Cerita dari Tahun Lalu

Baru (benar-benar) sadar, ternyata belakangan ini isi blog saya terkesan serius. Isinya melulu soal film. Tak ada lagi tuh tulisan ‘curhat’. Meski sebenarnya, kalau diperhatikan lagi, saya cukup sering menyempilkan kalimat-kalimat bernada ‘curhat’ dalam artikel-artikel film. Entahlah, mungkin saya tidak sadar saat melakukan ‘kamuflase’ itu. Mungkin juga sadar.

Karena itu, sekarang sengaja saya mau curhat. Soal apa saja yang melintas di kepala saya, dan pastinya acak sekali. Mungkin tak akan ada benang merahnya. Mungkin ada. Yah, nanti saja lah dianalisanya.

 

Monyet

Ada drama di hari Kamis minggu lalu. Pagi itu, saya naik bus TransJakarta dari Ragunan. Penuh, tak dapat tempat duduk. Sepanjang jalan, entah kenapa, saya tiba-tiba ingat perempuan yang dulu jadi ‘cinta monyet’ saya sewaktu SMP. Apa kabarnya dia? Setahu saya, dia sudah punya anak. Itu pun saya tahu dari akun Facebook (atau Friendster ya, lupa) adiknya bertahun-tahun yang lalu. Beuh, bahkan saya sampai bisa menemukan siapa adiknya dari social media. Ya, ya, saya memang gemar ‘riset’ kalau sedang iseng. Dan, kebiasaan itu masih bertahan sampai sekarang. Maksudnya kebiasaan ‘riset’ lho ya. :p

 

TransJakarta

Asyik sedang mengingat-ingat pada pagi itu, ternyata bus TransJakarta sudah sampai di daerah Kuningan. Gara-gara ada ada salah satu  bus yang mogok di lajur, bus yang saya tumpangi keluar dari lajur. Ketika ada celah untuk masuk ke lajur lagi, bus saya pun masuk dan hendak mundur untuk menurunkan beberapa penumpang di halte yang terlewat. Dug! Para penumpang di bagian belakang teriak-teriak. Rupanya ada pengendara motor yang tertabrak pantat bus. Dari suaranya, posisi motor yang ditabrak sepertinya sudah ada di bawah bus. Satgas panik. Ia segera turun dari bus. Belasan penumpang juga turun ikut memeriksa. Tapi si supir bus tetap duduk dalam bus. Pengendara motor lain yang kesal melihat kejadian itu meneriaki dan memaki supir karena tak mau turun dari bus.

 

Eksis

Di dalam bus, seorang ibu mukanya ketakutan, sepertinya ia khawatir pada kondisi si pengendara motor yang ditabrak. Karena makin banyak penumpang yang turun, saya ikutan turun melihat keadaaan. Ternyata pengendara yang ditabrak dua orang perempuan. Kakinya sepertinya keseleo atau luka. Motornya penyok di bagian depan. Saya melihat sekeliling. Ada satu orang penumpang laki-laki sibuk memotret dengan ponselnya. Huh, pasti akan dia twitpic, pikir saya. (Jadi ingat Rio Dewanto di Arisan! 2 haha). Satu penumpang laki-laki lain mengeluarkan kamera SLR dari tasnya. Dia juga sibuk memotret. Dia pasti fotografer atau mungkin wartawan foto, pikir saya. Saya melongok ke dalam bus TransJakarta, ada perempuan yang masih duduk sendirian di bagian depan. Dia menangis tersedu-sedu. Dia pasti sedang patah hati, pikir saya.

