Why do we hurt the most, The ones we love the most?

“Kenapa tak tidur lagi sayang? Dekat subuh nih.”

“You tidur lah. I tengok you sangat nyenyak saat tidur… semacam you sudah mati…. I kepikiran sayang, kalau you mati, I merana…”

“Itulah, I lebih suka you mati dulu.”

“Hah!?”

“Biar I yang merana, jangan you yang merana.”

– Kutipan dialog antara Pak Atan dengan Mak Inom dalam film Gubra (Yasmin Ahmad, 2006)

 

Saya sepakat dengan perkataan seorang kawan, “Film yang bisa buat kita nangis dan film yang bagus itu dua hal yang berbeda.” Kawan saya berkata seperti itu karena ia menangis gara-gara sebuah adegan dalam film Pengejar Angin (Hestu Saputra, 2011).

Izinkan saya untuk memukul rata bahwa semua orang pasti pernah menangis ketika menonton sebuah film. Ya, paling tidak, merasa terenyuh. Saya tidak percaya ada manusia yang punya hati sekeras batu. Sebab, batu saja bisa bolong atau mencekung pada permukaannya jika terus-menerus ditimpa tetesan air di titik yang sama, bukan?

Pertanyaannya: film seperti apakah yang bisa membuat air mata tumpah? Tentu saja jawaban berikut kriterianya akan berbeda-beda di setiap orang. Yang pasti, tak semua film yang diniatkan untuk tearjerker berhasil menjalankan tugasnya.

Pada hari, yang oleh banyak orang, dinilai penuh limpahan kasih sayang ini, saya terpikir menyusun daftar film-film tersedih. Tapi sedih yang bukan bermakna muram, pesimis dan membuat siapapun yang menonton jadi meratap. Sedih di sini lebih dipengaruhi oleh kekuatan cerita, dialog ataupun pengadegan dalam film-film tersebut yang menusuk hati, sehingga justru membuat saya (semoga juga kita) tersadar bahwa kasih sayang dari dalam diri ini akan selalu belum maksimal tercurahkan kepada orang-orang yang patut mendapatkannya.

Tentu daftar ini versi saya, yang jelas subjektif. Penyusunan daftar ini pun sengaja tak saya peringkati. Jadi, apa kriteria pemilihannya? Sebetulnya ini untuk senang-senang dan iseng saja sih. Tapi, baiklah, dasarnya adalah lebih karena faktor manakah film yang paling menancap di hati saya hingga sekarang. Boleh dibilang, ‘after taste’ film-film inilah yang paling mengendap, menggumpal dalam hati saya, sehingga otomatis terus saya ingat. Dengan begitu, berarti ada film-film sedih yang saya tak terlalu ingat, dan jumlahnya sepertinya cukup banyak. Namun, semoga film-film pilihan saya sekarang ini mewakili segenap perasaan saya. Seperti yang pernah diucap Umberto Eco, mengutip cuplikan tulisan pengantar Hikmat Darmawan untuk Daftar 33 Film Indonesia Terpenting 2000-2009 pilihan Rumah Film: “Kita membuat daftar, karena kita tak mau mati,” kata filsuf dan novelis itu. Daftar, menurut Eco, adalah salah satu kegiatan kebudayaan manusia yang paling mula.

Maka, ini film-film tersedih pilihan saya:

 

ELIana,eliANA

(Riri Riza, 2002)

Sang ibu, Bunda, memaksa anak perempuannya yang dewasa untuk kembali pulang ke tanah kelahirannya di Padang. Tapi Eliana, si anak, menolak dan bersikukuh menetap di Jakarta. Keduanya keras kepala. Sejak malam hingga pagi hari keesokan harinya, mereka bersitegang sembari merajut kembali hubungan emosi yang sudah meregang selama bertahun-tahun. Ini persoalan pembuktian diri, dan karenanya tak ada benar atau salah. Yang dibutuhkan di sini adalah kesadaran dan rasa percaya pada orang yang kita sayangi. Itulah sebabnya Bunda yang keras, kuat dan tegar itu tiba-tiba menangis di depan kaca rias dalam toilet umum yang kumuh. Dan waktu itu, hampir 10 tahun yang lalu, saya menonton film ini di bioskop berdua saja bersama ibu saya.

