Azrax Terombang-ambing Melawan Sindikat Perdagangan Wanita

foto 2

Judulnya cukup panjang, Azrax Melawan Sindikat Perdagangan Wanita, dan berbeda dibandingkan judul film Indonesia lainnya yang umumnya berupa kata atau frase. Sebut saja Kawin Kontrak 3, Crazy Love, Perawan Seberang, dan sebagainya. Dilihat dari kelengkapannya, judul film yang diproduseri Gatot Brajamusti ini sudah memenuhi syarat sebagai kalimat tunggal, karena punya dua unsur inti, yakni subjek (Azrax) dan predikat (Melawan). Syukurlah ditambahkan unsur objek (Sindikat Perdagangan Wanita), sehingga semakin gamblang apa kisah film ini dan indikasi cara tuturnya. Jika pun ditambah unsur keterangan, niscaya kita sebagai para calon penonton sudah tidak lagi memiliki rasa panasaran sedikit pun terhadap film garapan Dedi Setiadi ini.

Sebagai subjek dalam kalimat atau judul, Azrax tentu adalah nama tokoh utama film ini. Aktor yang memerankannya Aa Gatot, panggilan akrab Gatot Brajamusti, yang sehari-hari juga menjabat sebagai Ketua Umum PARFI (Persatuan Artis Film Indonesia). Sebagaimana menjadi pokok kalimat, subjek alias Azrax lalu menjadi sentral di lingkungan tempat tinggalnya. Di kampungnya di pelosok Jawa Barat, Azrax yang masih lajang, bijak dan jago silat ini dikisahkan dalam skenario yang ditulis Didi Surya memiliki pondok pesantren dan padepokan persilatan. Tak heran dia lumayan disegani oleh warga dan ditaksir para gadis-gadis di kampung.

Sampai-sampai ketika banyak warga kampung yang anak atau sanak saudaranya kena tipu rayu Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) ilegal, Azrax jadi orang pertama yang diminta pertolongan, bukannya kepada polisi. Dan, karena menjadi subjek pulalah, ia tidak tinggal diam melihat kejahatan hadir di depan mukanya. Azrax mulai beraksi mencari tahu ke mana para warga itu dibawa pergi PJTKI ilegal. Baju gamis dan sorban pun segera ditanggalkannya, diganti dengan memakai jaket kulit, kaos, celana jeans, serta kacamata hitam. Rambut gondrongnya juga dibiarkan tergerai. Maka lengkaplah citra maskulin Azrax, meski juga tetap diperlihatkan relijius dengan sesekali berzikir. Tapi maskulinitas masih belum sempurna tanpa ditemani aksi baku hantam khas laki-laki jagoan.

Di titik kisah film ini, maka Azrax mulai bertindak seperti jagoan dalam film-film action Hollywood, umumnya dari era 1980-an dan awal 1990-an, seperti tokoh protagonis macho yang pernah diperankan Slyvester Stallone, Chuck Norris, Steven Seagal. Sedangkan dari film-film Indonesia, Azrax memiliki kesamaan ciri dengan tokoh-tokoh jagoan yang diperankan Rhoma Irama. Ia tak gentar beraksi di luar sistem hukum, walau di awal film sempat mengaku mengerti hukum. Namun, aksi baku hantamnya tidak dilakukan seorang diri, melainkan dibantu oleh Budi (Yama Carlos) dan Ricky (Mario Irwinsyah) yang juga memiliki problem serupa terkait jeratan PJTKI ilegal.

Dari hasil penelusuran mereka, barulah diketahui bahwa para warga kampungnya Azrax dan keponakan Budi, Jamila (Tamara Tiasmara), serta pacar Ricky, Fanny (Nadine Chandrawinata), ternyata disalurkan oleh PJTKI ilegal kepada sindikat perdagangan wanita yang beroperasi di Hong Kong. Mereka dipaksa bekerja sebagai wanita penghibur. Otomatis makin geramlah Azrax. Aliran cerita Azrax Melawan Sindikat Perdagangan Wanita pun kemudian benar-benar menjadikan Azrax subjek sentral yang merasa punya tanggung jawab moral untuk memberesi sengkarut masalah hukum dan sosial, seperti isu besar soal perdagangan manusia.

Namun, seiring Azrax menjadi subjek sentral plus dibebani isu besar tersebut, film ini juga jadi menanggung problem yang tak kalah besarnya. Film ini terlihat terombang-ambing di antara dua kutub, antara ingin menjadi sebuah spectacle (tontonan) belaka atau film yang memuat pesan moral. Niatan menjadi spectacle terlihat jelas dari aksi perkelahian dan kekerasan fisik yang mendominasi isi adegan-adegan film. Sedangkan indikasi tentang menjadi film dengan muatan pesan moral beberapa kali kita temukan, terutama saat Azrax memberi petuah atau nasehat kepada Budi atau Ricky secara verbal. Itu pun sembari menggulirkan tasbih dan didahului aksi berzikir atau shalat. Puncaknya terdapat di dekat ujung film saat Azrax adu mulut dengan bos besar PJTKI ilegal.

Padahal untuk memunculkan pesan, entah itu yang bersifat moralitas maupun relijius, tidak perlu sampai sebanal itu. Asal sudah tersaji struktur cerita dengan elemen-elemen yang saling menopang serta karakter yang meyakinkan dan punya motivasi kuat, maka tahap selanjutnya adalah cukup serahkan kepada penonton untuk menemukan sendiri pesan-pesan yang disiratkan oleh pembuat film. Syarat tersebut wajib dipenuhi, tak peduli bahwa target penonton film ini dari kalangan masyarakat menengah bawah. Sedangkan film Azrax Melawan Sindikat Perdagangan Wanita memiliki plot cerita dan penyuntingan yang memaksakan diri seperti agar bisa berlari sprint, tapi sayangnya tanpa bertolak dari adegan-adegan yang penting.

Prihatinnya lagi, adegan-adegan yang penting justru tidak disajikan dengan matang. Adapun adegan-adegan tidak penting dibikin bertele-tele, seperti adegan-adegan awal film yang memperlihatkan Azrax digilai para gadis. Apakah itu untuk menguatkan citra maskulin Azrax? Yang pasti, logika cerita sejak awal jadi tercederai. Implikasi lain dari kurang seriusnya penggarapan adegan-adegan penting tampak pada signifikansi tokoh dan karakter Fanny sebagai jurnalis terhadap efektivitas plot cerita. Selain itu, akibat kecerobohan-kecerobohan tadi, maka memandang film ini sebagai spectacle pun jadi tak pantas. Apalagi, teknik filmmaking yang diterapkan Dedi Setiadi serta akting berkelahi para aktornya tak memadai untuk menonjolkan sisi spectacle film ini.

Contoh spectacle yang paling menonjol dalam perfilman Indonesia beberapa tahun terakhir ini adalah The Raid (Gareth Evans, 2011). Sekalipun memang kita tak bisa membandingkan Azrax Melawan Sindikat Perdagangan Wanita dengan film yang dibintangi Iko Uwais dan Joe Taslim tersebut, terlepas dari perbedaan jauh perihal teknis dan biaya produksinya. Namun, paling tidak tetap ada logika cerita yang dipenuhi oleh The Raid di tengah-tengah tempo cepat bertutur ceritanya dan masifnya serbuan adegan pertarungan. Pada poin itu, Azrax Melawan Sindikat Perdagangan Wanita masih harus banyak belajar.

 
Resensi ini dimuat di Harian Pikiran Rakyat pada 8 September 2013.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s