The Dark Knight Rises: Pengulangan Eksperimen Sosial yang Sia-sia

Di The Dark Knight (2008), Alfred Pennyworth (Michael Caine) menceritakan pengalaman masa lalunya dalam berurusan dengan gerombolan bandit di hutan Burma kepada tuannya, Bruce Wayne (Christian Bale) alias Batman. Menurut Alfred, beberapa pelaku kriminal tidak melakukan kejahatan demi uang dan mereka tidak dapat diajak bernegoisasi. “Some men just want to watch the world burn,” tuturnya. Ketika baru saja kehilangan Rachel Dawes, sahabat karib sejak kecil sekaligus satu-satunya wanita yang dicintainya, Bruce bertanya kepada Alfred soal bagaimana akhirnya para bandit di hutan Burma itu berhasil ditangkap. “We burned the forest down, jawab Alfred.

Kebohongan Sebagai Tameng

Delapan tahun setelah kejadian pilu tersebut, kota Gotham sedang menikmati masa damainya dalam kisah The Dark Knight Rises. Aturan hukum yang diinisiasi mendiang Jaksa Wilayah Harvey Dent berlaku dengan ketat, sehingga berhasil menjebloskan para gembong mafia dan pelaku kriminal. Itulah wajah bahagia kehidupan masyarakat Gotham sekarang.

Bruce Wayne sebaliknya malah memilih eksil dan tak ingin terlibat lagi dengan kota tempat tinggalnya. Persona Batman yang tadinya diniatkan untuk menginspirasi kebaikan, akhirnya malah harus ditebus Bruce dengan kematian Rachel dan rela dijadikan kambing hitam atas kematian Harvey Dent. Akibatnya, Bruce, yang sekarang pincang salah satu kakinya, lebih sering mengurung diri dalam rumah megahnya dengan tetap ditemani Alfred. Adapun kerajaan bisnis Wayne Enterprises masih dipercayakan kepada Lucius Fox (Morgan Freeman). Pada saat yang sama, muncul Miranda Tate (Marion Cotillard) sebagai anggota badan direksi eksekutif Wayne Enterprises dengan program-program filantrofisnya.

Bruce tidak sendirian menyimpan rahasia perihal kematian Dent. Jim Gordon (Gary Oldman), Kepala Kepolisian Gotham, juga merasakan hal yang sama. “I believe in Harvey Dent,” ucap Jim lirih dalam adegan pembuka film. Ia sadar bahwa cepat atau lampat kebohongan pasti akan terbongkar, dan jika benar-benar terjadi, maka hawa adem-ayem Gotham akan buyar seketika. Tak heran jika polisi gaek ini masih mempercayai insting, bersikap waspada, dan tak terlalu percaya dengan kedamaian yang sekarang hadir di Gotham, meskipun rekan sejawatnya tak sependapat. Hanya John Blake (Joseph Gordon-Levitt), seorang polisi muda nan idealis, yang memiliki pandangan sama dengan Jim.

Memang, masih ada bara api sisa-sisa perang yang dapat kembali menyala dan membakar Gotham kapan saja. Delapan tahun silam, Batman tak perlu sampai membakar habis kota Gotham untuk meringkus Joker. Walaupun Joker sudah memojokkan warga Gotham ke sudut sempit yang tak menyodorkan pilihan lain, kita tahu bahwa ternyata mereka masih punya hati nurani untuk mampu membedakan mana yang baik dan jahat. Ketika pada akhirnya Dent yang lurus dan amat percaya hukum sukses dibelokkan ke arah yang sesat oleh Joker, kebohongan pun terpaksa dijadikan tameng untuk menjaga kepercayaan warga Gotham terhadap supremasi hukum dan sistem kontrol sosial yang ajeg.

Inilah poin yang digaristebalkan oleh Christopher Nolan lewat trilogi Batman. Dalam Batman Begins (2005), kepercayaan warga Gotham terhadap supremasi hukum serta sistem kontrol sosial yang ajeg itu dibangun ulang; lalu dilindungi dan dirawat dalam sekuelnya, The Dark Knight; dan sekarang dalam The Dark Knight Rises badai pun menggoyah dan mengujinya lewat kemunculan Bane (Tom Hardy), sosok misterius, kejam, agresif, serta fisik dan kemampuan tarung yang jauh lebih tangguh daripada Batman. Ditambah lagi dengan kehadiran Selina Kyle (Anne Hathaway), si Catwoman yang oportunis dan tak jelas berpihak ke mana.

