10 Film Indonesia yang Paling Memikat Saya pada Tahun 2011

Banyak yang saya alami pada tahun 2011. Mulai dari lingkungan kerja yang baru, berkenalan dengan para teman-teman baru dan penulis-penulis senior yang memiliki semangat dan kepedulian yang sama dalam hal kritik film di Indonesia, sampai akhirnya saya memutuskan serius untuk menekuni penulisan kritik film. Tradisi dan bidang kritik film sendiri memang belum mengemuka dan mengakar di negeri ini. Masih banyak bolong-bolongnya. Cuma segelintir saja yang benar-benar serius menekuni bidang ini.

Mendiang Alexis A. Tioseco, kritikus film asal Filipina, pernah bilang “The first impulse of any good film critic, and to this I think you would agree, must be of love.” Itulah modal dasar menekuni kritik film. Tapi cinta saja tentu tidak cukup. Harus ada kemauan untuk belajar. Beberapa teman saya sedang giat mencari kesempatan belajar. Bahkan, satu orang sudah berhasil dapat beasiswa studi film ke Korea Selatan. Tujuannya cuma satu: menguatkan tradisi kritik film di negeri ini.

Terdengar idealis memang. Tapi saya percaya, ini penting. Seperti yang diucapkan Alexis lagi, “The more films I saw, specifically local independent films, the more I wanted to see. The deeper I got, the more responsibility I felt, the stronger the need to do something, to share that which I found beautiful.”

Paling tidak, semangat itulah yang mendasari saya menulis daftar 10 Film Indonesia  yang Paling Memikat Saya pada Tahun 2011  ini. Kebetulan saya cukup banyak menonton film Indonesia pada tahun lalu, jadi saya berani bikin daftar ini. Lagipula patokannya bukan ‘yang terbaik’, tapi ‘memikat saya’. Tentu ada beberapa film yang terlewat ditonton, seperti Mata Tertutup-nya Garin Nugroho.

Berikut 10 film yang memikat itu, yang sudah saya urutkan sesuai derajat keterpikatan saya:

 

10. ? (Tanda Tanya) 

Dari film ini, kita tahu persoalan pluralisme masih menjadi kepedulian sutradara Hanung Bramantyo. Tidak tanggung-tanggung, dia menghadirkan cerita tentang seorang muslim yang berpindah agama. Ia berhasil mengolah cerita jadi dramatis, yang memang menjadi keahliannya. Hanung juga berani memunculkan adegan-adegan yang berpotensi memicu kontroversi di kalangan penonton. Sayangnya, film ini malah turut takluk pada ancaman konflik dari sentimen antar agama dan etnis yang dipersoalkan sepanjang film. Ending film ? (Tanda Tanya) juga malah mengacaukan sendiri gagasan ‘keragaman sebagai pemersatu’, dan meruntuhkan upaya pembuat film untuk merepresentasikan masyarakat berikut pemaknaannya tentang keragaman di Indonesia. Walau begitu, konsistensi Hanung tentang masalah pluralisme dan kepercayaannya pada medium film untuk membuat ruang dialog di dalam masyarakat patut diapresiasi.

 

9. Shelter

Satu laki-laki dan satu perempuan duduk saling menempel di barisan bangku belakang bus kota reot yang melaju pelan di malam hari. Dari depan bus, sorot kamera bergerak perlahan ke belakang dan menangkap gerakan tokoh pria yang meraba-raba tubuh si perempuan. Tapi si perempuan melengoskan wajah, tak mau melihat si pria. Tanpa putus selama nyaris 15 menit, kamera bergoyang dan bergerak semakin dekat ke kedua tokoh, menangkap apa yang terjadi di belakang bus itu secara intim sampai si perempuan turun dari bus. Melalui long take yang cukup puitis ini, sutradara Ismail Basbeth mengajak kita untuk berkontemplasi serta merasakan pengalaman menonton yang intensif. Hasil dari sodoran gaya ‘slow cinema’ seperti ini, kita merasakan apa yang dirasakan oleh tokoh laki-laki ketika si perempuan tiba-tiba turun dari bus.

