Sang Penari: Pertanggungjawaban Moral Sineas Pasca Orde Baru

 

Gelap. Terdengar suara tak jelas. Pelan. Lirih. Namun lama-kelamaan semakin nyata, ternyata suara lenguhan orang. Kreeek. Sebuah daun pintu tiba-tiba terbuka. Sinar putih menyeruak terang, membentuk siluet dua pria berbaju tentara yang berdiri di depan pintu. Seorang menutup hidungnya, sedangkan yang seorang lagi menyorongkan cahaya senternya ke berbagai arah dalam kegelapan. Ia mencari sebuah wajah di tengah-tengah sumber bunyi lenguhan itu: puluhan orang yang ketakutan dan berjongkok menjejali ruangan sempit-pengap sambil memegangi kepalanya.

Wajah yang dicari tak tampak. Braaak! Pintu ditutup kembali. Gelap.

Dibuka dengan adegan pendek yang mencekam seperti itu, film Sang Penari seolah langsung berteriak lantang mewakili keputusasaan puluhan orang yang ketakutan tadi. Ia mematri kesan di dalam benak dan hati bahwa film ini menyimpan sesuatu yang tragis. Pilihan sutradara Ifa Isfansyah pada adegan pembuka tersebut memang patut diacungi jempol. Efeknya luar biasa. Bukan karena hanya menaruh pijakan tentang apa yang selanjutnya terjadi selama 109 menit ke depan, seperti yang dirumuskan oleh berbagai teori penceritaan, tapi karena, yang terutama, adegan ini mampu menghantui kita secara emosional.

Kata kerja ‘menghantui’ memang akan berfungsi dengan baik jika yang dihantui memiliki rasa takut. Pun tentu jika asal-usul dan perawakan hantu itu sendiri mesti menyeramkan atau dipenuhi misteri. Dalam Sang Penari, ‘hantu’ itu adalah huru-hara politik pada tahun 1965 yang berujung pada tragedi kemanusiaan di berbagai pelosok negeri.

Misteri hantu masa lalu itu memang belum terkuak benar. Semua masih samar-samar. Namun perlahan yang ditutup-tutupi mulai muncul ke permukaan. Seperti tulang-belulang manusia yang menyembul keluar dari pasir Pantai Rening, Desa Baluk, Bali akibat abrasi pada Juni lalu. Masyarakat sekitar meyakini tulang-belulang itu adalah milik para korban pembunuhan massal dari peristiwa 1965. Kini dengan berani, kisah Sang Penari, yang terinspirasi dari novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, menceritakan tragedi kemanusiaan itu dari sudut pandang para korban di Dukuh Paruk, sebuah kampung fiktif di pelosok Jawa Tengah pada masa kelam negeri ini.

Nasib Srintil (Prisia Nasution) paling nestapa. Sejak kecil, ia sudah ditinggal orangtuanya, Santayib dan istri, yang meninggal secara tragis di hari penuh malapetaka bagi Dukuh Paruk. Pada hari nahas itu belasan warga tewas karena keracunan tempe bongkrek buatan Santayib. Salah satu yang meninggal termasuk ronggeng Surti (diperankan sekilas oleh Happy Salma). Sejak saat itu, Dukuh Paruh tak mempunyai ronggeng. Padahal, ronggeng adalah nyawa, kebanggaan, dan harta berharga bagi warga dukuh yang melarat dan buta huruf ini. Bukan Dukuh Paruk namanya jika tak memiliki ronggeng.

Srintil yang telah tumbuh dewasa lalu ingin menjadi ronggeng. Ia hendak berbakti pada moyang Ki Secamenggala dan mengembalikan martabat Dukuh Paruk sekaligus membersihkan nama baik orangtuanya. Sakarya (Landung Simatupang), kakeknya sekaligus tetua Dukuh Paruk, dan Sakum (Hendro Djarot) si penabuh gendang pun menyakini Srintil telah dirasuki indang ronggeng. Namun dukun ronggeng Kartareja (Slamet Rahardjo Jarot) tak mempercayai omongan Sakarya.

Sampai akhirnya, Srintil menerima sebuah keris kecil dari Rasus  (Oka Antara). Keris itu adalah pusaka para ronggeng Dukuh Paruk yang telah hilang bertahun-tahun sejak malapetaka tempe bongkrek. “Srintil dipilih menjadi ronggeng,” kata Kertareja, yang akhirnya percaya. Mulai saat itu, Srintil menjalani ritual untuk menjadi ronggeng, termasuk bukak klambu, prosesi di mana pria yang mampu membayar satu ringgit emas kepada Kertareja berhak mendapatkan keperawanan Srintil.