Adalah Bane yang akhirnya nyaris membakar habis kota Gotham. Bukan Batman. Upaya bumi hangus ini bertujuan demi terwujudnya sebuah revolusi untuk menghancurkan struktur sosial  yang berdiri kukuh dan angkuh di Gotham. Bane ingin menghukum para borjuis kapitalis serakah yang dinilainya membusukkan kota ini secara diam-diam. Gotham pun porak-poranda; kondisi yang mengingatkan kembali kita kepada misi utama Henri Ducard/Ra’s al Ghul, pemimpin League of Shadows, musuh Batman dalam Batman Begins. Jika Joker adalah agent of chaos, maka Bane adalah serupa dengan agent of change dalam wujud yang sangat destruktif. Tindak-tanduk Bane mirip dengan apa yang dilakukan Robespierre dalam Revolusi Perancis.

Legenda?

Christopher dan Jonathan Nolan, adiknya yang juga menulis skenario, berhasil meleburkan tiga kisah, yakni Batman Begins, The Dark Knight dan The Dark Knight Rises menjadi sebuah kesatuan yang apik dan saling padu. Kepaduan ini dijahit oleh benang merah yang penting, yakni rasa percaya sebuah masyarakat terhadap supremasi hukum dan sistem kontrol sosial yang ajeg. Namun, ujung jahitan tersebut menjadi sedikit tidak rapi karena pilihan yang dipakai untuk menutup cerita film ketiga Batman ini.

Maksudnya begini (spoiler alert!). Sudah kentara bahwa trilogi Batman ini sedang mendefinisikan ulang makna dan peran superhero di mata masyarakatnya. Dalam konteks tersebut, topeng tak hanya untuk mengaburkan identitas dan menginspirasi kebajikan untuk masyarakat, tapi juga untuk melindungi orang-orang yang disayangi sekaligus bentuk pengorbanan yang terbesar dan paling menyakitkan, tatkala topeng itu justru menjadi buah simalakama. Puncak dari pengorbanan itu, seperti yang kita tahu, muncul dalam The Dark Knight. Pengorbanan itu yang kemudian dimaknai Alfred dengan berkata kepada Bruce, “I never wanted you to come back to Gotham. I always knew there was nothing here for you except  pain and tragedy.”Inilah perwujudan dari ide besar Nolan sepanjang kisah trilogi Batman.

Visi yang suram memang, tapi harus diakui hal tersebut realistis. Lagi pula, jika untuk mengatasi kekacauan dalam kehidupan masyarakat sampai harus membutuhkan superhero yang beraksi di luar pranata hukum, apalagi kemudian ia dijadikan panutan, sudah tentu ada baut yang kendur dalam sistem kontrol dan lembaga sosialnya. Karena itu, andaikan masyarakat tersebut sudah berhasil berdiri mandiri dalam koridor dan tatanan sosial yang normal, maka perjalanan sang superhero pun harus ditutup dengan ‘sempurna’. Sayangnya, The Dark Knight Rises tidak melakukannya.

Saya tidak menganut ataupun mengusulkan fatalisme di sini. Tapi, saya pikir akan lebih paripurna untuk menyimbolisasikan Batman sebagai inspirator kebajikan untuk masyarakat, apabila film pamungkas ini ditutup dengan bagaimana memang seharusnya manusia menutup hidupnya. Sehingga, jika gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama, dan Batman pun mati menjadi legenda. Persis seperti maksud ucapan Henri Ducard/Ra’s al Ghul yang memicu Bruce masuk League of Shadows dan kemudian menjadi Batman dalam Batman Begins, “If you make yourself more than just a man, if you devote yourself to an ideal, and if they can’t stop you, the you become something else entirely…legend, Mr. Wayne.” Alih-alih menjadi legenda, sejatinya akhir bahagia dalam film ini justru menempatkan Bruce kembali menjadi eksil akibat bukan hanya percaya bahwa Batman tak lagi dibutuhkan, tapi juga karena seakan-akan ingin melupakan Gotham.

