Hugo dan Daya Magis Sinema

Ketulusan bisa terlihat dan terasa dari buah pikiran anak-anak. seperti halnya anak balita yang kerap bicara jujur apa adanya. Itulah sebabnya Martin Scorsese menaruh tokoh anak-anak, Hugo Cabret (Asa Butterfield), untuk menyampaikan apresiasinya terhadap film dan sinema. Sang maestro ini sadar bahwa isi hati, pikiran dan alam imajinasi anak-anak memiliki kualitas yang tak tertandingi untuk memantapkan esensi dari sinema: mimpi yang ditawarkan kepada khalayak.

Di sini Hugo memainkan peranannya. Sejak ayahnya (Jude Law) meninggal, ia lalu menggantikan kerja pamannya untuk merawat dan memperbaiki jam-jam di stasiun kereta di Paris. Stasiun yang riuh dengan segala kejadian sepele maupun penting dari para penyinggahnya diamati Hugo secara diam-diam. Ia bak projectionist yang bekerja tanpa terlihat di bioskop, tapi sebenarnya bisa mengintip perilaku para penonton meski dengan cahaya yang redup.

Peninggalan ayahnya yang paling disayangi Hugo cuma satu: sebuah robot yang rusak. Hugo berusaha keras memperbaikinya, karena ia percaya itu adalah pesan rahasia dari ayahnya. Tapi, proses itu terhambat karena buku kecil yang berisi catatan panduan untuk memperbaiki robot itu diambil oleh Georges Méliès (Ben Kingsley). Belum lagi ada gangguan dari Inspektur Gustav (Sacha Baron Cohen) yang giat menangkap anak-anak yatim piatu yang berkeliaran di stasiun.

Namun berkat bantuan Isabelle (Chloë Grace Moretz), anak angkat Méliès, Hugo bisa memperbaiki robot itu. Scorsese, yang paham mimpi seorang bocah hanya akan jadi sekadar mimpi jika tidak ada perbandingannya dengan pengalaman nyata milik orang dewasa, lantas mempertentangkan mimpi Hugo dengan cara pandang dan pengalaman pahit Méliès. Hasilnya, kesedihan dan rasa pesimis Méliès terhadap sinema berubah. Ia pun tidak lagi memegang teguh anggapan bahwa akhir bahagia hanya terjadi di dalam film. Sinema selalu berhak hidup bahagia.

Hugo yang diadaptasi dari novel grafis The Invention of Hugo Cabret karya Brian Selznick ini adalah wujud rasa cinta yang paling tulus dari Scorsese kepada sinema. Apa yang dipersembahkannya lewat Hugo seolah menegaskan bahwa kodrat manusia untuk harus selalu mengingat dan dibebani oleh rasa sentimental. Untuk itu, ia meracik resep mujarab yang terdiri dari bumbu-bumbu penting: catatan sejarah dan pengalaman personalnya tentang sinema serta, tentu saja, imajinasi.

Maka Scorsese pun menampilkan berbagai self-reference dan cuplikan adegan dari film-film yang memiliki nilai sejarah penting di dunia untuk mendukung naratif Hugo. Mulai dari Workers Leaving the Lumière Factory (Lumière Brothers, 1895), Fairyland: A Kingdom of Fairies (Georges Méliès, 1903), The Eclipse: Courtship of the Sun and Moon (Georges Méliès, 1907), Safety Last! (Fred C. Newmeyer & Sam Taylor, 1923), Arrival of a Train at La Ciotat (Lumière Brothers, 1896), dan tentu saja yang paling simbolis A Trip To The Moon (Georges Méliès, 1902). Dari sini juga kentara Scorsese ingin bicara soal preservasi film. Ia memang punya kepedulian mendalam terhadap restorasi film-film dunia, bahkan ia sampai mendirikan The Film Foundation, organisasi nirlaba untuk preservasi film.

Jangan lupakan pula fakta bahwa Hugo disyut dengan teknologi digital 3D.Hal ini bukan cuma ingin memperlihatkan bahwa sinema akan terus berubah dan beranjak maju, tapi juga menjadi bukti berkelanjutan tentang Scorsese yang tak pernah berhenti memperbarui perspektif bagi sinema kontemporer. Berkat teknologi tersebut, tampilan berbagai karakter dalam Hugo di layar bioskop lebih menonjol dan memberikan kedalaman dimensi, sekalipun visual latar belakangnya statis.

Melalui Hugo, kita seperti diajak menyelami isi hati terdalam Scorsese tentang film dan sinema—dunia mimpi yang dulu pertama kali diciptakan oleh Lumière bersaudara dan juga Georges Méliès. Sejarah lahirnya sinema memang mencatat peran penting Méliès yang berhasil menemukan dan mengembangkan teknik-teknik efek special dalam pembuatan film. Méliès mengajak kita untuk bermimpi bersamanya lewat film. Mimpi yang pada akhirnya telah menghidupkan terus imajinasi Scorsese, para pembuat film, dan pecinta film. Ucapan Méliès “If you’ve ever wondered where your dreams come from, you look around. This is where they’re made” pun jadi makin penuh arti.

Martin Scorsese, terima kasih sudah membuat film ini.

 

Artikel ini dimuat di Pikiran Rakyat edisi 11 Maret 2012.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s