Kisah Tentara di Tepi Batas Republik

Film, militer, dan patriotisme punya kaitan sejarah sejak lama yang dihubungkan oleh satu benang merah: propaganda. Dulu Jerman sukses berpropaganda lewat film pada 1930-an. Saat itu, Menteri Propaganda Joseph Goebbels membangun industri film Jerman guna menyebarkan superioritas ras Arya, kemenangan perang yang akan diraih, dan nilai-nilai kepahlawanan kepada warga negaranya. Salah satu film propagandanya yang terkenal The Eternal Jew atau Der Ewige Jude (Dr. Franz Hippler, 1940) bertutur tentang pengaruh perilaku dan tradisi buruk bangsa Yahudi terhadap Jerman. Ada juga Bismarck (1940), film sejarah yang berkisah tentang para pemimpin awal bangsa Jerman.

Departemen Pertahanan Amerika Serikat pun tentu tak ketinggalan berpropaganda. Melalui kerja sama dengan industri film Amerika Serikat, banyak film perang yang diproduksi untuk menyuarakan patriotisme dan nasionalisme. Rambo: First Blood Part II (George P. Cosmatos, 1985) salah satu contohnya. Di Indonesia, propaganda dalam film juga dilakukan rezim Orde Baru, seperti Serangan Fajar (1981) dan Pengkhianatan G-30-S PKI (1982). Dua karya Arifin C. Noer ini dibiayai oleh pemerintah lewat Pusat Produksi Film Negara (PPFN) untuk melanggengkan kekuasaan dengan menanamkan ketakutan terhadap paham komunisme ke masyarakat.

Film kedua karya Agung Sentausa, Badai di Ujung Negeri, jelas menampakkan ciri-ciri propaganda tersebut. Meskipun memang propaganda di film ini ini tidak bertendensi untuk mempopulerkan kekuasaan politik pemerintah, seperti yang tampak pada film-film tentang militer saat Orde Baru berkuasa. Namun Andrus Roestam Moenaf, Direktur Utama PT. Quanta Pictures yang memproduksi film ini, mengakui bahwa ide awal pembuatan film datang dari Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro yang ingin berkomunikasi kepada masyarakat demi menumbuhkan kecintaan dan patriotisme terhadap negara.

Cerita film ini berporos pada dua tokoh utamanya, Badai (Arifin Putra) dan Joko (Yama Carlos). Keduanya merupakan perwira pertama TNI Angkatan Laut (AL) yang bertugas di pulau dekat perbatasan  di Laut China Selatan. Hubungan persahabatan mereka retak sejak Nugi, adik Joko, tewas tenggelam di laut. Badai dianggap Joko sebagai penyebab atas peristiwa naas itu. Sampai akhirnya kedua sahabat lama ini bertemu kembali untuk mengusut penyebab adanya sesosok mayat tak dikenal di pulau itu.

Intuisi Badai mencium adanya ketidakwajaran dalam kematian mayat itu. Maklum jika Badai meyakini intuisinya, karena ia sudah lama ditugaskan di kepulauan terpencil tersebut, sehingga merasa tahu kehidupan masyarakat di sana.  Lagipula, kata Badai, masyarakat di pulau itu telah memandang kehadiran tentara secara skeptis. Seperti kata dokter Yana (Ida Leman) dengan sinis, tentara baru membantu masyarakat di sana kalau sudah ada masalah. Memang bagi masyarakat di sana, tentara cuma menambah masalah saja. Joko, yang selalu bersikap sinis terhadap Badai sejak tenggelamnya Nugi, tak percaya pada intuisi sahabatnya itu. Ia lebih percaya penyelidikan demi mengungkap fakta dan data.