 

Taksi

Masih hari yang sama. Sore, hujan deras mengguyur Jakarta. Langit hitam. Angin kencang. Jendela ruangan kantor saya sampai goyang-goyang. Di luar, rupanya banyak pohon tumbang. Gawat, pasti macet parah. Padahal saya harus sampai di bandara sebelum pukul 7 malam. Saya pesan taksi sejak pukul 3 sore, tapi sampai pukul 5 tak kunjung datang. Saya pilih jalan kaki hujan-hujanan untuk cari taksi dari jalan utama. Di tengah jalan melihat pohon beringin tua dan besar tumbang, tercerabut sampai akar-akarnya. Menyetop taksi bakal sulit nih, pikir saya saat itu. Benar. Taksi jarang yang kosong, bahkan harus pula rebutan dengan calon penumpang lain. Dan ya, akhirnya saya dapat taksi, hasil rebutan dengan seorang perempuan. Maaf ya, mbak. :p

 

Macet

Jakarta itu gampang sakit. Hujan sedikit, macet. Badai datang, pohon-pohon tumbang, lalu ibukota seakan lumpuh. Mungkin Jakarta harus lumpuh dulu supaya penghuninya menyadari soal pentingnya berbagi hak di jalanan. Ibarat kata, Jakarta adalah manusia yang tiba-tiba mengalami kelumpuhan dan harus belajar jalan lagi dengan susah payah. Makin banyak mobil pribadi, makin banyak pengemudi yang pemarah, makin padat jalanan, kecepatan makin tersendat, waktu makin cepat pergi. Makin lama, kota ini makin tak bersahabat, terutama bagi para pejalan kaki seperti saya. Sudah sering muncul ide untuk cari kerja di kota lain. Tapi urung terlaksana karena, ya, ternyata penghidupan dan isi hati masih betah tinggal di Jakarta. Cuma pikiran saja yang mulai tak betah.

 

Pejalan Kaki

Oh ya, saya memang pejalan kaki. Bahkan, sewaktu SMA, saya pernah jadi panitia LLD (Lomba Lintas Desa) yang katanya jadi ‘tradisi’ sekolah. Bentuk lomba itu adalah jalan kaki untuk jarak yang jauh. Sebagai panitia, saat itu saya harus ikut jalan kaki dari Citayam di Bogor ke Pasar Minggu dengan rute yang memutar-mutar dan masuk ke pemukiman penduduk dan tentunya kuburan. Total jaraknya 48 kilometer. Start pukul 9 malam di hari Sabtu, sampai di garis finish sekitar pukul 7 pagi di hari Minggu. Cuma diselingi beberapa kali istirahat. Entah ‘tradisi’ itu masih berlangsung atau tidak di SMA saya.

Kembali ke kebiasaan jalan kaki. Terutama kalau sedang mumet, jalan kaki di malam hari memang jadi terasa lebih asyik, tentu dengan mengikhlaskan adanya segala rintangan, mulai dari trotoar yang jadi tempat parkir dan jualan pedagang kaki lima, atau yang paling brengsek adalah pengendara motor yang melewati trotoar demi menghindari macet. Saya sih tak pernah marah kalau sedang santai jalan di trotoar tiba-tiba diganggu pengendara motor yang ingin lewat. Kalau kena kondisi begitu, dalam hati, saya selalu berharap si pengendara motor itu kena batunya nanti, semisal terjatuh dari motor.

 

Virgo

Zodiak saya virgo. Tapi sebetulnya saya tak terlalu percaya pada apa yang dikatakan zodiak. Baca zodiak cuma untuk tertawa-tawa saja. Apa yang diprediksi zodiak sering terjadi memang, tapi itu semua sudah telat. Entah karena saya telat baca ramalan zodiak itu atau memang kejadiannya yang tak mau didahului ramalan zodiak. Tapi yang pasti, SBY itu berzodiak virgo. Nah lho, apa hubungannya? Tak ada sih, cuma saya sebal saja dengan kepemimpinan dia. Di keluarga besar saya, cuma saya yang tidak memilih dia dalam dua pemilu yang lalu. Dan, kalau memang mau berpatokan pada zodiak, setahu saya, orang virgo itu tak suka curhat di depan umum secara terang-terangan. SBY tampaknya virgo yang ingin selalu eksis.

