A Separation: Ke Mana Kebenaran itu Berpihak?

Jalan untuk menguak sebuah kebenaran kadang berliku serta membutuhkan kejujuran dan kerelaan untuk  mengungkap rahasia. Inilah sentral permasalahan dalam A Separation. Sejak awal sampai akhir film, sutradara-penulis skenario Asghar Farhadi berulang kali menyodorkan laku-laku maupun kejadian yang akan menggoyah keyakinan para penonton tentang esensi kebenaran. Lebih spesifiknya lagi adalah soal siapa yang benar atau salah dan siapa yang menyembunyikan rahasia. Kita, para penonton, dibikin terombang-ambing dan bahkan tak sampai tega untuk berpihak pada salah satu tokohnya sekalipun. Kenapa?

A Separation dibuka oleh adegan long-take berdurasi sekitar empat menit yang memperlihatkan sidang cerai pasangan suami-istri Simin (Leila Hatami) dan Nader (Peyman Moaadi). Dari adegan yang penuh emosi tersebut, premis film langsung tertera dan menjanjikan konflik antar karakter yang mendalam. Kita pun segera tahu suami-istri ini sejatinya masih saling cinta. Perbedaan prinsiplah yang membuat mereka ragu untuk melanjutkan pernikahan mereka yang sudah berusia 14 tahun.

Simin mendesak Nader untuk pergi dari Iran sebelum visa yang sudah susah payah mereka dapatkan terbuang percuma. Ia bersikeras hijrah dari Iran, karena merasa negerinya (dengan begitu termasuk pemerintahnya) tak menjanjikan masa depan yang baik bagi anak perempuan semata wayang mereka, Termeh (Sarina Farhadi), yang masih berusia 11 tahun. Namun Nader menolak pergi karena tak mau meninggalkan ayahnya (Ali-Asghar Shahbazi) yang renta dan mengidap Alzheimer. Ia memilih bercerai dan mempersilakan istrinya pergi sendirian. Masalahnya, Termeh harus tetap tinggal di Iran karena usianya yang belia membuat Nader berkuasa atas hak walinya. Jelas, Simin tak merelakan begitu saja.

Di plot lain, tak dinyana masalah yang lebih kompleks hadir. Akibat Simin yang sementara harus hidup pisah rumah, Nader memperkerjakan Razieh (Sareh Bayat), seorang perempuan yang sedang hamil empat bulan, untuk menjaga dan mengurus ayahnya. Namun baru beberapa hari bekerja, terjadilah ‘insiden’ di siang bolong itu: ayah Nader nyaris tewas karena keteledoran Razieh. Kemarahan Nader meluap. Ia hilang kontrol, lalu mengusir paksa Razieh dari apartemennya sembari menuduhnya telah mencuri uang. Razieh merasa terhina dan tak terima. Mereka pun saling dorong. Dan akibatnya, Razieh terpeleset dari tangga apartemen. Beberapa hari berikutnya, ia keguguran.

Konflik makin berkembang. Dua keluarga lalu berseteru. Houjat (Shahab Hosseini), suami Razieh, melaporkan Nader ke polisi atas tuduhan pembunuhan. Houjat sendiri gampang bersikap temperamental semenjak dipecat dari pekerjaannya dan banyak hutang di mana-mana. Di sini tercium hawa frustasi dari masyarakat kelas bawah yang akhirnya meruap jadi amarah, dan masyarakat kelas menengah atas pun menjadi sasaran tembaknya. Beginilah dinamika sosial yang sebenarnya terjadi di masyarakat negara manapun, tak hanya di Iran.

Perseteruan dua keluarga ini pun seketika menyerempet isu pertentangan antar kelas dalam masyarakat, bahkan mempertajam perbedaan pandangan atas tingkat relijiusitas di antara kedua belah pihak. Perlahan, keteguhan para tokohnya dalam memegang erat prinsip-prinsip hidupnya diuji. Lalu kita melihat kebenaran yang ditutup-tutupi itu pun terungkap, meskipun tetap ada salah satu tokohnya yang akhirnya ‘terpaksa’ untuk berbohong. Tapi, justru di titik itulah A Separation meneriakkan suaranya: ketika kita tidak yakin siapa sebenarnya yang berlaku benar, lalu kepada siapakah kebenaran itu seharusnya berpihak?

Dalam film kelimanya ini, Farhadi terbukti adalah penjahit yang jago. Ia menjalin berbagai peristiwa, segala lapisan konflik, dan karakter-karakter para tokohnya dengan mulus. Struktur dan dramatika dalam skenario yang ditulis Farhadi pun tersulam rapi. Sehingga, pengisahan terasa begitu mengalir dan terpadu baik dengan letupan-letupan emosi yang dialami para tokohnya. Apiknya kombinasi ini mampu membuat kita tak menyadari bahwa skenario yang dikriya Farhadi ini sebetulnya begitu terstruktur. Alhasil, semuanya terasa organik. Bukan cuma itu, ia juga tak melupakan untuk menanam pondasi motif dalam karakter tokoh-tokohnya. Inilah yang bikin kita tak tega untuk memihak pada salah satu tokohnya.

Catatan lain yang penting adalah bahwa meskipun mayoritas latar film ini berada di dalam ruangan, tapi kamera selalu bergoyah pelan. Sekalipun memang kamera tak sampai berjalan ke sana ke mari di dalam ruangan mengikuti gerak para tokohnya. Ketika mereka duduk diam, misalnya di dalam mobil atau ruang pengadilan, sorot kamera bimbang, seperti ikut merasakan ketidaktenangan jiwa dan emosi yang dialami para tokohnya.

Lewat kisah drama keluarga ini, tampak Farhadi ingin menyuguhkan berbagai pandangannya terkait masalah krusial dalam kehidupan masyarakat Iran. Ia mengkritik halus pemerintahnya, menunjukkan potensi konflik antar kelas di dalam masyarakat Iran, amarah-amarah terpendam dalam masyarakat, kecemburuan sosial berikut prasangka-prasangkanya, persoalan gender, sampai tingkat relijiusitas masyarakat. Di sini, A Separation berhasil mengubah konflik yang awalnya internal menjadi personal (hubungan keluarga), lalu ekstra-personal (lingkungan fisik, antar individu dalam masyarakat, dan institusi sosial). Namun juga Farhadi urun solusi melalui tokoh Nader yang sebenarnya berusaha mengajarkan kepada puterinya supaya tidak mudah takluk pada kondisi yang buruk.

Farhadi sendiri adalah bagian dari generasi “New Iranian Cinema” yang mencoba meneruskan tradisi sinema realis melalui A Separation. Di sisi lain, film ini juga memuat karakteristik khas sinema Iran yang dibentuk oleh sejarah dan kultur bangsanya, terutama pengaruh puisi Sufi dan Persia yang mengakar kuat dalam cara bercakap masyarakat Iran sejak lama. Ciri dari kultur bercerita Sufi dalam sinema Iran, seperti yang juga muncul dalam film-film karya Majid Majidi dan Abbas Kiarostami, yaitu naratifnya yang sederhana, tapi menyiratkan kritik.

A Separation yang menjadi kandidat kuat Film Asing Terbaik dalam Academy Awards mendatang ini jelas memuat ciri-ciri tersebut. Dan, apabila nanti film ini berhasil mendapatkan Oscar, sulit untuk menampik bahwa Hollywood sebenarnya juga sedang ikut mengkritik Iran.

Artikel ini dimuat di Harian Pikiran Rakyat edisi 29 Januari 2012. Ini versi yang belum di-edit.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s