banyak dan esensial terhadap cerita. Sedangkan nyawa film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck tetaplah kisah cinta dan melodrama.

Semuanya berawal dari kedatangan Zainuddin (Herjunot Ali) ke Batipuh, Padang dari Makassar untuk bersilaturahmi dengan sanak-saudaranya sembari mendalami agama Islam. Pada tahun 1930 itulah pertama kalinya Zainuddin menginjak tanah kelahiran ayahnya. Tak beberapa lama ia tinggal di tanah Batipuh, ia lalu bertemu pandang dengan mata (Pevita Pearce) di tengah sawah. Seketika itu juga, mereka saling jatuh cinta.

Di tengah kehidupan masyarakat adat Padang yang memegang teguh istiadat dan budaya, Zainuddin dan Hayati berkomunikasi dengan sopan lewat surat-menyurat. Sesekali saja mereka bertemu muka di area umum. Tapi, rupanya dari pertemuan yang sesekali itu menjadi bibit desas-desus warga Batipuh. Kabar soal hubungan Zainuddin dan Hayati sampai ke telinga keluarga Hayati, yang termasuk tetua adat di sana. Tak pelak, Hayati kena murka keluarganya.

Hubungan mereka tak direstui akibat darah yang dikandung tubuh Zainuddin, yang tidak tergolong orang Minang tulen. Ibunda Zainuddin adalah orang Bugis. Bagi masyarakat Batipuh, hanya pria Padang tulen saja yang bisa menikahi wanita Padang, begitu juga sebaliknya. Itulah sebabnya hubungan cinta Zainuddin dan Hayati langsung dicap terlarang. Apalagi, Zainuddin berasal dari kelas sosial yang berbeda dengan Hayati.

Kondisi bertambah rumit karena Zainuddin juga diusir secara halus oleh masyarakat di sana. Maka hijrahlah lagi dia, kali ini ke Padang Panjang. Meski begitu, diam-diam Zainuddin dan Hayati tetap berkirim surat. Terlebih, Hayati telah mengucap janji untuk tetap setia menanti sang kekasih. Janji itu menemui ujian saat datang Aziz (Reza Rahadian) ke dalam kehidupan Hayati. Pria mapan dari Padang Panjang ini pada akhirnya meminang Hayati. Tinggallah Zainuddin yang tenggelam dalam kesedihan. Dia menganggap Hayati telah ingkar janji.

Bersama sahabatnya, Muluk (Rendi Nidji), ia lalu merantau ke Batavia untuk bekerja sebagai penulis cerita bersambung dengan nama inisial Z di sebuah surat kabar. Nasib baik berpihak kepadanya. Cerita karangannya, yang sebenarnya mengisahkan kisah cintanya dengan Hayati, memikat banyak orang, terutama para wanita tak terkecuali Hayati. Cerita itu lalu dicetak jadi buku yang laris manis bak kacang goreng. Nasib baik masih menaungi Zainuddin. Berkat keuletan dan kepandaiannya, ia ditawari untuk memimpin perusahaan penerbitan di Surabaya.

Kala Zainuddin menuai kesuksesan di Surabaya, Hayati ternyata juga pindah ke kota yang sama mengikuti Aziz yang dipindahkan kerjanya ke sana. Mereka pun akhirnya bersua dalam pesta yang dihelat di rumah megah Zainuddin—di sinilah bagian yang punya puncak kemiripan dengan mise-en-scene dari film The Great Gatsby. Nasib buruk lalu berpihak kepada Aziz dan Hayati. Aziz yang sebetulnya hobi berjudi dan main wanita itu menemui karmanya. Dia terlilit hutang dan dipecat dari kantornya. Dalam kondisi bangkrut, suami-istri ini lalu menumpang tinggal di rumah Zainuddin.

Tak tahan menahan malu setelah berbulan-bulan menumpang hidup, Aziz menolak pulang ke Padang dan malah pamit pergi untuk mencari pekerjaan serta menitipkan sementara Hayati di rumah Zainuddin. Nyatanya, Aziz pergi selama-lamanya dan tak pernah kembali. Ia memilih bunuh diri. Dalam surat wasiatnya, ia lalu mengikhlaskan Hayati untuk dinikahkan oleh Zainuddin.

Namun, isi hati Zainuddin berkecamuk karena masih mendendam kepada Hayati yang ingkar janji. Ia kemudian memerintahkan Hayati pulang ke Padang dengan menaiki Kapal Van der Wijck. Seperti judul film ini, kapal itu tenggelam, dan maut pun menjemput Hayati. Maka di ujung cerita, baik Zainuddin, Hayati maupun Aziz bisa dikatakan adalah orang-orang terusir dari masyarakatnya yang masih secara kolot memegang adat dan mempertahankan garis keturunan yang murni. Di titik ini, terasalah kritik sosial film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.

Selain itu, dengan bangunan ceritanya, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dapat dikategorikan sebagai film melodrama. Narasi film ini punya ciri melodrama, antara lain konflik di ruang domestik yakni keluarga, terutama ketika hubungan Zainuddin dan Hayati ditentang keluarga besar dan cekcok suami-istri antara Aziz dan Hayati.

Ciri melodrama lainnya adalah tokoh protagonis pria yang penuh problem, yakni Zainuddin yang merasa kehilangan identitas akibat memiiki darah Bugis dan Minang. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck juga memuat tokoh protagonis perempuan, Hayati, yang memicu tindakan dan pilihan yang diambil tokoh protagonis pria. Di sisi lain, film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck juga memuat ruang lebih bagi sudut pandang pikiran tokoh protagonis perempuan, Hayati.

Akan tetapi, sayangnya alunan melodrama itu tak terjalin dengan rapi. Ada bagian-bagian yang hilang dalam struktur ceritanya yang membikin jahitan plot-plotnya kendur. Begitu juga dalam segi karakter. Perjalanan karakter Aziz, mulai dari sukses sampai akhirnya dia menyerah dengan hidupnya terasa tidak ajeg.

Lainnya adalah persoalan kelemahan teknis yang ada, seperti tata suara yang terdengar lebih memfasilitasi scoring ketimbang dialog dan inkosistensi sinematografi. Kadang visualnya jernih, tapi di beberapa bagian tampak buram. Walau begitu, bolehlah diapresiasi upaya pembuat film untuk mengkreasi kemegahan visualisasi cerita cinta Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Sebab tak banyak, sineas yang berani berbuat seperti ini.

 

Resensi ini dimuat di harian Pikiran Rakyat edisi 22 Desember 2013.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s