 

8. Tanya Jawab

Lapisan makna dalam film pendek ini tak tunggal, jika ditonton tidak dengan satu sudut pandang. Selain itu, apabila kita bertujuan untuk mencari kejutan dalam cerita, film pendek buatan Jason Iskandar ini tak menawarkan hal tersebut. Kisahnya tentang seorang anak laki-laki yang sedang belajar karena akan ada ulangan pada keesokan harinya. Ia lalu meminta bantuan kepada pembantu di rumahnya untuk mengetes hapalan pelajarannya. Namun si pembantunya tampak ogah-ogahan, karena sedang menonton televisi. Si anak lalu kembali menghapal di kamar, si pembantu tetap menonton televisi. Di sini lapisan-lapisan makna itu muncul. Shot-shot statis yang dipakai Jason mampu menghadirkan kebosanan dan kemalasan yang menghinggapi kedua tokohnya kepada kita. Bahkan hawa gerah ruangan dalam setting film itu terasa berkat shot kipas angin dan bunyi putarannya. Dan, tanya jawab itu pun berlangsung pendek karena dimakan rutinitas yang minus kehadiran peran orangtua.

 

7. Metamorfoblus

Slank adalah subkultur. Film dokumenter ini sukses menangkap dan mendedahkan bagaimana subkultur itu dialami dan diperjuangkan para anggotanya, yakni Slankers. Bagi seorang reserse di Batam, anak muda dan ayahnya di Yogyakarta, dan sekelompok Slankers di Kupang dan Timor Leste, interaksi mereka dengan lagu-lagu Slank dan kehidupan serta gaya hidup personilnya tak lagi bermakna simbolis, tapi juga membentuk identitas dan menjadi kebiasaan hidup. Film dokumenter arahan Dossy Umar menampilkan semua itu di layar secara akrab. Maka tak usah heran apabila kita yang menonton dokumenter ini ikut merasakan rasa haru ketika si reserse menangis saat konser, sang ayah dari Slankers berhasil mengucapkan terima kasih  kepada Bunda dan Slank karena kesembuhan anaknya dari ketergantungan narkoba, dan bagaimana senangnya para Slanker mendapatkan paspor pertama demi menonton Slank.

 

6. Lima Menit Lagi.. Ah.. Ah.. Ah

Ini adalah segmen pertama dari antologi film dokumenter Working Girls yang disutradarai oleh Sammaria Simanjuntak dan Sally Anom Sari. Kisahnya tentang Ayu Riana, mantan pemenang kontes dangdut di salah satu televisi swasta nasional, yang masih mereguk sisa-sisa ‘kejayaannya’. Berkat kemenangannya, Ayu, gadis yang sedang beranjak remaja itu, harus menghidupi keluarganya. Ia memang masih menjadi primadona di wilayah pinggiran kota. Di sini tampak bahwa popularitas yang ditawarkan industri televisi bukanlah ilusi, baik bagi Ayu, orangtuanya, maupun masyarakat sekitar. Film dokumenter ini nyaris terkesan hambar dan minus kejutan, jika saja tak hadir sosok ayah angkat Ayu. Awalnya tampak tak ada masalah dengan kehadiran ayah angkat ini, sampai akhirnya di menjelang ujung film, kamera pembuat film diam-diam berhasil menangkap tatapan mata si ayah angkat ke arah Ayu. Tatapan maskulin yang menempatkan Ayu sebagai objek fantasi voyeuristik, seperti yang diungkap teori Laura Mulvey.

 

5. The Raid

Premis ceritanya sendiri sudah menjamin kita akan duduk terpaku menonton film aksi ini. Satu pasukan elit polisi menyerbu gedung apartemen yang dihuni oleh penjahat-penjahat berbahaya demi menangkap sang gembong. Yang kemudian malah tersaji di layar adalah para polisi itu dihabisi oleh para penjahat. Ada yang dibunuh dengan golok, muntahan peluru dari senjata api otomatis, bahkan kapak. Pujian harus diberikan kepada koreografer Yayan Ruhiyan dan Iko Uwais (keduanya juga berakting dalam film ini) yang mengkreasikan adegan perkelahian secara meyakinkan dan brutal. Secara jeli, sutradara Gareth Evans sukses merangkai ketegangan demi ketegangan tanpa menyisakan sejeda pun bagi penonton untuk duduk tenang barang sejenak. Kita juga menyaksikan akting Ray Sahetapy sebagai Tama sang gembong yang bengis dan kejam tanpa ampun (perhatikan adegan Tama membunuhi lima penjahat di awal cerita), sehingga mampu menutupi kedodorannya skenario film ini.

