Jujurnya Sudut Muram Kota

 

Wajah sebuah kota besar seringkali terwakili oleh berbagai riasan untuk menguatkan citra modernnya. Mulai dari pusat perbelanjaan sebagai arena gaya hidup kosmopolit, atau gedung-gedung pencakar langit yang cahaya gemerlapnya pada malam hari ikut mempercantik lanskap kota. Namun semua itu tampilan di permukaannya saja. Sebab di dalam setiap kota pasti memiliki subsistem yang mendorong laju kehidupan masyarakatnya. Dan banyak dari wilayah subsistem ini yang tak cocok berdampingan dengan arsitektur modern kota, karena bercahaya redup, kumuh, reot, dan disesaki kriminalitas. Wajah yang kontras atas modernitas, tapi sebetulnya juga ikut menopangnya.

Tak banyak film Indonesia pasca 1998 yang mampu menghidupkan wilayah subsistem kota beserta segala aspek kehidupan yang muram secara intens. Setelah ELIana, eliANA (Riri Riza, 2002), kini giliran Lovely Man yang berani masuk dalam-dalam ke wilayah pinggiran di Jakarta dan menghidupkannya. Yang patut dipuji, Teddy Soeriaatmadja, sutradara dan penulis skenario dari film yang membuka ajang Q Film Festival 2011 lalu ini, bukan sedang menjelajahi gang-gang sempit dan sudut-sudut kusam Jakarta dengan memakai sudut pandang seorang turis dari kelas menengah atas semata. Tapi, Teddy justru mengakrabkan subjek-subjek dalam subsistem tersebut dengan penonton.

Mengakrabkan? Memangnya subjek yang diangkat oleh Teddy sebegitu asing dan berjarak dengan masyarakat kota besar? Mungkin sebagian dari kita merasa demikian, karena subjek tersebut datang dari kaum transeksual, yang sampai saat ini masih menanggung stigma buruk yang kerap ditimpakan sekelompok masyarakat. Namun tidak bagi Cahaya (Raihaanun).

Telepon genggamnya yang berdering sepanjang perjalanan menuju Jakarta tak juga dijawab Cahaya. Gadis berjilbab yang baru lulus pesantren di kampungnya memang pergi tanpa pamit kepada ibunya. Ia takut dilarang pergi. Dengan bekal sedikit uang, Cahaya nekat datang untuk pertama kalinya ke ibukota karena ingin bertemu dengan ayahnya, Syaiful (Donny Damara). Ia masih menyimpan ingatan samar-samar berisi kisah masa kecil dengan ayahnya. Cahaya terakhir kali bercengkerama dengan ayahnya ketika masih berusia 4 tahun.

Setelah rumah tangganya rusak, Syaiful langsung hijrah ke Jakarta. Meskipun begitu, ia tidak pernah alpa mengirimkan uang. Ibu Cahaya tahu dari mana uang itu berasal, dan ia memilih merahasiakannya. Tapi sudah menjadi titah alam semesta bahwa serapat-rapatnya manusia menutup rahasia, kebenaran yang ada di dalamnya pasti akan terkuak juga. Selanjutnya, apabila ternyata kenyataan yang ditutup-tutupi itu terasa sangat pahit, maka pilihan yang tersedia bagi si pembongkar kotak rahasia itu cuma dua: menerima atau membuangnya.

Dihadapkan dengan kenyataan pahit yang tidak diprediksinya, Cahaya langsung balik kanan sambil menunduk dan menangis. Ia kecewa dan ingin membuang kenyataan pahit tentang ayahnya. Tapi Ipuy segera mengejarnya. Ya, Syaiful sudah berganti nama demi mengukuhkan identitas dan menuruti kata hati. Adegan pertemuan ini menjadi puncak dramatik pertama Lovely Man. Pada menit-menit berikutnya, Teddy berhasil menyuguhkan puncak dramatik  lain secara mengejutkan, baik lewat dialog antara ayah-anak ini maupun tindakan-tindakan yang dipilih mereka.