 

Mimpi

Yang lucu, pada tahun lalu, saya sering diminta teman-teman untuk menafsirkan mimpi malam hari mereka. Tak tahulah bagaimana awal mulanya sampai banyak yang tanya soal tafsir mimpi ke saya. Punya buku-buku tentang tafsir mimpi saja tidak. Meski saya punya ebook The Interpretation of Dreams dari Sigmund Freud, tapi itu pun belum saya baca sampai habis. Njelimet soalnya hehe. Sumber saya ketika ada teman yang bertanya tafsir mimpi mereka cuma dua: Google dan timeline Twitter mereka. Upaya menafsir saya berkat mengkombinasikan dan menghubungkan antara apa yang saya dapat dari om Google dengan status-status mereka. Untungnya, orang-orang yang bertanya tafsir mimpi termasuk aktif di social media dan termasuk saya kenal dekat. Sejauh ini sih tak ada complain dengan penafsiran saya, walau suka ada ngaco-ngaco sedikit haha.

Lantas, siapa yang mau dan bisa menafsir mimpi saya? Tak perlu sih, sebab seperti zodiak, saya tak terlalu percaya mimpi saat tidur itu punya makna. Bagi saya, pada akhirnya mimpi itu hanya hasil serapan dari apa yang kita alami dan rasakan dalam keseharian kita. Mimpi itu hanya untuk senang-senang saja. Bersyukur masih bisa tersenyum saat bangun dari tidur gara-gara mimpi. Seperti mimpi saya terakhir, dinner bersama Carey Mulligan. Sudah pasti ini after taste dari nonton Drive. :p

 

Pernikahan

Malas sebenarnya membahas tema ini. Silakan baca saja artikel “Marriage is a Work in Progress” di http://huff.to/AlA4j2 ini. Atau, yang ingin bahasannya lebih Islami, saya punya satu edisi Majalah Alif (Alhamdulillah It’s Friday) yang mengulik segala hal tentang pernikahan. Bagus isinya. Kalau ada yang mau mengkopi, silakan kontak saya. Omong-omong, Majalah Alif masih terbit nggak sih?

 

Hurts Like Heaven

Saya suka sekali lagu Coldplay ini. Ada baris liriknya yang tajam menusuk, yakni Oh you, use your heart as a weapon. And it hurts like heaven.” Susah dijelaskan lewat kata-kata. Yah, feeling memang bermain di sini. 🙂

 

Passion

Hmm, bagian ini agak serius. Jadi, 2011 adalah tahun yang berkesan buat saya. Bagi sebagian orang, perjalanan hidup memang harus memutar lewat rute yang terkadang asing. Saya merasakan itu. Mulanya pada medio tahun 2010, selama dua bulan saya ikut workshop penulisan skenario film panjang yang dimentori salah satu penulis skenario ternama. Nekat juga saat itu. Karena sebenarnya sejak kuliah saya lebih suka menulis artikel tentang film dan sedikit-sedikit belajar tentang kritik film, bukan skenario. Tapi saya pikir, saya harus tahu lebih dalam soal film, paling tidak memahami salah satu departemen dalam pembuatan film. Untuk itu, penulisan skenario jadi pintu masuk yang bagus. Dari situ banyak yang saya pelajari, baik dalam workshop itu maupun dari referensi buku-buku tentang film yang saya baca. Tapi mungkin karena niat dan hati ini lebih condong ke kritik film, sampai sekarang belum ada satu pun skenario yang jadi, semuanya mentok di treatment. Malahan, sejak akhir 2010, saya jadi penulis lepas untuk resensi film di salah satu koran besar di Jawa Barat.

Pada Maret 2011 muncul semacam kejutan. Saya mendaftar mengikuti Klinik Kritik Film yang diadakan Film Indonesia / FI (www.filmindonesia.or.id). Dan, kemudian saya terpilih jadi salah satu pasien bersama empat orang lainnya. Cukup melegakan sebenarnya bisa terpilih, karena sudah sejak lama saya memang ingin belajar kritik film dari tiga kritikus film yang juga jadi mentor klinik kritik film itu: JB Kristanto, Eric Sasono dan Lisabona Rahman. Selama ini saya hanya belajar lewat tulisan-tulisan mereka. Jelas, banyak pelajaran baru yang saya dapatkan. Sebelumnya saya hanya meraba-raba apakah itu tentang sebenarnya ‘kritik film’ dan bagaimana wujud idealnya. Makanya, saya senang ketika artikel saya yang mengulas film ? (Hanung Bramantyo) bolak-balik disunting oleh mba Lisa. Tiga kali saya merevisi artikel itu. “Oo begini toh rasanya diedit sama redaktur film beneran,” pikir saya waktu itu. Wah, jadi ingat, saya masih utang 3 artikel untuk Film Indonesia. 😀

