Rumus Jitu Menang Oscar

DF-02128FD.psd

 

Film 12 Years a Slave yang memenangkan Film Terbaik Oscar tahun ini menjadi wujud nyata tentang rumus jitu untuk memenangkan Oscar.

Kemenangan film 12 Years a Slave menjadi Best Picture dalam ajang Academy Awards yang ditonton 43 juta orang (acara TV penonton terbanyak dalam 10 tahun terakhir) pada minggu lalu memang sudah diprediksi. Film garapan Steve McQueen peraih tiga Oscar (Film Terbaik, Skenario Adaptasi Terbaik, dan Aktris Pendukung Terbaik) ini membuat para produser Gravity harus mengikhlaskan penghargaan bergengsi itu.

Kutukan yang bilang bahwa film science-fiction tak bisa menang jadi Film Terbaik di Oscar pun makin terbukti. Walau setidaknya para filmmaker Gravity tetap bisa pulang dengan kepala tegak. Sebab film garapan Alfonso Cuaron itu menjadi peraih Oscar terbanyak, tujuh buah, yang hampir semuanya di kategori teknis (Sutradara Terbaik, Sinematografi, Editing, Efek Visual, Sound Mixing, Sound Editing dan Original Score).

Richard Corliss, redaktur senior majalah Time sekaligus penulis buku terkenal “Talking Pictures”, menganalisa dengan tajam soal pangkal penyebab gelar Film Terbaik gagal disabet Gravity, walau secara statistika film science fiction itu unggul di atas kertas. Penyebabnya adalah para anggota Academy of Motion Picture Arts and Sciences (AMPAS), yang melakukan voting guna menentukan para pemenang Oscar, tak cocok untuk menonton Gravity.

Gravity terlalu canggih untuk ditonton para anggota AMPAS.
Gravity terlalu canggih untuk ditonton para anggota AMPAS.

“Yang tidak disukai para anggota Akademi (AMPAS): pergi ke bioskop (mereka biasanya menonton film-film nominasi di ruang nonton pribadi mereka) dan film 3D (karena orang berusia uzur tidak mau memakai kacamata 3D di depan kacamata mereka). Gravity, seperti halnya Avatar, lebih baik ditonton di layar bioskop dengan kualitas gambar dan suara yang bagus. Mereka yang menonton film itu di rumah kehilangan semua faktor keunggulan tersebut,” tulis Richard dalam artikelnya di majalah Time.

Tapi, setua apa sebenarnya usia para anggota AMPAS yang kini total berjumlah 6.028 orang itu? Pihak AMPAS memang tidak pernah membuka secara gamblang perihal data keanggotaan mereka. Namun, survei terbaru koran Los Angeles Times menyebutkan, rata-rata usia anggota AMPAS adalah 63 tahun dan didominasi oleh pria sebanyak 76 persen.

Patut diketahui pula bahwa dalam dua tahun terakhir, ada 452 anggota baru bergabung di AMPAS, walau 20 di antaranya tak punya hak suara untuk voting di Oscar. AMPAS memang berupaya untuk memermak wajahnya jadi lebih muda. Awal tahun ini saja, ada 276 orang yang diundang AMPAS untuk menjadi anggota. Dua di antaranya aktris-penyanyi Jennifer Lopez dan aktor laga Danny Trejo (Desperado, Grindhouse, Machete Kills).

Tapi upaya itu tak gampang. Sebab anggota yang berusia tua masih lebih banyak ketimbang yang muda. Malahan, misalkan ada 200 anggota tertua AMPAS yang mangkat dan digantikan oleh orang-orang muda, komposisinya tak akan jauh berubah. Diprediksi pada tahun 2023, usia rata-rata anggotanya hanya turun menjadi 61 tahun.

Dengan demografi seperti itu, kekalahan Gravity dari 12 Years a Slave adalah keniscayaan. Seperti juga yang pernah terjadi pada tahun 2010, sewaktu Avatar dipermalukan oleh The Hurt Locker.

Selain itu, kehadiran para anggota baru ini diharapkan bisa mengubah AMPAS menjadi lebih plural serta menambah anggota wanita dan kalangan minoritas. Soalnya, dari tahun ke tahun isi AMPAS ‘dikuasai’ warga kulit putih. Tapi realitanya, anggota AMPAS dari ras kulit putih kini masih tetap dominan. Tepatnya 93 persen atau cuma turun 1 persen dari hasil survei serupa tahun 2012.

AMPAS dibandingkan dengan negara-negara bagian Amerika yang punya warga kulit putih terbanyak. (Sumber: The Atlantic)
AMPAS dibandingkan dengan negara-negara bagian Amerika yang punya warga kulit putih terbanyak. (Sumber: The Atlantic)

Derek Thompson, redaktur senior The Atlantic, iseng membandingkan persentase anggota AMPAS dari ras kulit putih dengan negara-negara bagian Amerika Serikat yang punya warga kulit putih terbanyak–alias The Whitest States, kata Derek. Hasilnya, AMPAS duduk di posisi kedelapan, berada di bawah Iowa dan di atas Utah.

Meningkatkan keragaman adalah tujuan yang dipegang teguh AMPAS. Begitu keyakinan Cheryl Boone Isaacs. Ia warga keturunan Afro-Amerika pertama yang menjadi Presiden AMPAS, jabatan yang baru diembannya selama delapan bulan. John Ridley, penulis skenario film 12 Years a Slave, seakan sepakat dengan Cheryl. Jawara Oscar kategori Skenario Adaptasi Terbaik tahun ini juga mengakui, “Ini masa luar biasa untuk warga kulit berwarna.”

