Drive: Perangai Si Kalajengking Misterius

Suatu siang di sirkuit balap kecil di Los Angeles, Bernie Rose (Albert Brooks) menyodorkan telapak tangannya untuk bersalaman dengan si pengemudi yang membalap untuk tim balap miliknya. Si pengemudi, yang diperankan Ryan Gosling, menyambutnya dengan dingin sejenak, tak langsung mau bersalaman. “My hands are a little dirty,” si pengemudi beralasan.“So are mine,” balas Bernie, sambil tersenyum. Si pengemudi langsung menyalami bosnya.

Dalam adegan di menjelang seperempat pertama dari durasi Drive tersebut, yang sebelumnya didahului oleh pengenalan awal karakter dan latar cerita, dialog pendek antara si pengemudi (namanya tak disebutkan sepanjang film) dan Bernie itu segera menjadi simbolik. Inilah pertemuan pertama antara dua pelaku kriminal beda kelas (diperkuat dengan Bernie yang berdiri di posisi lebih tinggi daripada si pengemudi); yang satu kelas kakap, sedangkan yang satu lagi kelas teri. Keduanya tak saling tahu bahwa sesungguhnya mereka sama-sama hidup dari kriminalitas.

Dunia Kriminal Itu
Si pengemudi bukanlah pelaku kriminal murni. Pekerjaan hariannya sebagai montir di bengkel milik Shannon (Bryan Cranston), sambil sesekali melakoni peran sebagai stunt driver di adegan-adegan berbahaya dalam produksi film. Barulah terkadang pada malam hari, si pengemudi menerima tawaran bekerja untuk menjadi supir bagi gerombolan perampok.

Lewat adegan pembuka Drive yang dibuat apik oleh sutradara Nicolas Winding Refn, langsung terpampang karakter si pengemudi yang tak banyak omong, penuh perhitungan, hobi mengulum tusuk gigi, hidup berpindah-pindah, tak mau membawa senjata api, dan tentunya jago mengemudi. Shannon, yang tahu betul kepiawaian si pengemudi di balik setir, lalu mendirikan tim balap dengan meminta dana dari Bernie, salah satu bos mobster di kota. Rekam jejak Shannon pun tak bersih. Selain memberi pekerjaan kepada si pengemudi untuk menjadi supir dalam perampokan, Shannon pernah menipu orang. Kaki kirinya yang pincang merupakan balasan dari korbannya: Nino (Ron Perlman), mobster berdarah Yahudi sekaligus rekan Bernie.

Skenario yang diadaptasi oleh Hossein Amini dari novel berjudul sama karangan James Sallis ini memang tak menyediakan lingkup masyarakat yang beragam bagi interaksi para tokoh dalam Drive. Kehidupan orang-orang di sekitar si pengemudi tak jauh dari dunia kriminal. Irene (Carey Mulligan) dan anak laki-lakinya Benicio (Kaden Leos) nyaris menjadi pengecualian. Ibu-anak ini adalah tetangga si pengemudi yang tinggal berdua saja karena Standard (Oscar Isaac), suami Irene, sedang dipenjara.

Berkat bahasa tubuh Gosling dan Mulligan lah salah satu pesona Drive kentara. Tanpa banyak bicara, kontak fisik, ataupun verbalisme yang penuh afeksi, melainkan hanya lewat tatapan mata antara si pengemudi dan Irene, terasa bahwa mereka sedang saling jatuh hati. Benicio adalah pemicu munculnya perasaan ini. Wajah polos-imut bocah ini cepat memikat si pengemudi dan mengakrabkan mereka. Tak ayal, Irene yang merasakan keakraban ini kepincut. Ibu muda ini sadar telah kehilangan sosok suami-ayah, dan akting Gosling mampu melengkapi kekosongan di dalam keluarga kecil tersebut. Walaupun begitu, si pengemudi dan Irene sama-sama menyadari hubungan (cinta platonis?) ini tak punya masa depan.

Benar saja. Standard kemudian keluar dari penjara, dan ia berniat untuk hidup bersih. Sebentar saja harmoni itu tampak di layar, sebelum akhirnya direnggut oleh Cook (James Biberi) yang memaksanya untuk merampok kantor pegadaian. Ia mengancam akan menyakiti Irene dan Benicio jika Standard menolak pekerjaan itu. Si pengemudi lalu membantu Standard melakukan perampokan itu demi melindungi Benicio dan Irene. Namun kali ini si pengemudi salah perhitungan. Mereka dijebak. Tanpa diketahui Bernie, Nino ternyata berada di balik rencana perampokan itu. Ia punya motif lain.

Ketika adu kekuatan itu dimulai, yang memaksa Bernie turut membereskan keruwetan ini, kita pun melihat aktor komedi Albert Brooks tampil mengerikan. Di balik nada ucapan-ucapannya yang tenang, Bernie menyimpan sifat kejam yang hanya dikeluarkannya ketika ia butuhkan. Persis seperti koleksi pisaunya yang ia simpan rapi, bersih dan mengkilap, tapi bisa menjadi senjata mematikan bagi lawan-lawannya.

Kekerasan  dan Paradoksnya
Seperti yang pernah didedahkan pula dalam Fargo (Joel Coen, 1996) dan A History of Violence (David Cronenberg, 2005), Refn menyuguhkan moda tindakan kriminal yang tersangkut erat dengan operasi hubungan sebab-akibat—yang kadangkala berlaku acak. Moda ini terkait dengan berlakunya motif bahwa tak semua tindak kriminal bermula dari niat yang (benar-benar) jahat. Malah terkadang ini persoalan tentang berada di tempat dan waktu yang salah. Tapi film ini bukan mengenai kesialan. Bukan sial namanya jika si pengemudi akhirnya harus menjadi target bunuh komplotan mobster. Sebab sejak awal, secara sadar si pengemudi sudah berkecimpung dalam dunia kriminal. Ia memahami dan terikat dengan dunia hitam itu. Tak heran ia berani membantu Standard.