Saya juga ingat, pada tahun 2006 saat baru lulus kuliah, saya mengirimkan email berisi contoh tulisan saya yang mengulas sebuah film kepada mas Eric dan saya juga bilang ke dia bahwa saya ingin belajar soal kritik film. Dalam email balasannya, mas Eric bilang, “Wah bersemangat sekali ya tulisan kamu. Mau belajar kritik film? Ayo.” Hehe, tulisan yang saya kirim waktu itu memang jelek sekali. Sekarang pun masih kayaknya. Saya memang tak mau cepat merasa puas.

Sampai detik ini, setahu saya (koreksi jika keliru) belum ada pemberian materi soal kritik film dalam institusi pendidikan kita. Berkat ikut klinik kritik film ini saya menyadari bahwa belum banyak pula orang-orang yang tertarik mempelajari kritik film secara serius. Semoga klinik ini diadakan lagi. Saya sudah putuskan untuk serius menekuni bidang ini. Kalau ada waktu sekaligus mau memahami lebih banyak alasan saya menekuni kritik film, silakan kunjungi tulisan lama saya ini http://bit.ly/msfdVz ya.

 

Teman

Oh ya, saya juga bersyukur mendapat teman-teman baru, baik secara langsung atau tidak berkat klinik itu. Teman-teman yang penuh semangat, sarat kerisauan (juga kegalauan), dan memberi banyak inspirasi. Halo, Makbul Mubarak, Adrian Jonathan, Gayatri Nadya, Doni Agustan, mba Lintang Gitomartoyo, Sekar, dan Yuki Aditya.

Di akhir tahun lalu, ada kejutan lagi. Saya diajak masuk ikut Wahana Penulis (WP), yang mengkhususkan diri dalam pengembangan skenario serial televisi. Sampai sekarang saya masih dalam tahap training sebelum terjun ke project—yang katanya sudah menanti. Kebetulan, saya kenal penulis-penulis yang ada di dalam WP, dan saya percaya pada integritas serta kapabilitas mereka. Mereka tak akan mengembangkan skenario yang seperti sinetron kebanyakan. Serial Laskar Pelangi yang beberapa waktu lalu tayang di televisi adalah hasil garapan WP. Dua serial lagi akan segera tayang. Semoga apa yang dilakukan WP dapat mengubah industri televisi. Dari sisi saya pribadi, saya sadar apa yang akan saya bikin di WP kelak berbenturan dengan proses di bidang kritik film. Jujur, saya belum tahu apa yang akan saya putuskan jika benturan ini terjadi. Toh, saya belum membuat karya di WP. Jadi, saya jalani dulu saja proses ini.

Ada efek yang tak terhindarkan akibat saya sudah menemukan apa yang saya incar ini. Biasanya ini terjadi saat berkumpul dengan teman-teman kuliah. Misalnya, saya tak tertarik untuk terlibat aktif dalam obrolan dengan beberapa teman-teman  yang kadangkala membahas peluang karier, seperti di industri migas. Saya lebih banyak mendengar, mencerap omongan mereka untuk referensi apabila nanti dibutuhkan. Sebatas itu. Selebihnya, saya ingin bernostalgia dan silaturahmi saja bersama mereka. Ngobrol ngalor-ngidul, mengisi ulang batere supaya jiwa muda dan daya semangat tak lekas pergi.

 

Yah begitulah. Segini dulu ya. Banyak juga ternyata curhatnya.

Advertisements

2 thoughts on “Cerita dari Tahun Lalu

  1. kak, lagi nyari ebook The Interpretation of Dreams dari Sigmund Freud nih. bisa bagi ke saya kah? 😀 kalau bisa tolong kirim ke email saya ya kak : @nissaphire13@gmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s