About Time: Eskapisme dan Fantasi Perjalanan Waktu

About Time

Seperti bunyi judulnya, film About Time garapan sineas Inggris, Richard Curtis, memang menyorongkan persoalan waktu yang kerap dijadikan kambing hitam oleh warga urban-metropolis masa kini. Ketika waktu terasa terlalu melesat cepat, sehingga kadangkala menciptakan penyesalan dan dilema, terlebih jika sudah masuk ke ranah romansa cinta antar manusia. Hal-hal duniawi itulah yang dieksplorasi Richard Curtis, sang sutradara dan penulis skenario spesialis kisah-kisah drama maupun komedi romantis ini.

Ide dasar About Time bertolak dari keyakinan tokoh utamanya, Tim Lake (Domhnall Gleeson), yang bilang, “Semua perjalanan waktu ke masa lalu di dunia ini tidak bisa membuat seseorang balik mencintai kamu.” Nah, About Time menekuri ide tersebut. Keyakinan Tim itu sendiri tidak didapat itu bukan dari khayalan, tapi dari kejadian nyata. Dalam mayapada cerita film Inggris ini, Tim bukanlah tipe pria yang pede dan paham soal wanita. Meski rupawan dan jangkung, tapi dia serba kikuk terhadap wanita yang ditaksirnya.

Sampai kemudian sang ayah (Bill Nighy) membongkar sebuah rahasia mahapenting kepada Tim bahwa setiap pria dalam keluarga mereka ternyata memiliki kemampuan untuk kembali ke masa lalu. Caranya sederhana. Cukup masuk ke ruangan gelap—biasanya lemari pakaian, memikirkan momen dahulu yang ingin dituju, mengepalkan tangan, dan Tim pun langsung tiba di masa lalu. Ayah Tim cuma berpesan agar kemampuan spesial itu dipakai untuk problem-problem yang personal dan kecil-kecil saja.

“Kamu tidak bisa membunuh Hitler atau bercinta dengan Helen of Troy,” kata si ayah. Tim mengangguk dan menimpali bahwa dirinya hanya punya masalah dengan cinta dan perempuan. Ya, di usianya yang sudah menginjak 21 tahun, Tim ternyata belum pernah berpacaran. Dengan kemampuan untuk pindah ke masa lalu, Tim memprediksi bakal bisa terbantukan. Pada kenyataannya tidak segampang itu. Sebab, Richard Curtis tak pernah membuat masalah cinta dapat disepelekan. Seperti yang kita saksikan dalam film-film komedi romantis yang ditulisnya (Four Weddings and a Funeral, Bridget Jones’s Diary, dan Notting Hill) maupun yang juga disutradarainya (Love Actually).

Tim lalu bersua dengan Mary (Rachel McAdams) lewat sebuah kencan buta yang benar-benar gulita, di mana mereka hanya bisa menerka-nerka soal paras dan kepribadian dari suara saja. Dari pertemuan perdana itu, mereka saling tertarik. Sayang, akibat balik ke masa lalu demi membetulkan pertunjukan teater yang skenario ditulis oleh teman ayahnya, Harry (Tom Hollander), nomor ponsel Mary lenyap. Namun Tim tak menyerah begitu saja. Dia kadung jatuh cinta pada Mary. Berhasil. Cinta Mary yang berasal dari Amerika ini berhasil direguknya. Mereka berpacaran tanpa banyak menemui rintangan, hingga akhirnya memutuskan menikah dan memiliki dua bocah yang lucu.

Dari hubungan Tim dan Mary ini, memang tak terlihat tentang beratnya masalah cinta, meski akting Domhnall Gleeson dan Rachel McAdams tetap mumpuni. Namun, ternyata ada relasi dua tokoh yang begitu penting bagi Richard Curtis dalam About Time. Relasi yang sebetulnya menjadi pengikat dramatika kisah film ini, yakni antara Tim dengan ayahnya. Di sinilah About Time memberikan dilema bagi tokoh protagonis utamanya, Tim, serta kita yang sesekali juga merasakannya. Apakah tetap betah terkungkung di masa lalu, hidup di masa kini, atau pilih menyongsong masa depan? Jawabannya hadir di seperempat akhir About Time yang dramatis secara tenang tanpa perlu mendayu-dayu lewat father and son relationship ini.

Pilihan Richard Curtis untuk melanjutkan dari kisah romansa Tim dan Mary kepada hubungan Tim dan ayahnya bagaikan pedang bermata dua. About Time jadi terlampau panjang dan kurang mempunyai daya kejut lewat konflik utamanya. Apalagi, sejak awal kita sudah diberitahu bahwa masalah utama Tim sebenarnya adalah dalam hal mengencani wanita. Begitu masalah ini kelar, About Time jadi terasa kehilangan konflik utama yang membakar cerita. Adanya subplot tentang problem adik Tim, Kit Kat (Lydia Wilson), dengan kekasihnya, Jimmy (Tom Hughes), pun hanya menjadi selingan, walau masih sejalan dengan ide dasar tentang perjalanan waktu yang tidak bisa bikin seseorang jatuh cinta

Tapi secara umum, Richard Curtis tetap berhasil membuat hati jadi nyaman dalam mengikuti alur kisah About Time. Selain lewat karakter-karakter unik para tokohnya—seperti yang kerap diciptakan oleh Richard Curtis dalam skenario film-film yang ditulisnya, hubungan Tim dan ayahnya mampu memanjangkan dramatika film ini sesuai dengan napas dari ide dasar yang ditekurinya. Lagipula, alur cerita non-linear dalam penuturan About Time, seperti yang kita temui dalam film-film tentang perjalanan waktu, bisa menjadi eskapisme dan fantasi yang memuaskan serta membuat penuh hati penonton. Sebab, kita tahu di dunia nyata kita tidak bisa mengembalikan waktu.

 

Resensi ini dimuat di Harian Pikiran Rakyat pada 10 November 2013.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s