Sebagai teman akrab sedari kecil, di dalam diri Rasus dan Srintil sebenarnya sudah berkembang perasaan sayang. Tapi karena tak rela Srintil menjalani bukak klambu, Rasus minggat dari Dukuh Paruh dan bekerja sebagai pesuruh di Markas Tentara Angkatan Darat. Oleh Sersan Binsar Harahap (Tio Pakusadewo), ia direkrut menjadi prajurit dan diajari baca tulis. Di sela-sela itu, hadir Bakar (Lukman Sardi), anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) yang giat mendekati para warga miskin Dukuh Paruk dengan tujuan ingin memperbaiki kesejahteraan hidup mereka. Bahkan ia membelikan peralatan panggung dan atribut, serta berhasil membujuk Kartareja untuk mengubah nama Ronggeng Dukuh Paruk menjadi Ronggeng Rakyat. Resmi sudah, Dukuh Paruk dianggap “merah” oleh militer. Lalu, terjadilah peristiwa pada 30 September 1965. Tak lama, Dukuh Paruk pun digeruduk.

Dengan naratif seperti ini, bisa dibilang Sang Penari menjadi film yang langka karena mengangkat derita para korban peristiwa politik tahun 1965 secara gamblang. Dalam catatan Krishna Sen (1994), selama Orde Baru berkuasa, minat para pembuat film terhadap tema peristiwa 1965 surut. Ini disebabkan karena sikap pemerintah  yang sensitif akan interpretasi yang keliru atas peristiwa tersebut. Pada rentang masa kekuasaan Orde Baru, hanya film Pengkhianatan G-30-S/PKI (Arifin C. Noer, 1982), produksi Perusahaan Film Negara (PFN), yang bercerita soal kudeta pada 30 September 1965. Kepala PFN G. Dwipayana saat itu menegaskan bahwa tema ini hanya boleh difilmkan dengan pengawasan ketat pemerintah. Itu pun tentu dengan narasi propaganda ideologi yang kental dari pemerintah Orde Baru.

Pasca reformasi, ada film Pasir Berbisik (Nan T. Achnas, 2001), Gie (Riri Riza, 2004), dan Lentera Merah (Hanung Bramantyo, 2006) yang menaruh peristiwa tahun 1965 itu sebagai latar. Namun tak ada yang secara terang-terangan menggambarkan dampak politik rezim Orde Baru, yang membentuk aksi brutal kepada warga miskin tertuduh simpatisan PKI. Sang Penari, terutama melalui sudut pandang Srintil dan Rasus, mampu memperlihatkan kekejian itu. Bahkan berani menampilkan adegan pembunuhan orang-orang atau para simpatisan yang dituduh terlibat PKI, meskipun dengan cahaya yang temaram. Pada malam hari di pinggir sungai mereka dibariskan, lalu dibunuh, dan mayatnya dibuang begitu saja ke sungai.

Seperti yang dikatakan Syd Field, pakar penulisan skenario, bahwa karakter adalah sebuah cara pandang dalam menafsirkan dunia. Sang Penari tampak memegang erat formula itu. Maka Srintil dan Rasus pun menjadi mata untuk melihat dampak peristiwa 1965 terhadap kehidupan masyarakat miskin di pelosok daerah pada saat itu, yang sebenarnya tak paham apa-apa soal pertarungan politik dan ideologi. Hasilnya, naratif fokus pada kehidupan masyarakat Dukuh Paruk yang diikat oleh pertautan emosi antara Srintil dengan Rasus. Tidak heran muncul persoalan jarak antara Dukuh Paruk dengan ‘dunia’ luar, yang membuat Dukuh Paruk yang mistis, terbelakang dan tak kenal agama itu tidak tampak terasing.

Namun dengan didukung oleh mata kamera Yadi Sugandi yang menari ke sana ke mari demi menangkap emosi para pemainnya dan pengadegan dari Ifa, yang juga menulis skenarionya bersama Salman Aristo dan produser Shanty Harmayn, isi Dukuh Paruk tersaji secara mendetail. Mulai dari wujud mistisisme Jawa,  sampai tradisi ronggeng itu sendiri bagi Dukuh paruk yang merupakan wujud bakti kepada leluhur. Tampak di film ini bahwa seksualitas yang ditawarkan oleh ronggeng bukan untuk diperjualbelikan semata, tapi diam-diam juga menyimpan kendali untuk menguasai wilayah privat, seperti ego lelaki dan keharmonisan rumah tangga orang lain, sampai ke wilayah sosial, yaitu kehidupan Dukuh Paruk dan sekitarnya.

Dalam tulisannya, Tanpa Dicitakan, Saya Jadi Pengarang (2003), Ahmad Tohari mengatakan bahwa novel Ronggeng Dukuh Paruk merupakan bentuk pertanggungjawaban moralnya sebagai pengarang terhadap tragedi besar yang terjadi pada tahun 1965. Dan kini, disadari maupun tidak, para pembuat Sang Penari, yang merupakan bagian dari generasi pasca Orde Baru, juga telah memberikan pertanggungjawaban moralnya.

 

Artikel ini adalah versi lengkap dari yang terbit di Harian Pikiran Rakyat Bandung pada 13 November 2011.

Advertisements

2 thoughts on “Sang Penari: Pertanggungjawaban Moral Sineas Pasca Orde Baru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s