Pertarungan antar dua pelaku kriminal beda kelas inilah yang membuat Drive memancarkan thriller-nya secara menanjak, pelan, lalu stabil di ujung cerita, dengan diselingi beberapa letupan yang mengagetkan. Thriller, seperti kata Carlos Clarens dalam Crime Movies (1997), memang jantung dari definisi film tentang kejahatan (crime film). Namun thriller yang disajikan Refn tidak dibangun oleh kekerasan yang brutal dan banal. Sutradara asal Denmark ini juga ingin bergaya lewat estetisasi kekerasan (aestheticization of violence) dengan menggunakan berbagai elemen, antara lain sinematografi yang mengambil ciri film noir, seperti tingkat pencahayaan yang rendah (low key lighting); editing yang dramatis dengan memanfaatkan slow motion; dan imbuhan musik.

Sebagai crime film, melalui naratifnya Drive berhasil menawarkan kepada penonton sebuah paradoks tentang kegembiraan melihat kematian dan cinta dalam rentang waktu yang bersamaan. Menonton Drive, sadar maupun tidak, sikap kita terhadap kejahatan mengalami ambivalensi. Paradoks ini terbangun lebih disebabkan karena stok karakternya yang nyaris steril dari keberadaan sosok penegak hukum. Padahal, pada umumnya, crime film selalu menghadirkan tiga sosok utama yang berkontribusi penting untuk mengalirkan cerita: pelaku kriminal, korban, dan penegak hukum yang bertugas menciptakan tatanan sosial yang stabil.

Namun Drive tidak memberikan ruang bagi penegak hukum untuk berperan signifikan, malah boleh dibilang mereka tidak ada. Posisi dan peranan ketiga sosok  tersebut justru saling melebur atau salah satunya menjadi lebih dominan dalam film ini. Meleburnya posisi dan peranan ketiga sosok utama ini menegaskan apa yang dikemukakan oleh Thomas Leitch bahwa film tentang kejahatan (crime film) selalu bicara soal gangguan atau kerusakan terus-menerus pembentukan kembali batasan-batasan yang ada di antara para pelaku kriminal, korban, dan penegak hukum atau crime solver.

Keberadaan dan ketergantungan antar peran-peran tersebut berhasil mendramatisasi kisah Drive sembari menghindari pembentukan tipologi sifat yang klise. Kita melihat ada pelaku kriminal murni (Bernie, Nino, Cook), korban (Irene dan Benicio), korban sekaligus pelaku kriminal (Standard), atau pelaku kriminal yang sekaligus korban dan kemudian mengambil peran crime solver (si pengemudi).

Fabel Si Kalajengking dan Si Katak
Banyak kalangan film akademisi yang meyakini bahwa setiap kejahatan dalam film tentang kejahatan merepresentasikan kritik terhadap tatanan lembaga sosial dalam masyarakat. Namun tanpa ketidakhadiran sosok penegak hukum yang mewakili kebutuhan masyarakat kebanyakan yang mengidamkan keamanan, konflik yang dialami si pengemudi pun menjadi hanya sebatas personal. Di sini tampak Drive tidak memiliki tendensi untuk mengkritik tatanan sosial yang ada.

Dalam kondisi tersebut, terutama lewat karakter si pengemudi, Drive hanya ingin bertutur soal yang kodrati bahwa perangai dasar manusia tidak banyak berubah. Itu sebabnya Refn menjaga kemisteriusan si pengemudi yang seolah datang dari tempat antah-berantah. Apabila Refn tergoda untuk membongkar sedikit saja identitas dan latar belakang si pengemudi, akan terbentuk celah untuk membantah perihal perangai dasar manusia yang akan tidak banyak berubah. Sebab identitas ataupun latar belakang akan membuat kita memahami apa yang mendasari tindakan-tindakan si pengemudi. Terlebih lagi dalam teori penceritaan, latar belakang menjadi pijakan untuk mengubah perilaku dan karakter tokoh.

Itu pula sebabnya si pengemudi yang selalu memakai jaket bergambar kalajengking warna emas pada bagian punggungnya ini menenggelamkan Nino di pantai. “Your friend Nino didn’t make it accros the river,” katanya kepada Bernie.

Si pengemudi adalah jelmaan kalajengking dari fabel Si Kalajengking dan Si Katak (The Scorpion and The Frog) yang mengisahkan tentang si kalajengking yang ingin menyeberangi sungai dengan meminta bantuan katak. Kalajengking bilang tak akan menyengat katak, karena bisa membuat keduanya malah tenggelam. Katak percaya, tapi kalajengking ternyata ingkar janji. Ia tetap menyengat katak, karena hal itu sudah menjadi perangai dasarnya yang tidak dapat dihindari olehnya, meskipun ia sudah tahu apa akibat yang akan ikut menimpanya.

Maka ketika di ujung film si pengemudi tetap memakai jaket bergambar kalajengking dan mengemudikan mobilnya bergerak menjauhi Irene dan Benicio, ia bukan hanya memilih tetap misterius, tapi juga menyadari perangai aslinya.

Artikel ini dimuat di Cinema Poetica pada 2 Januari 2012.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s