Eksplorasi Horor dalam FISFiC Vol. 1

FISFiC Vol. 1 seperti ingin meneropong masa depan genre film horor di Indonesia. Bagaimana hasilnya? Enam film pendek yang menjanjikan dan penuh dobrakan, paling tidak di Indonesia. FISFiC (Fantastic Indonesian Short Film Competition) yang dibuat oleh Sheila Timothy (produser), Joko Anwar (penulis skenario-sutradara), Ekky Imanjaya (kritikus film), Rusli Eddy (Direktur Indonesia International Fantastic Film Festival atau INAFFF), Gareth Evans (sutradara), serta Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel alias The Mo-Brothers (sutradara) sendiri merupakan kompetisi film pendek bergenre horor, thrillerscience-fiction, dan fantasi.

Omnibus ini menegaskan bahwa pembuat film kita masih bersemangat untuk mengeksplorasi cerita dan tutur visual dalam film horor di Indonesia. Soal turunnya mutu film horor Indonesia dalam dua tahun terakhir, boleh dibilang kemalasan pembuat film dalam bereksplorasi lah yang menjadi biang keladinya. Kita bisa melihat dan merasakan kondisi muram tersebut begitu menonton film-film horor, seperti Pocong Mandi Goyang Pinggul, Suster Keramas 1 & 2, Hantu Tanah Kusir, Arwah Goyang Karawang, Kuntilanak Kesurupan, atau Ada Apa dengan Pocong.FISFiC Vol. 1 lalu hadir seraya menawarkan ide-ide cerita dan gaya tutur visual yang berbeda, meskipun tidak tergolong baru dalam khazanah film horor dunia.

Secara berturut-turut dan dengan cara yang menyegarkan: Meal Time, Rengasdengklok, Reckoning, Rumah Babi, Effect, dan Taksi mengenalkan kembali fitrah film horor, yakni kesenangan pada rasa takut. Inilah paradoks dan ambiguitas yang terkandung dalam film horor. Seperti yang diungkap Noel Caroll, dalam The Philosophy of Horror, Or, Paradoxes of the Heart(1990), bahwa para penonton film horor sebenarnya tidak mendapatkan kesenangan dari cerita fiksi horor, tapi dari struktur plot yang kemudian berkembang dalam proses penyikapan dan penegasan.

Kepuasan inilah yang dialami oleh penonton film horor. Rahasia yang tersimpan di balik kejadian-kejadian yang tak masuk akal selalu berhasil mengusik rasa penasaran kita, bukan? Paradoks kesenangan pada rasa takut ini pun diakui oleh David Hume dalam esai Of Tragedy. Menurut Hume, kesenangan yang bersumber dari atau atas tragedi timbul dari naiknya hasrat terpendam ke permukaan. Dalam film horor, muncratan darah dari tokoh yang tewas dan apa yang menjadi penyebab kematiannya selalu memuaskan hasrat rasa penasaran kita. Inilah yang ditampilkan secara gamblang oleh enam film pendek dalam FISFiC Vol. 1.

Meal Time karya Ian Salim berhasil membangun tensi tegang dan hawa menakutkan sejak awal. Rasa penasaran penonton pun terpuaskan di akhir cerita, meskipun pembuat film tak menyuguhi motif jelas apa yang membuat ‘si pembunuh’ memilih korban-korbannya di rumah tahanan tersebut. Begitu pula dengan Effect arahan sutradara Adriano Rudiman. Rasa penasaran penonton tentang apakah Eva (Tabitha) berhasil mencelakakan bosnya, Lenny (Sita Nursanti), pun tertunaikan. Lenny tewas melalui rentetan kejadian berpola sebab-akibat yang rumit. Di sini, Adriano berhasil membuat pengadegan yang penuh ketegangan dengan penuh perhitungan.

Namun Caroll juga mengatakan bahwa kisah horor merupakan variasi khusus dari motivasi umum narasi, karena bertumpu pada sesuatu yang dari fitrahnya gaib, tidak ada. Sesuatu yang gaib inilah yang pada akhirnya menghasilkan perbedaan respon emosi terhadap kisah horor di setiap film pendek FISFiC Vol. 1. Dengan berpatokan utama pada hal yang gaib tersebut, Reckoning menjadi film paling lemah di omnibus ini. Kisahnya sebenarnya soal pesugihan. Namun Zavero G. Idris menampilkan kesan mistis pesugihan lewat sosok dukun perempuan bule yang penuh dengan atribut asing dan berucap dengan bahasa Inggris. Film ini pun menjadi berjarak. Hal yang gaib pun tak terasa.

Rengasdengklok karya Dion Widhi Putra pun nyaris terperosok ke kualitas yang buruk. Hal-hal teknis dalam film ini memang jauh di bawah lima film pendek lainnya, apalagi akting para pemainnya. Namun nilai lebih Rengasdengklok adalah keberhasilan dan keberaniannya dalam membelokkan sejarah revolusi negeri ini. Imajinasi yang patut diacungi jempol.

Omnibus FISFiC Vol. 1 ini jelas didominasi oleh cerita Horror of the Demonic. Inilah jenis film horor yang kerap kita jumpai di dunia, di mana umumnya menyajikan kondisi tentang manusia atau dunianya sedang didera ketakutan, baik secara massal maupun personal. Penyebabnya adalah kejahatan atau kekuatan iblis yang mengancam kehidupan. Penampakan kekuatan itu dapat berwujud sosok yang gaib maupun dekat dengan arwah, semisal hantu, penyihir jahat, dan setan. Taksi karya Arianjie AZ dan Nadia Yuliani pun tergolong dalam jenis film horor ini. Melalui visualisasi yang matang dan penuturan cerita yang dipenuhi twist (kelokan) di dalamnya, kita dibikin kaget dengan perubahan tokoh utama perempuan (Shareefa Daanish) menjelang akhir cerita.

Namun secara keseluruhan, Rumah Babi arahan Alim Sudio menjadi karya yang paling kuat. Alim mampu meramu antara paradoks kesenangan pada rasa takut, hasrat penasaran atas tragedi, dan wujud arwah balas dendam lewat kisah seorang pembuat film dokumenter yang diteror oleh pihak yang seharusnya menjadi subjek dokumenternya. Tak hanya itu, Rumah Babi juga membangkitkan kembali memori kolektif kita soal kasus kekerasan terhadap etnis Cina.

Dari enam film pendek di FISFiC Vol. 1 ini, tampaklah bukti bahwa mutu film horor Indonesia tidak bisa dibilang buruk. Proyek FISFiC pun menjadi penting bagi perkembangan masa depan film horor Indonesia.

Artikel ini dimuat di Harian Pikiran Rakyat edisi 4 Januari 2012. Yang dimuat di sini versi lengkapnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s