“Kita tidak boleh terlalu percaya pada Pak Piter,” ujar Badai yang kembali mengandalkan intuisinya. Piter (Jojon) adalah tokoh kaya yang disegani karena sudah banyak membantu kehidupan masyarakat di sana. Rasa curiga Badai terhadap Piter semakin mencuat saat ia dan Joko Dika tanpa sengaja menemukan mayat Dika, anak Nadim, si nelayan yang juga sahabat Badai, kemudian ditembaki oleh sekelompok orang. Tapi Badai tak sendirian. Annisa (Astrid Tiar), gadis yang ditaksir Badai, pun mulai menatap curiga kepada Piter. Penemuan mayat Dika menambah rasa skeptis dan tak percaya masyarakat terhadap tentara.

Dan dari info-info yang dikumpulkan oleh tim Badai di lapangan terkuaklah soal penyeludupan senjata. Mereka juga menemukan lokasi markas komplotan yang diyakini bertanggungjawab atas adanya dua mayat. Tensi ketegangan lalu menanjak saat Annisa hilang diculik orang-orang tak dikenal. Intuisi Badai rupanya benar. Bukan cuma menculik Annisa, Piter dan komplotannya ternyata berencana membajak kapal tanker dan akan meminta tebusan jutaan dolar kepada pemerintah Indonesia.

Tampak kentara bahwa isu-isu sosial dan keamanan yang kerap kali kita dengar dari beberapa wilayah perbatasan negeri ini dimanfaatkan sebagai latar cerita Badai di Ujung Negeri. Strategi cerita ini dipakai untuk melancarkan upaya menumbuhkan kecintaan dan patriotisme dengan cara mendekatkan realita di lapangan dalam naratif fiksi film ini. Namun agaknya pembuat film terlalu bersemangat dalam memasukkan segala realita pedih yang dialami TNI AL tanpa memprediksi efek yang bakal ditimbulkannya kepada penonton.

Dalam film ini bertebaran berbagai pernyataan tentang penyebab tak maksimalnya upaya TNI AL dalam menjaga perbatasan. Baik dalam wujud dialog seperti sedikitnya stok bahan bakar milik patroli TNI AL atau kondisi kapal yang sudah tua, maupun adegan yang memperlihatkan senjata tentara yang kalah bagus dengan milik komplotan Piter. Dengan adanya penjabaran berbagai realita itu, alih-alih menumbuhkan rasa cinta terhadap tanah air, justru yang kental terasa adalah pembelaan diri pihak TNI tentang mengapa proteksi terhadap wilayah perbatasan bisa kendur, sekalipun alasan-alasan yang diutarakan dalam film ini memang benar.

Padahal, film ini sebetulnya masuk dalam kategori classical narrative cinema yang bertujuan untuk memaparkan cerita secara jelas, bukan malah mengaburkannya. Ciri-ciri classical narrative cinema, antara lain struktur cerita yang dimulai dengan situasi teratur dan harmonis, lalu berubah menjadi kacau karena suatu kejadian, dan ditutup dengan kondisi yang pasti harmonis lagi. Ciri utama lainnya adalah plot yang digerakkan oleh karakter para tokoh, karena mereka memiliki motivasi yang psikologis. Selain itu, subplot kisah cinta antara dua tokoh utamanya juga terdapat dalam classical narrative cinema. Film Badai di Ujung Negeri jelas memuat semua ciri itu.

Sulit ditampik, meskipun ikut melahirkan dramatisasi, tapi penjabaran realita pedih yang dialami TNI AL dalam film ini malah mengaburkan plot utama dan niatan film ini, serta ketegangan cerita aksi ini. Belum lagi pemakaian cross-cutting dalam editing film ini pada sekuens akhir yang justru mengacaukan unsur suspense, karena juktaposisi yang tidak tepat antara dua adegan di lokasi berbeda. Bagaimanapun classical narrative cinema harus mampu membangun reka-percaya (make believe), dan kelemahan aspek-aspek naratif tadi justru menunjukkan ketidakmampuannya.

