Film Terbaik Oscar Tahun Ini Adalah..

New York City Celebrates The 83rd Annual Academy Awards

 

Statistika menyimpulkan Gravity akan jadi Film Terbaik Oscar, tapi jalan itu tak mulus.

Brad Pitt mencoba untuk memecah kekikukan di atas podium Producers Guild of America (PGA) Award pada 19 Januari lalu. Dalam malam penghargaan untuk para produser di Hollywood itu, Brad berseloroh dengan bilang bahwa baru memberikan suara di menit-menit terakhir voting. Saya memilih Gravity, kata Brad. Seisi gedung Beverly Hilton kontan tergelak mendengar itu.

Bagaimana tidak. Brad adalah salah satu produser film 12 Years a Slave, yang memenangkan Darryl F. Zanuck Award untuk kategori bergengsi, Outstanding Producer of Theatrical Motion Pictures. Sedangkan film yang mengulik isu perbudakan di Amerika Serikat itu bukanlah jawara tunggal. Penghargaan Darryl F. Zanuck juga diberikan kepada sci-fi laris Gravity.

Ini sejarah baru. Producers Guild of America (PGA) Award melahirkan juara ganda untuk pertama kalinya, di kategori bergengsi pula. Walhasil, upaya memprediksi pemenang Film Terbaik Oscar makin sulit. Tiga hari sebelumnya, Academy of Motion Picture Arts and Sciences (AMPAS) mengumumkan bahwa Gravity karya Alfonso Cuaron dan 12 Years a Slave karya Steve McQueen menjadi kandidat Film Terbaik.

12 Years a Slave menang PGA Award. Begitu juga Gravity.
12 Years a Slave menang PGA Award. Begitu juga Gravity.

Selain dua film itu, ada si kuda hitam American HustleCaptain Phillips, Dallas Buyers Club, Her, Nebraska, The Wolf of Wall Street, danPhilomena yang juga menjadi kandidat Film Terbaik dalam Oscar tahun ini. Namun, Gravity dan 12 Years a Slave diyakini para stakeholderHollywood sebagai calon jawara terkuat. Mengapa? Sebab statistika telah berbicara.

Dan, angka-angka hasil perhitungan statistika sulit untuk diremehkan. Mari ingat apa yang dikisahkan Iwan Setyawan, pakar statistika sekaligus penulis novel 9 Summers 10 Autumns yang difilmkan pada tahun lalu. Percayalah pada dua hal di dunia ini, Tuhan dan data. Begitu kata Iwan.

Nate Silver juga meyakini itu. Ia adalah  pakar statistika Amerika yang kerap akurat dalam memprediksi hasil pemilu legislatif dan presiden. Lewat metode statisika bikinannya, ia memprediksi para pemenang enam kategori utama Academy Awards pada tahun 2009 dan 2011. Hasilnya: dari 12 prediksi, sembilan di antaranya benar.

Tahun lalu, Argo menyabet semua award penting. Best Picture Oscar pun sudah diprediksi kuat mampir ke tangan Argo. (Sumber: Slate)
Tahun lalu, Argo menyabet semua award penting. Best Picture Oscar pun sudah diprediksi kuat mampir ke tangan Argo. (Sumber: Slate)

“Lumayan, tapi tetap tidak cukup untuk menyatakan bahwa ada formula sakti untuk (prediksi pemenang Oscar ini,” ujar Nate.

Nate menghitung probabilitas Film Terbaik para pemenang dari ajang penghargaan film lain selama 25 tahun terakhir untuk menjadi Film Terbaik Oscar. Terutama penghargaan-penghargaan yang punya pemilih (voters) yang sama dengan AMPAS. Karena semua penghargaan film di Hollywood menerapkan pemungutan suara (voting), maka metode Nate ini mirip polling pemilu atau quick count.

Ambil contoh, para anggota Screen Actors Guild yang memilih dalam SAG Awards juga merupakan anggota AMPAS. Begitu pula Producers Guild of America (PGA), Directors Guild of America (DGA), British Academy (BAFTA), dan Writers Guild of America (WGA). Para anggota berbagai asosiasi tersebut juga anggota AMPAS, yang total berjumlah 6000 orang.