Pria kelahiran Milwaukee ini menjadi warga Afro-Amerika kedua yang memenangkan Oscar untuk kategori Skenario Adaptasi Terbaik. Yang pertama adalah Geoffrey Fletcher, si penulis skenario film Precious tahun 2009. Namun, John buru-buru menambahkan, orang-orang kulit hitam masih harus berjuang lebih lama agar anggota AMPAS berubah jadi plural. “Data hasil survei terbaru tak bisa berbohong,” katanya.

Status quo soal ‘dominasi’ warga kulit putih dalam AMPAS ini lalu berimbas pada kecenderungan mereka untuk berpihak pada film-film yang menyoal diskriminasi ras, semisal isu perbudakan. Lebih tepatnya, film-film yang punya benang cerita, “Orang-orang kulit hitam ditekan oleh orang-orang kulit putih yang jahat. Mereka lalu meraih kemerdekaan dengan dibantu oleh orang-orang kulit putih yang baik dan punya jabatan. Happy ending,” kata Noah Berlatsky.

Steve McQueen kegirangan saat meraih Oscar sebagai Film Terbaik.
Steve McQueen kegirangan saat meraih Oscar sebagai Film Terbaik.

Penulis artikel di The Atlantic, Slate dan Wired ini melihat bahwa itulah pola naratif yang disukai kebanyakan anggota AMPAS. Film 12 Years a Slave adalah bukti paling gres dari ‘teori’ Noah tersebut. Perhatikan saja apa jasa Bass (tokoh yang diperankan Brad Pitt) kepada Solomon Northup (Chiwetel Ejiofor)  dalam film itu. Sedangkan kalau merunut ke belakang, ada beberapa film tentang diskriminasi ras dengan pola naratif serupa.

Sebut saja, Glory yang rilis tahun 1989. Film berdasarkan kisah nyata karya Edward Zwick itu memperlihatkan Kapten Robert Shaw (Matthew Broderick) berperang dengan pasukan tentara dari ras kulit hitam. Atau, ingatlah pidato John Quincy Adams (Anthony Hopkins) di pengadilan yang membela habis-habisan para budak ilegal asal Afrika dalam film Amistad karya Steven Spielberg tahun 1998.

Mau contoh lagi? Ingat juga upaya Presiden Abraham Lincoln (Daniel Day Lewis) untuk menghapus perbudakan di Amerika dalam film Lincoln (2102) karya Steven Spielberg. Pada tahun yang sama, film arahan Quentin Tarantino, Django Unchained, juga membeberkan peran Dr. King Schultz (Christoph Waltz) untuk membebaskan sekaligus membantu si budak jago tembak, Django (Jamie Foxx).

Dari benang cerita seperti itu, Noah berargumentasi, orang-orang kulit putih (yang direpresentasikan kebanyakan anggota AMPAS) merasa butuh dan harus mengonsumsi cerita-cerita soal sikap anti-rasisme orang-orang kulit putih. Tujuannya guna menginspirasi orang lain sekaligus menunjukkan kerendahan hati. Penebusan dosa? Bisa jadi, apalagi menilik praktek perbudakan lumayan menghitamkan buku sejarah bangsa Amerika.

Peran tokoh dari kalangan warga kulit putih cukup besar dalam cerita film-film tentang perbudakan.
Peran tokoh dari kalangan warga kulit putih cukup besar dalam cerita film-film tentang perbudakan.

Apabila setiap film yang merepresentasikan perbudakan umumnya memuja pengorbanan mulia orang-orang kulit putih yang punya kedudukan terhormat di masyarakat, maka secara sadar maupun tidak sadar, “Hal itulah yang sebenarnya diinginkan (orang-orang kulit putih),” kata Noah, yakin.

Sekalipun dicermati dari segala sisi, kualitas film 12 Years a Slave memang tak perlu diragukan lagi untuk membawa pulang gelar Film Terbaik di Academy Awards. Namun, sekali lagi, sajian 12 Years a Slave memang sesuai dengan ‘teori’ Noah perihal keberpihakan anggota AMPAS pada isu diskriminasi ras dan anti-rasisme. Film ini unggul di poin tersebut ketimbang Gravity maupun tujuh film pesaing lainnya.

Lagipula, ada satu lagi elemen penting dalam film-film tentang perbudakan yang dapat mencuri para anggota AMPAS: kisah yang happy ending. Sebab bagaimanapun, menonton film dengan diakhiri perasaan bahagia selalu punya kekuatan lebih untuk menginspirasi daripada cerita drama yang kelam dan pahit. Padahal, kata Noah, perbudakan jelas bukanlah sesuatu yang menyenangkan.

Dan memang dalam kenyataannya, setelah berkumpul lagi dengan keluarganya lalu menjadi aktivis anti perbudakan, keberadaan Solomon Northup akhirnya tak diketahui lagi pada tahun 1857. Ia seolah ditelan bumi. Lenyap tak berbekas. Tak ada catatan resmi yang mencatat kematiannya. Malah, ada yang bilang Solomon diculik dan dijadikan budak lagi.

 

Artikel ini terbit pertama kali di Muvila.com pada 10 Maret 2014.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s