Pengulangan

Terlepas dari soal pilihan akhir cerita tersebut, The Dark Knight Rises tetap mampu memberikan tontonan yang memikat. Penyebabnya bukan hanya terletak pada efek-efek visual yang eksplosif dan mencengangkan mata penonton, tapi Christopher dan Jonathan Nolan juga mengkonstruksi adegan-adegan yang menempatkan beberapa tokohnya dalam posisi yang serba salah. Di sini mereka harus memilih antara mengejar keinginannya (want) atau kebutuhannya (need). Lihatlah apa yang diperbuat John Blake dan Selina Kyle/Catwoman pada sekuens terakhir film. Khusus untuk Anne Hatheway, pujian memang pantas diterimanya, karena berakting seperti bunglon sembari menebarkan pesona femme fatale.

Selain guna menopang konstruksi adegan tadi, daya pikat film ini disebabkan pula karena teknik cross-cutting dan jump cuts dalam penyuntingan gambar yang dipakai oleh Lee Smith memegang peranan penting, contohnya pada sekuens terakhir film. Alhasil, terasalah ritme yang menjadi semakin cepat, sehingga membantu menciptakan ketegangan (suspense). Perlu diketahui bahwa Lee Smith adalah editor langganan Christopher Nolan. Lee juga yang menggarap Batman Begins, The Prestige, The Dark Knight, dan Inception.

Namun, sebenarnya pengadegan dan gaya editing dalam The Dark Knight Rises bukan sesuatu yang baru dalam film-film Christopher Nolan. Ia pernah menerapkannya secara ‘membabi buta’ dengan dampak yang lebih dahsyat dalam The Dark Knight dan Inception. Jadi, selain adanya pengulangan pola, bisa dibilang bahwa The Dark Knight Rises hanya mengukuhkan kemampuan diri Christopher Nolan dalam membangun intensitas ketegangan cerita lewat konstruksi shot dan adegan secara paralel. Terlebih lagi, ia lalu menyokong ciri unggulnya tersebut dengan visualisasi yang membuat mata penonton tak bisa lepas dari layar bioskop berkat memakai kamera IMAX.

Spesialisasi Christopher Nolan sebagai kreator penghancuran kota yang realis juga berusaha untuk dikukuhkan di film ini. Sejak Batman Begins dan The Dark Knight, ia sudah memahami bahwa membinasakan peradaban masyarakat sebuah kota tak bisa dengan jalur penghancuran kota secara masif dan fisik, seperti yang ditampilkan misalnya dalam The Avengers (Josh Whedon, 2012), tapi lebih ke persoalan sosiologis. Ia bertindak layaknya sosiolog yang mendedah perilaku umum sebuah masyarakat modern lewat rangkaian cerita yang penuh twist. Tentu kita masih ingat eksperimen-eksperimen sosial dari Joker yang menegangkan itu, yakni ketika para penumpang dua kapal ferry dipaksa untuk saling meledakkan satu sama lain. Perhatikan juga momen ketika Joker memaksa Batman mengungkapkan identitasnya, maupun ketika ia mengecoh Batman sehingga berujung kepada kematian Rachel.

Christopher Nolan lalu melanjutkan eksperimen sosialnya tersebut dengan berupaya menggoyahkan dan meremukkan struktur sosial pun sampai tulang-tulangnya dalam The Dark Knight Rises. Berhasilkah? Yang pasti, eksperimen lanjutan ini memang tak sampai menciptakan rasa campur aduk antara kaget, kecewa dan maklum, seperti saat kita menyaksikan jatuhnya Harvey Dent ke jurang gelap kejahatan. Namun hanya dapat membuat kita meringis saat melihat Bane mematahkan ruas tulang punggung Batman dalam duel yang ikonik dalam film ini, lalu kemudian ia berhasil kembali ke Gotham dan menjadi penyelamat. Sebuah formula klasik yang membuat eksperimen sosial di fillm ini pun malah jadi tampak sia-sia.

 

Artikel yang dimuat di situs Cinema Poetica pada 26 Juli 20120 ini adalah versi panjang dari yang dimuat di koran Pikiran Rakyat edisi Minggu, 22 Juli 2012, halaman 20.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s