12 Years a Slave lebih unggul dalam peraihan award ketimbang Gravity. (Sumber: Slate)
12 Years a Slave lebih unggul dalam peraihan award ketimbang Gravity. (Sumber: Slate)

Ternyata, probabilitas Film Terbaik Producers Guild of America (PGA) untuk menjadi jawara Oscar sebesar 70 persen. Cukup tinggi. Itu makanya 12 Years a Slave dan Gravity menjadi kandidat terkuat Film Terbaik Oscar tahun ini. Apakah berarti Oscar tahun ini juga bakal punya dua Film Terbaik? Kepada Majalah Time, perwakilan AMPAS dengan tegas mengatakan, “Tentu tidak.”

Namun, siapa yang bisa menjamin itu. Soalnya, Academy Awards dan semua penghargaan film lain Hollywood tidak pernah berlaku transparan untuk membuka hasil voting mereka. Kalah demokratis dengan pemilu ataupun polling dan quick count. Demokrasi di Amerika ternyata tidak seagung itu.

Baiklah. Mari balik kepada data. Jika PGA belum bisa mengerucutkan ke satu pilihan, lain halnya dengan Directors Guild of America (DGA)yang menyorongkan Gravity sebagai kandidat Film Terbaik Oscar. Soalnya, sang sutradara, Alfonso Cuaron, telah memenangkan penghargaanOutstanding Achievement in Feature Film DGA.

Alfonso Cuaron sudah ha
Alfonso Cuaron sudah hampir pasti dapatkan Oscar untuk Sutradara Terbaik.

Memang, probabilitas DGA terhadap Oscar ternyata lebih tinggi dari PGA, bahkan jadi yang tertinggi dari penghargaan film lainnya. “Sebanyak80 persen dari film-film yang digarap pemenang DGA akhirnya menjuarai Oscar,” ujar Nate Silver dalam artikel Oscar Predictions, Election-Style” di koran The New York Times.

Dan, jika besok pagi Alfonso Cuaron menjadi Sutradara Terbaik di Academy Awards, maka sangat mungkin pula Gravity menang jadi Film Terbaik. Karena data juga telah memperlihatkan bahwa dari 40 sutradara terakhir yang memenangkan Oscar, 33 orang di antaranya menyaksikan film garapan mereka juga membawa pulang Oscar.

Gravity jadi pemenang Film Terbaik dalam Academy Awards tahun ini? Ternyata belum tentu. Bagaimanapun angka hasil statistika bukanlah Tuhan.

Ini hasil analisa Nate Silver. (Sumber: The New York Times)
Ini hasil analisa Nate Silver. (Sumber: The New York Times)

Richard Corliss, redaktur Majalah Time sekaligus buku terkenal Talking Pictures (1974), malah bilang dengan yakin, Gravity tidak akan menang jadi Film Terbaik Oscar. Ia punya argumentasi kuat. Dalam 84 kali perhelatan Academy Awards terakhir, film science-fictiondengan kualitas mumpuni sekalipun belum pernah bisa memenangkan kategori Film Terbaik.

Tahun 1969, Oliver! arahan Carol Reed mengalahkan 2001: A Space Odyssey karya maestro Stanley Kubrick. Lalu, E.T.: The Extra-Terrestrial bikinan Steven Spielberg keok oleh Gandhi garapan Richard Attenborough pada tahun 1983.

Jangan lupakan pula film drama perang The Hurt Locker yang mempermalukan film terlaris sepanjang masa, Avatar, pada tahun 2010. Yang terakhir ini unik, karena sutradara The Hurt Locker, Kathryn Bigelow, adalah mantan istri James Cameron, sutradara Avatar.

Steve McQueen ketika 12 Years a Slave menang di BAFTA.
Steve McQueen ketika 12 Years a Slave menang di BAFTA.