 

4. Rumah Babi

Seorang pembuat film dokumenter harus mewawancarai lagi sebuah keluarga yang menjadi subjek filmnya. Dari awal, sang tokoh sudah terlihat enggan, tapi ia tetap kembali ke rumah sepi itu. Petang itu, wawancara yang baru berjalan sebentar kemudian malah dilanjutkan oleh teror terhadap si tokoh. Jadilah horor yang mampu mengemas dan mengeksplorasi materi cerita dan tradisi lokal dengan baik. Kita merasakan ramuan Alim Sudio yang terdiri dari paradoks kesenangan pada rasa takut, hasrat penasaran atas tragedi, dan wujud arwah balas dendam dalam film ini. Salah satu film pendek dari omnibus FISFiC Vol. 1 ini membangkitkan memori kolektif kita soal kasus kekerasan terhadap masyarakat etnis Cina dan memuat kritik terhadap praktik jurnalisme.

 

3. Bermula Dari A

Bagi dua tokoh di film pendek ini, mengucap kata yang berawalan huruf ‘A’ itu bukan hanya masalah yang kodrati, tapi juga demi menunjukkan optimisme. Dari kata yang bermula dari huruf ‘A’ itu pula, hubungan asmara kedua tokohnya akan dianggap serius dan tulus. Tapi mengucap kata berawalan huruf ‘A’ itu tidak gampang. Yang pria tak mampu mendengar, sedangkan yang perempuan tak mampu melihat. Meski begitu, keduanya tak patah semangat. Sutradara BW Purbanegara dengan telaten membangun shot-shot yang membuat kita sabar menantikan kata pamungkas itu keluar dari mulut si tokoh pria. Dan, kita pun dibuat terenyuh di ujung cerita. Menonton film ini, saya teringat mendiang Yasmin Ahmad yang pernah bilang, “Saya membuat film karena ingin lebih memahami Tuhan.” Bermula Dari A punya semangat yang sama dengan ucapan Yasmin tersebut.

 

2. Lovely Man

Malam-malam di Jakarta seperti kolase rasa kehidupan. Ada bahagia, romantis, getir, sedih, kejam, tapi yang pasti semuanya mempunyai hulu dan bermuara pada satu rasa: cinta. Hubungan ayah dan anak perempuan dalam film ini mencakup keseluruhan rasa-rasa tersebut. Si anak perempuan tak berpaling ketika akhirnya bertemu dengan ayahnya. Begitu pun sebaliknya. Emosi yang dipancarkan Raihaanun saat mengungkapkan alasannya datang ke Jakarta dan menemui ayahnya (Donny Damara) mampu membuat hati kita mengkerut, karena terkaget dan terharu. Duet akting yang harus diacungi jempol. Lupakan film-film Teddy Soeriaatmadja sebelumnya. Saya pikir, Teddy mampu menghasilkan film sebaik ini bukan karena keberuntungan, tapi karena ia membuat dengan cinta yang penuh di hatinya, entah disadari atau tidak olehnya.

 

1. Sang Penari

Adegan yang membuka dan mengakhiri film ini sangat mengikat, tapi dengan sajian dan kedalaman impresi yang berbeda-beda. Jika yang mengawalinya adalah keintiman yang sesak, lembab, ngeri dan langsung mengusik hati nurani, maka yang mengakhiri film ini adalah hawa dan suara kebebasan yang masih membebani korbannya: Srintil. Seperti yang dirasakan dan ditunjukkan Srintil di akhir film tersebut, kita yang menonton Sang Penari pun ikut merasakan bahwa masih kepahitan yang tersisa dari masa lalu. Film arahan Ifa Isfansyah ini dengan berani menghadirkan cuil-cuil sejarah gelap negeri kita dari sudut pandang masyarakat yang lugu. Semua itu dikombinasikan dengan kompleksitas hubungan cinta dari manusia-manusia di dalamnya.

Advertisements

2 thoughts on “10 Film Indonesia yang Paling Memikat Saya pada Tahun 2011

  1. Itu si “Tanya Jawab” gak ngerti deh film apaan hahahahahahahahahahaha..
    Seperti biasa, tulisan lu selalu memikat gw :DDD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s