Cahaya dan Ipuy memang sama-sama menyimpan rahasia. Ada alasan mengapa Ipuy memutuskan pergi dan tak mau lagi menemui Cahaya. Isi rahasia yang disimpan Cahaya pun ternyata jauh lebih menggetirkan dan mengagetkan. Ketika semua alasan rahasia tersebut ditabrakkan oleh Teddy dalam satu adegan, terasalah bahwa Lovely Man bukan hanya berbicara secara intens tentang hubungan kasih sayang yang hilang dari ayah-anak, tapi juga menyentil sifat hipkorit masyarakat perkotaan di mana saja, bukan cuma di Jakarta.

Pilihan-pilihan rumit yang diambil oleh Cahaya dan Ipuy menunjukkan karakter mereka yang kompleks. Alhasil, semua yang terjadi dalam film ini tampak manusiawi, masuk akal, dan tidak mengada-ada. Film ini menuturkannya secara jujur dan berusaha menjauh dari ciri-ciri sifat hipokrit. Efek yang ditimbulkan dari dialog-dialog antara Cahaya dan Ipuy membuktikan hal tersebut. Sesekali gaya bicara dan sikap ketus Ipuy terhadap Cahaya melahirkan kelucuan, tapi berbarengan dengan itu empati pun datang karena ditimpali oleh ketulusan sikap dan rasa cinta Cahaya terhadap ayahnya. Untuk itu, pujian harus diberikan kepada kedua pemerannya. Karena yang terlihat di layar adalah Cahaya dan Ipuy, bukan lagi Donny Damara dan Raihaanun.

Cara Teddy dalam menampilkan wajah Jakarta juga tak ingin berpura-pura atau hipokrit. Setidaknya ini paling terlihat dari tak banyaknya lokasi-lokasi yang menjadi latar di film ini, tapi tetap mewakili wilayah subsistem pinggiran Jakarta, seperti rumah susun, jalanan Jakarta malam hari, gang-gang sempit, warung makan padang, mini market, halte Trans Jakarta, interior gerbong kereta lengkap dengan kaca jendelanya yang retak, dan stasiun kereta api. Dari pilihan lokasinya ini, boleh dibilang Lovely Man masuk ke dalam jenis film neorealis.

Ciri-ciri film neorealis memang ada di dalam Lovely Man. Mulai dari diangkatnya subjek dan perilaku keseharian dari masyarakat marjinal perkotaan, bagaimana cara pembuat film masuk ke dalam kehidupan subjek untuk memfilmkannya, sikap atau pandangan pembuat film terhadap isu yang diangkatnya, mengelak dari aspek-aspek mise-en-scène (desain latar, properti, kostum), dipakainya pencahayaan yang alami, sampai gerak kamera yang bergaya dokumenter.

Berbeda dengan yang dilakukan Teddy dalam film-film sebelumnya, seperti Banyu Biru (2005), Ruang (2006), Badai Pasti Berlalu (2007), Namaku Dick (2008), dan Ruma Maida (2009), kali ia menyajikan realitas tanpa dibebani untuk menciptakan keindahan yang estetik. Walaupun kontruksi realitas dalam Lovely Man sempat tak ajeg akibat editing pada satu sekuens di bagian akhir yang mengorbankan logika yang terjadi di dunia nyata, tapi kelemahan itu diredam oleh sifat medium film itu sendiri yang larger than life.

Pada akhirnya, Lovely Man mampu menampilkan realisme dari sebuah kota yang lengkap dengan spiritual vitality-nya, karena film ini bukan hanya memuat lanskap fisik kota dengan identitas yang abstrak, tapi juga yang berupa aktivitas, kisah-kisah, dan problem sosial masyarakat di dalam kota tersebut.

 

*Artikel ini versi lengkap dari yang dimuat di Pikiran Rakyat edisi 9 Oktober 2011.

Advertisements

3 thoughts on “Jujurnya Sudut Muram Kota

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s