Kata Richard Corliss, 6000 anggota AMPAS sulit jatuh hati pada Gravity. Soalnya, dari peraih Film Terbaik, seperti Gandhi, Oliver!, The Hurt Locker dan juga Argo, terlihat para anggota AMPAS cenderung memilih film yang bisa menyentuh hati pelaku industri film Hollywood. Bukanlah film yang mencengangkan pikiran dan panca indera, seperti Avatar maupun Gravity.

Para anggota AMPAS juga lebih menyukai film-film yang memperkerjakan aktor-aktris dan filmmaker yang punya ‘filmmaking style‘ tradisional. “Masa depan digital film-film diharamkan oleh para anggota AMPAS. Mereka lebih memilih yang lama tapi dikemas secara baru,” ujar Richard.

Lebih spesifik lagi, Richard menjelaskan, anggota AMPAS suka memilih film-film yang berlatar di masa kini dan lampau. Buktinya, delapan dari 10 Film Terbaik di era 1990-an dan sembilan Film Terbaik di era milenium berciri seperti itu. Film yang kisahnya berdasarkan realita, seperti The Hurt Locker, The King’s Speech dan Argo, juga memikat mereka.

Skor Gravity unggul ketimbang 12 Years a Slave. (Sumber: Slate)
Skor Gravity unggul ketimbang 12 Years a Slave. (Sumber: Slate)

“Jika film itu tentang film, akan lebih baik,” kata Richard, merujuk pada kemenangan The Artist dan Argo.

Gravity gagal total memenuhi kriteria-kriteria tersebut. Apalagi, film yang dibintangi Sandra Bullock dan George Clooney itu juga tidak memuat komentar sosial maupun agenda politik. Bandingkan dengan 12 Years a Slave yang sangat merepresentasikan harapan dan impian bangsa Amerika soal kesetaraan sosial.

Menurut Richard, Gravity memang film besar yang pantas meraih ganjaran di peringkat box office, tapi tidak di malam Oscar. “Gravity ibarat sebuah film Marvel dengan IQ yang tinggi,” tulisnya dalam Majalah Time.

Patut dicatat soal demografi 6000 anggota AMPAS yang tidak sedikit pula sudah menjadi orang tua. Maka, bioskop dan format 3D bukanlah ruang nyaman bagi mereka. Tentu saja, kondisi ini merugikan bagi film-film dengan teknik pembuatan yang tercanggih semacam Gravity dan Avatar.

Maka dari itu, tak ada salahnya jika ada yang sepakat dengan kesimpulan Richard Corliss yang bilang, 12 Years a Slave mungkin jadi pemenangnya. Walaupun, Richard sendiri dari dalam hati menjagokan Gravity.

Akan tetapi, lagi-lagi analisa dan prediksi Richard itu bukan bertolak angka-angka yang detail. Jika saja hasil voting final AMPAS pada Oscar tahun-tahun sebelumnya, termasuk pula hasil voting proses penominasiannya, diungkap ke publik, maka analisa para pakar statistika bakal lebih kaya. Kita jadu lebih tahu dan paham soal minat dan ketertarikan anggota AMPAS terhadap sebuah film. Prediksi pun bisa jadi lebih akurat.

Karena film sci-fi, Gravity diprediksi tidak akan mendapat Oscar sebagai Film Terbaik.
Karena film sci-fi, Gravity diprediksi tidak akan mendapat Oscar sebagai Film Terbaik.

Lagipula, fakta bahwa ada kampanye dan upaya melobi anggota AMPAS oleh para studio pembuat film yang masuk daftar nominasi Film Terbaik juga tidak bisa dikesampingkan. Tujuannya satu: memperpanjang dan melapangkan napas film mereka di tangga box office, lokal maupun global.

Mirip dunia politik memang. Kalau sudah begini, apa yang patut dipercayai? Angka hasil statistika atau tradisi lama yang dipegang kuat para anggota AMPAS?. Yang pasti, politisi dan mantan Perdana Menteri Inggris Winston Churchill pernah berkata, “Politics is not a game. It is an earnest business.”

 

Artikel ini terbit pertama kali di Muvila.com pada 2 Maret 2014.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s