Chronicle: Ketika Kamera Membatasi Cerita

Taruhlah peristiwa  dalam film Chronicle ini benar-benar terjadi: tiga remaja perlahan menyadari bahwa mereka memiliki kekuatan super setelah menyentuh dan menatap bongkahan kristal misterius. Lalu, apa yang akan terjadi kemudian? Bagi para penonton yang kadung cinta pada kisah semacam Spider-Man, imajinasinya akan membayangkan ketiga remaja tersebut menjadi superhero. Namun ketiga remaja dalam Chronicle tidak seperti Peter Parker yang dianggap culun dan tak ambil pusing meski kerap di-bully oleh teman sekolahnya. Alih-alih, karakter ketiga remaja dalam film debut penyutradaraan Josh Trank ini saling bertolak belakang.

Andrew Detmer (Dane DeHaan) adalah remaja yang paling introvert dan penuh masalah. Teman-teman di sekolah kerap menyakitinya. Nasib Andrew di rumah pun setali tiga uang. Ibunya sekarat karena kanker, sedangkan sang ayah yang seorang alkoholik kerap memukulinya. Maka (mungkin) sebagai pelampiasan, ia mulai merekam rutinitas kehidupannya dengan kamera video. Inilah kamera utama—karena ada kamera lainnya, seperti milik Casey (Ashley Hinshaw), atau kamera milik wartawan dan kamera CCTV—yang nantinya menjadi mata untuk melihat berbagai peristiwa yang terjadi.

Teman setia Andrew cuma satu, Matt (Alex Russell), yang juga merupakan sepupunya. Berbeda dengan Andrew yang muram, Matt lebih terbuka dan optimis. Dia berupaya membuat sepupunya lebih gaul dengan mengajak datang ke pesta. Namun pesta bukanlah taman bermain bagi remaja pendiam seperti Andrew. Yang ada dia malah dipukuli karena kamera videonya dianggap mengganggu. Salah satu siswa populer di sekolahnya, Steve (Michael B. Jordan), lalu menghampirinya. Andrew diminta Steve merekam penemuan Steve dan Matt, yakni sebuah lubang di tengah hutan dekat lokasi pesta. Dibantu lampu kamera Andrew, tanpa pikir panjang ketiga remaja ini masuk ke dalam lubang dan menulusurinya. Lalu, bertemulah mereka dengan bongkahan kristal misterius itu.

Sejak saat itu, mereka jadi akrab dan mampu menggerakkan benda lewat pikirannya. Kemampuan telekinesis namanya. Kekuatannya ibarat otot, yang jika semakin dilatih, maka semakin kuat. Awalnya mereka hanya bisa menggerakkan mainan LEGO, lalu boneka, memarkirkan mobil, sampai akhirnya menerbangkan tubuh mereka sendiri. Mereka keasyikan bermain-main dengan kemampuan ajaib itu. Hingga terjadilah insiden yang membuat mereka tersadar bahwa kekuatan itu harus ada batasannya: kontrol diri.

Masalahnya adalah kontrol diri seperti apa yang bisa diharapkan dari ketiga tokoh remaja ini. Apalagi, mereka punya sifat diri dan masalah yang berbeda-beda. Misalnya, Andrew yang memendam dendam karena sering dianiaya. Maka tak usah heran ketika Andrew berubah menjadi yang paling beringas dan hilang kontrol akibat tak mampu menahan amarahnya. Dengan segera, semacam pemakluman hadir bahwa Andrew berlaku bak monster karena kekerasan yang dialaminya bertubi-tubi di sekolah maupun di rumahnya. Pemakluman ini bisa terbentuk karena pendekatan kamera yang dipakai di sini, yakni found footage (kumpulan rekaman video dari berbagai kamera), yang di sisi lain sebetulnya membuat cara tutur Chronicle terasa menyegarkan.

Namun repotnya, dengan metode found footage ini, maka realita tersaji begitu adanya. Tak perlulah kita tahu dari mana datangnya bongkahan kristal misterius itu. Sebab, apa yang terekam kamera, itu pulalah yang cuma bisa kita dapatkan dan penafsiran terhadapnya pun berlangsung bebas. Sebebas Andrew, Matt dan Steve terbang menembus gumpalan awan, lalu mematahkan hukum fisika saat mereka asyik bermain lempar-tangkap bola di atas sana tanpa diganggu oleh angin yang kencang. Sedangkan efeknya terhadap perkembangan karakter, kita melihat perubahan sikap dan murkanya Andrew terpampang tanpa ada ruang untuk mengeksplorasi problem dirinya lebih dalam lagi. Pemakluman terhadap perilaku buruk Andrew itupun tercipta.

Di sini found footage menjadi halangan yang akhirnya malah membuat Chronicle tak mampu beranjak lebih jauh dari tipikal film-film Hollywood tentang dunia remaja. Kenakalan, keisengan, bullying, emosi yang meledak-ledak, popularitas di sekolah, pikiran pendek, jaga gengsi, dan polah sebagainya yang biasa kita temui dalam film remaja terpapar di sini. Tapi, lagi-lagi semua itu yang tampak hanyalah permukaannya saja. Karena memang cuma itu yang tersorot kamera. Maka wajarlah ketika Matt memutuskan untuk mencari tahu apa yang membuat mereka mampu memiliki kekuatan telekinesis itu, ia pergi tanpa membawa kamera.

 

Artikel ini pertama kali dimuat di Cinema Poetica pada 15 Februari 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s