 

Sepet

(Yasmin Ahmad, 2004)

Baca sinopsisnya, segera kita akan melabeli kisah romansa cinta film ini dengan sebutan tipikal atau malah cheesy. Tapi begitu menontonnya, kita akan terhanyut. Semua kisah cinta memang tak patut disebut cheesy. Ini masalah hati, Bung! Dan jika sudah melibatkan hati, perkara cinta yang ruwet akan jauh dari kata tuntas. Sepet mirip aliran sungai yang tenang di permukaan, tapi sebenarnya berarus kencang di kedalamannya. Beginilah Yasmin Ahmad menggambarkan Malaysia, seperti kata kritikus film Hassan Abdul Muthalib, yang multiras, multikultural, dan multireligius lewat kisah cinta yang tulus tapi berakhir tragis. Tak usah malu jika Anda menangis saat melihat adegan long take di dalam mobil di penghujung film ini.

 

E.T.: The Extra-Terrestrial

(Steven Spielberg, 1982)

Saya lupa tepatnya, tapi yang jelas saya menonton film ini pertama kali saat masih duduk di bangku SD. Persahabatan antara bocah manusia dengan alien lucu peneliti tanaman sangat memikat saya. Ucapan “E.T. phone home” dari si E.T. dan adegan perpisahan di tengah hutan membuat saya yang masih bocah tersedu-sedan. Pada tahun 2001, saya menonton lagi film ini, dan mata saya terasa menghangat.

 

Sang Penari

(Ifa Isfansyah, 2011)

Saya penggemar berat novel Ronggeng Dukuh Paruk karangan Ahmad Tohari. Film adaptasinya pun saya nantikan sejak lama. Sebenarnya, saya punya semacam kode etik untuk tidak membanding-bandingkan novel dengan film hasil  adaptasinya. Saya ingin bebas dari bayang-bayang isi novel ketika menonton filmnya. Tapi pada kasus Sang Penari saya takluk tak berdaya sejak detik pertama. Adegan pertamanya langsung mengoyak hati dan bagi saya berhasil menerjemahkan intisari novelnya. Belum lagi adegan hubungan seks pertama kali Srintil dengan Rasus (meski sayangnya dipotong sensor) yang juga bikin sesak dada. Film yang pilu tapi indah.

 

The Thin Red Line

(Terrence Malick, 1998)

Inilah film perang yang puitis, dipenuhi doa-doa yang lirih, dan sarat senandika. Dengan cara tutur seperti itu, Malick mengajak untuk menyelami batin para tentara dari kedua belah pihak yang berseteru. Hasilnya, kita pun ikut merasakan bagaimana perang membuat nurani manusia hancur lebur dan, misalnya, hati tentara yang juga seorang suami terkhianati. Kepasrahan juga terasa kental dalam film ini. Berbarengan dengan dentuman bom dan rentetan tembakan yang mengenai para tentara itu, hati saya terasa pedih.

 

Finding Nemo

(Andrew Stanton & Lee Unkrich, 2003)

Gara-gara menonton film ini pada tahun 2003, efeknya saya suka merasa kasihan kalau melihat ikan di akuarium. Selanjutnya saya mengoleksi VCD dan DVD film Pixar ini. Sudah puluhan kali saya tonton film ini. Sampai akhirnya, pada akhir tahun 2010, kebetulan saya menonton Finding Nemo yang sedang ditayangkan di salah satu televisi swasta. Dan, ajaibnya, bola mata saya beberapa kali menghangat selama menonton. Apa sebabnya? Maret 2010, anak saya lahir, dan inilah faktor yang membuat Finding Nemo mampu bicara lebih dalam kepada saya. Ada konektivitas rasa sebagai seorang ayah. Sekarang, Ladya, anak saya yang sebentar lagi berusia dua tahun juga suka sekali dengan film ini. Dia kerap menirukan suara Nemo saat bilang ke gurunya bahwa ia tinggal di, “An-nem-men-nem-mon-ee.. A men-nem-men-nem-o-nee.” Oh ya, Ladya juga suka film Pixar yang lain: Up.