Namun bagusnya Agung Sentausa menyajikan semua gambar dengan warna-warna monokrom demi mendukung penuturan cerita film ini. Tujuannya jelas, yakni untuk mendukung kehadiran sikap skeptis masyarakat terhadap tentara dan nuansa suspense cerita. Pilihan sinematografi ini patut diapresiasi, karena sebetulnya ‘melanggar’ ketentuan classical narrative cinema yang harus mengedepankan naratif ketimbang gaya sinematografi. Pilihan sinematografi Agung ini jelas sudah menyelamatkan Badai di Ujung Negeri.

 

*Artikel ini dimuat di Harian Pikiran Rakyat edisi 2 Oktober 2011.

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Kisah Tentara di Tepi Batas Republik

  1. Pola umum naratif: harmoni – chaos – harmoni itu rasanya sering dimanfaatkan oleh yang ingin menegakkan ketertiban at all cost bukan ya? Konon kalau di asalnya, pola harmoni-chaos-harmoni lebih cenderung ke arah “kesetimbangan lama – chaos/dinamika – kesetimbangan baru” yang artinya menunjukkan ada semacam hasil baru yang ingin dicapai dari proses yang “chaotic” tersebut. Tapi di film-film era Orde Baru (entah kata Sen atau Haider, lupa ;p), beratnya lebih ke harmoni – chaos – harmoni yang bentuknya kembali ke status quo. CMIIW, of course. “Badai” ini mengulangi pola itu atau lebih menerima ada sesuatu yang baru?

    1. Asal-muasal pola naratif ini dari melodrama dalam sinema Eropa dan Amerika pada masa-masa awalnya kan. Dalam cerita dengan pola seperti ini, kekacauan (chaos) biasanya menerpa kehidupan rumah tangga atau lingkungan sekitar. Dari yg gw baca (tsah jadi baca2 buku teori lagi gara2 mau jawab komen lo :p), pola ini sering dipake dalam film2 Hollywood tahun 1930-1960an. Menurut gw sih, kalau pada akhirnya pola ini dipakai demi menegakkan ketertiban at all cost, itu lanjutannya aja dari ‘tradisi’ sinema ini. Jadi bukan karena fungsi aslinya seperti itu. Mungkin pola ini akhirnya dianggap tepat dipakai dalam film2 yang bertujuan menciptakan harmoni. Yaa, buktinya film2 yang diproduksi Orde Baru umumnya pakai pola ini kan, seperti yang ditunjukkin sama Krishna Sen.

      Tentang hasil baru yang ingin dicapai dari proses ‘chaotic’ itu, emang sesuai dengan pakem classical narrative cinema, yang mengharuskan adanya closure yang pasti, entah itu keseimbangan yang bener2 baru atau emang status quo kayak yang ditunjukkin Krishna Sen. Dan, apapun bentuk closure itu, isinya akan mengejawantahkan dari ideologi yang dominan. Nah soal Badai, gw pikir masih termasuk dengan apa yang dimaksud sama Krishna Sen. Harmoni dalam cerita Badai lebih condong ke status quo. Kayak film2 propaganda zaman Orba gitu. Meski memang sifat propaganda dan status quo di Badai bukan kayak, misalnya, di Janur Kuning atau Pengkhianatan G30 S PKI yang bener2 untuk melanggengkan kekuasaan Orba.

      Uniknya, kekacauan di masyarakat dalam cerita Badai sendiri akibat ketidakpercayaan masyarakat terhadap militer yang sudah mengakar, lalu diperparah dengan kehadiran bajak laut. Tapi kehadiran bajak laut di sini pada akhirnya berperan membantu membalikkan kepercayaan masyarakat di sana. Ending Badai yang akhirnya memilih menetap di sana dan akan nikahi Annisa, buat gw, itu menunjukkan masyarakat sudah menerima dan mempercayai militer lagi. Lagipula dari awal diperlihatkan Badai yang gak yakin tinggal di sana terus (makanya dia bimbang sama hubungannya dengan Annisa) karena masyarakat yang sinis kepada militer. Gitu, CMIIW jg lho ya. :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s