 

The Champ

(Franco Zeffirelli, 1979)

Kisah film drama hasil remake dari film tahun 1931 arahan King Vidor yang berjudul sama ini seikat rasa dengan dengan Rocky (John G. Avildsen, 1976), misalnya. Namun, The Champ benar-benar berhasil menjalankan tugasnya sebagai tearjerker. Tentang mantan juara tinju Billy Flynn (Jon Voight) yang kembali ke ring tinju demi menghidupi anaknya, T.J. Flynn (Ricky Schroder). Ya, ini drama keluarga yang ujung kisahnya membuat mata sembab, terutama saat T.J. berusaha membangunkan ayahnya, “Champ, wake up, Champ! Hey, don’t sleep now. We got to go home. Got to go home, Champ.” Bahkan, Smithsonian Magazine menjuluki The Champ sebagai “The Saddest Movie in the World”. Siapkan tisu, ini cuplikan adegan sedih itu: http://www.youtube.com/watch?v=SU7NGJw0kR8

 

Kramer vs Kramer

(Robert Benton, 1979)

Proses pencarian jati diri tak akan pernah berhenti, sekalipun kehidupan sudah tampak mendekati sempurna. Joanna sedang mengalami proses itu. Akibatnya, Ted Kramer, suaminya yang gila kerja dan tak becus mengurus anak, mendadak mulai harus rutin membangunkan anaknya Billy, menyiapkannya sarapan, mengantarkannya ke sekolah, menemani jalan-jalan, menenangkan ketika Billy menangis karena rindu pada ibunya. Lama-lama, mereka pun semakin akrab dan jadi sulit dipisahkan saat datang tahapan hidup itu: perebutan hak asuh.

 

A Separation

(Asghar Farhadi, 2011)

Film Iran ini membuat saya berpikir, barangkali ini sebabnya mengapa dalam Islam perceraian bukanlah hal yang haram, tapi begitu dibenci oleh-Nya, karena tak ada cinta yang sempurna. Film ini menyadarkan kembali sekaligus bikin kita merasakan bahwa mencintai itu harus berkompromi dan selalu ada pengorbanan. Namun apabila gagal, masih ada jalan perpisahan. Tapi perpisahan bukan berarti mengucap selamat tinggal kepada perasaan sayang dan orang kita yang cintai. Itulah yang diinfus ke kita oleh A Separation. Sehingga, seperti yang pernah saya bilang sebelumnya, film ini tak sampai tega membuat kita berpihak dan menangisi salah satu tokohnya. Hati kita memang ikut merasa pedih karena perceraian dalam film ini, tapi kita tak kuasa untuk sampai membencinya.

 

Warrior

(Gavin O’Connor, 2011)

Drama yang baik mensyaratkan adanya masalah pada setiap tokohnya. Warrior memenuhi persyaratan itu. Semua tokoh dalam film drama keluarga ini memendam masalah. Mereka lalu ditubrukkan oleh satu hal: kesalahan di masa lalu. Ayah yang menyesali diri karena gagal menjaga keluarganya. Kakak yang berusaha melindungi keluarga sembari berusaha meminta maaf kepada adiknya. Adik yang tak bisa memaafkan ayah dan kakaknya karena dianggap menyebabkan sang ibu meninggal. Di atas arena ring mixed martial arts, ayah-kakak-adik ini lalu menyelesaikan masalahnya. Setelah saling hajar, babak-belur, kakak-beradik bertubuh kekar itu menangis di atas ring, dan akhirnya mereka memaafkan. Jujur, nggak menyangka, saya ternyata menangis di adegan terakhirnya. Ini cuplikannya: http://www.youtube.com/watch?v=ltRf2WYsPf4&feature=related

Ya, itulah daftarnya. Pemicu  saya menulis ini adalah karena semalam menonton lagi Gubra (Yasmin Ahmad, 2006) yang ber-tagline: “Why do we hurt the most, The ones we love the most?” Kebetulan juga hari ini Valentine. Saya tidak merayakan Valentine kok, cuma memanfaatkan momentum. Haram? Yang pasti, cinta tidak haram, apalagi menyebarkannya. Karena itu, untuk mengenang hari ini, berikut lirik lagu “About Today” dari The National (lagu ini bisa didengar dari tautan cuplikan adegan Warrior yang saya taruh di atas).

 

About Today

by The National

 

Today you were far away
and I didn’t ask you why
What could I say
I was far away
You just walked away
and I just watched you
What could I say

How close am I to losing you

Tonight you just close your eyes
and I just watch you
slip away

How close am I to losing you

Hey, are you awake
Yeah I’m right here
Well can I ask you about today

How close am I to losing you
How close am I to losing

Advertisements

4 thoughts on “Why do we hurt the most, The ones we love the most?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s